
"Mamah!" panggil Dinia
Bia sampai mundur beberapa langkah mencium bau tubuh putrinya. Parfum Chan*l saja kalah. "Kamu kenapa bau begini?" tanya Bia syok.
"Salahin tuh anak pertama mamah, suruh aku bersihin toilet," protes Dinia.
"Mandi dulu sana, Nak. Mandi terus makan. Habis itu papah ingin bicara," saran Dira.
Dinia mengangguk lalu berlari ke kamarnya di lantai tiga. "Diandre, kamu juga!" tegas Dira. Diandre mengangguk. Meski nakal, kedua anak itu masih menurut pada orang tuanya.
Divan menggelengkan kepala. "Ingat, jangan protes Divan hukum mereka begitu. Bukannya papah dan mamah bilang terserah Divan." Ia menyandarkan kepala di bahu ibunya. Seberapa tegar dan galaknya seorang pria, tetap manja di depan ibunya.
"Mah, Divan nikah muda boleh gak?" tanya Divan sambil mendongak menatap wajah Bia.
Dira terkekeh. Ini bukan pertama kalinya putranya itu meminta izin menikah. "Memang gak bisa menunggu sampai kamu lulus S2? Kamu masih ingat gak saat papah kamu kuliah S2 sambil gendong Diandre di kelas?"
"Lha, itu papah sudah punya anak tiga. Divan lulus S2 tahun depan. Mana sempat bikin anak tiga?" kilahnya.
"Ada malah yang sekali hamil anaknya dua belas," celetuk Dira.
Divan meliriknya tajam. "Papah alasan saja supaya Divan gak nikah, nih. Kan ada Diandre sama Dinia, kehilang Divan satu saja gak apa-apa kali?"
"Coba mamah tanya. Kenapa kamu ingin cepat nikah?"
Divan berpikir. "Takut dia keburu nikah dengan orang lain. Mau gak mau Divan harus cepat-cepat deketin dia. Mamah tahu gak, selama ini Divan gak pernah dekat sama perempuan manapun. Divan mau dia," tegas Divan.
"Bucin!" Diandre datang langsung duduk di atas sofa. Rambutnya basah dan pakaiannya sudah berganti.
"Mandi apa nyemplung kamu?" ledek Divan.
Diandre duduk di samping Dira. Lain dengan Divan yang manja bersandar pada ibunya, Diandre malah bersandar pada Dira. "Ngapain mandi lama? Gini saja sudah ganteng, kalau lama-lama cewek sedunia ngejar-ngejar aku. Soalnya aku malingย ... eh maling hati mereka!"
Dira mengusap wajah anaknya. "Kamu itu, perempuan zaman sekarang suka yang pasti-pasti. Kalau kamu kerjaan di sekolah buat masalah, bagaimana bisa jalani rumah tangga?"
"Itu sekolahnya saja yang berlebihan. Masalahnya cuman apa, sih? Lempar sepatu orang ke pohon, nanti juga Diandre ganti," ucapnya enteng.
"Coba nanti kamu lempar sepatu kamu sendiri terus pulang tanpa pakai alas kaki," saran Dira.
Diandre terperanjat. "Mana bisa. Sakit kakiku," protesnya.
"Nah, kamu sendiri saja gak mau jalan gak pakai sepatu, apalagi teman kamu. Posisikan diri kamu jadi dia, Yan. Kalau kamu pulang gak pakai sepatu, rasanya gimana?" omel Divan.
Ia sempat menelpon pihak sekolah tadi. Ketika Bia menanyakan alasan Diandre melempar sepatu temannya, Bia tak mendapat jawaban pasti. Ini yang selalu membuat Bia kecewa. Anak-anaknya memang selalu dicap nakal, tapi tak ada yang bertanya mengapa mereka berbuat demikian.
"Yacob bakar buku Edwin. Padahal itu buku pelajaran. Diandre sudah kasih peringatan supaya dia ganti dengan mencatat ulang, dia malah ngajak Diandre berantem. Ya sudah, Diandre habisin saja," jelas anak itu.
"Korban Diandre itu selalu anak-anak nakal yang mengganggu temannya. Mamah pernah bertemu teman sekolah Diandre, rata-rata anak yang kurang gaul semua baik padanya," jelas Bia.
"Serba salah Diandre itu, kalau dibiarkan mereka semena-mena. Kalau dilawan, malah aku yang kena hukuman," protes Diandre.
"Terus adik perempuan kamu kenapa?" tegur Divan.
"Dia sama-sama anak geng di kelas satu. Katanya sering ngunciin anak cupu di toilet. Makanya Dinia kerjai," timpal Diandre.
Divan menatap Bia. "Kalau tahu adikku gak salah, kenapa mamah sama papah malah suruh aku hukum mereka?"
"Karena kami gak tega," celetuk Dira.
"Harusnya kamu bisa jelasin, Yan. Terutama sama pihak sekolah. Biar kalau mereka gak mau kamu bertindak, mereka yang atasi masalah begini. Bullying itu masalah berat," nasehat Divan.
Diandre menggeleng. "Begini, kak. Bullying kenapa selalu ada, Diandre pikir karena rasa empati yang kurang. Kalau cuman dapat hukuman dari sekolah, mereka gak akan kapok. Kecuali mereka jadi korban bullying itu sendiri," tegas Diandre.
"Pikiran kamu terdengar bego, tapi keren!" puji Divan.
Dinia tiba dengan baju yang sudah berganti dengan piyama. Ia makan sepiring salad dengan kentang rebus. "Kamu makan itu lagi? Makan yang benar, sayang." Bia mengusap rambut putrinya.
Dinia menggeleng. "Nanti gendut, mah. Ini sudah malam, harus makan yang tidak berlemak," jawabnya.
"Berat badan kamu padahal gak ada masalah," komentar Dira.
"Habis Diandre tuh ngatain aku jomlo terus," protes Dinia.
"Ya jomlo itu kan orang yang gak punya pacar. Kamu punyanya teman tapi mesra bukan pacar, jadi masih kehitung jomlo," tegas Diandre.
"Gimana lagi, habis Reynold gak nembak juga. Gak pernah nyatain perasaannya," protes Dinia.
"Tinggalin!" tegas Dira, Divan dan Diandre barengan. Bia hanya bisa terkekeh melihat putrinya manyun.
๐๐๐