
"Mbe rengsek kamu! Teganya bikin anakku kayak gitu!" maki Bia. Ia sampai menjambak rambut Zayn.
Dira sama kaget, ia sama sekali tak sadar kapan istrinya datang ke ruangan itu. "Aku gak terima! Kamu bikin anakku nangis sampai serak! Sini kamu!" bentak Bia karena Zayn melepaskan diri dan berlari ke sudut ruangan.
Dira berdiri dan meraih istrinya. "Sabar, mah," saran Dira.
"Gak ada! Kamu lagi! Anak kamu digituin harusnya kamu tonjok mulutnya biar gak sembarang ngomong!" kali ini giliran Dira yang kena semprot.
"Ini juga lagi diselesaikan, mah. Malu dilihat orang nanti," saran Dira. Sayangnya ia kaget karena Bia mendadak mendorongnya dan melepaskan diri. Ia mengejar Zayn sampai ke sudut ruangan dan menarik pria itu lalu memukulinya.
"Aku besarin dia susah payah, kamu malah nyakitin pakai mulut kamu yang seperti perempuan itu! Gak ada hati kamu! Cih, gak sudi aku nikah sama kamu! Suamiku lebih ganteng ke mana-mana!" omel Bia.
Dira masih berusaha meraih istrinya meski ia juga kena pukul. Kepala sekolah sendiri bingung antara ingin melerai apa tertawa mendengar ucapan Bia. Zayn berlari keluar. Di pintu ia bertemu dengan ibunya dan bersembunyi di belakang punggung ibunya.
"Jangan pengecut kamu! Keluar sini," tantang Bia. Syukur Dira meraih dan memeluk pinggangnya. Dengan sekuat tenaga, Dira menahan agar Bia tak lagi lepas.
"Ya ampun, ada apa ini? Kenapa kamu kasar sekali? Menyesal saya pernah suka sama kamu," keluh ibunya Zayn.
Bia tertawa sinis. Wajahnya masih memerah dan otot-ototnya masih menegang. "Siapa juga yang mau sama anak Tante? Dari kemarin juga gak mau! Tante saja kepedean!" umpat Bia.
"Hush ...." Dira mengusap rambut Bia.
"Heh, jaga ya kalau ngomong sama orang tua, gak punya sopan santun kamu itu!" Ibu Zayn ikut-ikutan mengomel.
"Tante juga mulutnya belajar lagi sana! Gak punya sopan santun ngomong sampai nyakitin anak kecil. Dari dulu selalu belain Zayn, tahu anaknya salah! Makanya anak tante itu gak mandiri, sudah gede masih saja jadi anak mamah!" maki Bia.
Dira sadar selama ada di sana, emosi istrinya tak akan turun juga. Lekas Dira menggendong Bia keluar ruang kepala sekolah.
Ibu Zayn mengusap dada. "Jangan mau kamu sama perempuan kayak gitu!" omel wanita tua itu. Zayn mengangguk-angguk.
Sementara itu, kaki dan tangan Bia terus meronta-ronta minta diturunkan. "Lepas, aku belum selesai kasih dia perhitungan!" pinta Bia.
Dira menurunkan Bia. Ia pegang bahu istrinya lalu ia tatap dalam-dalam mata Bia. "Sudah, stop! Aku tahu kamu marah, tapi bukan artinya hilang kendali. Ini sekolah, anak-anak ada di sini. Nanti mereka lihat, oke?" ucap Dira menyadarkan Bia.
Napas Bia mulai menurun. Ia tenangkan dirinya. Bia menutup mata sejenak. "Maaf, aku lupa," ucap Bia mulai tenang.
Dira memeluk istrinya lalu menepuk punggung Bia. "Gak apa, aku yang salah. Harusnya aku bahas ini setelah Divan benar-benar tenang. Sekarang kita pulang dulu, kita ambil keputusan dengan kepala dingin," saran Dira. Ia tuntun istrinya menuju mobil.
Dira bisa melihat Diandre dan Divan sedang mengintip dari balik kaca mobil. Sopir mereka masih duduk di kursi kemudi untuk menunggui kedua anak itu. Dira membuka pintu mobil bagian belakang. Ia gendong Diandre juga Divan.
"Pak, pulang duluan. Biar anak-anak sama Bia pulang bareng aku," saran Dira. Sopirnya mengangguk. Bia menutup pintu mobil itu dan berjalan mengikuti Dira ke mobil milik Dira.
Sempat kedua pasangan itu melirik ke arah ruang kepala sekolah. Tak ada niat pamitan, mereka langsung masuk ke mobil. Bia duduk di kursi belakang bersama Divan dan Diandre. Sementara Dira yang mengemudikan mobilnya.
Mobil itu meninggalkan parkiran. Dari spion, Dira sempat melirik istrinya. Divan memeluk Bia dengan erat sekali. "Kak, coba lihat! Di mobil ada siapa?" tanya Dira.
Divan sesegukan. "Ada diande, mamah, papah," jawab Divan.
"Ada mamah, papah, Divan, Diandre juga," jawab Divan. Ia turun dari kursi lalu memeluk Dira dari belakang. "Papah gak pergi lagi, ya? Divan gak ganti papah, ya?" pinta Divan.
Dira menarik napas. Sudah ia duga apa yang membuat Divan histeris. Ia pikir kalau papahnya diganti orang lain, maka Dira akan pergi lagi. "Papah Divan namanya siapa?" tanya Dira.
"Dira Gavin Kenan," jawab Divan meski masih terisak.
"Selamanya begitu. Papah Divan selalu Dira Gavin Kenan," tegas Dira. Divan mengangguk. Terasa lega anak itu sekarang.
"Divan gak mau papah baru," keluh Divan.
Bia tertawa. "Mamah juga gak mau suami baru. Nanti kalau mamah punya anak lagi, gak akan seganteng Divan sama Diandre, donk!" celetuk Bia.
Divan mengangguk. "Iya, Papah Dira ganteng. Lain lagi gak," tegas Divan.
🍁🍁🍁
AKU MAU PROMO DIKIT 😁
JUDUL : MANTAN DALAM KENANGAN
AUTHOR : ELARA_MURAKO
PLATFORM : KaBeeM
Yang punya aplikasinya bantu baca dan suncribe ya? 🙏
"Tentu memaafkan orang adalah salah satu amalan. Tak baik jika harus mengungkit-ungkit masa lalu orang lain. Hanya, untuk menikah ...." Yuna berpikir sejenak. Tiba-tiba terbersit sebuah pertanyaan dalam pikiran Yuna.
"Yakinkan aku dengan satu jawaban. Apa yang kamu cari dari pernikahan?" tanya Yuna.
Key menunduk. Pertanyaan yang jawabannya bisa menjadi bumerang atau hadiah baginya. Hanya satu jawaban, tapi mempertaruhkan perjuangannya hingga tiba ke sini.
"Jika sulit aku jalani untuk mendapat pahala dan tanda ketaqwaan pada Allah. Jika mudah aku syukuri sebagai rasa terima kasih kepada Allah S.WT. Sesungguhnya yang aku cari dari sebuah pernikahan adalah keikhlasan," jawab Key dengan mantapnya.
"Aku bukan wanita yang pintar," ucap Yuna.
"Aku akan jadi guru untukmu," timpal Key.
"Aku miskin. Tak punya jabatan yang bisa membuatmu bangga memilikinya," tambah Yuna.
"Kekayaan yang indah adalah keimanan dan istri yang membanggakan adalah yang mendampingi suaminya dalam suka dan duka," timpal Key.
"Bagaimana bisa kamu buktikan apa yang kamu ucapkan sekarang bukan hanya sebuah perkataan?" tanya Yuna.
"Berikan aku jawaban iya. Maka aku akan buktikan dengan waktu yang kita jalani bersama." Kalimat terakhir itu membungkam Yuna.