
"Kamu inget sama Zayn?" tanya Bia malam itu sambil membersihkan wajahnya sementara Dira tengah menyusun kembali gundam miliknya yang dihancurkan Diandre.
"Temannya Nobita," jawab Dira polos.
Justru Bia malah ikut tertawa. "Iya benar. Dulu kamu sering manggil gitu ke dia," timpal Bia.
Dira melirik Bia. "Siapa, sih?" tanya Dira bingung.
Bia membuang kapas wajah ke dalam tempat sampah. "Dulu aku punya tetangga laki-laki namanya Zayn. Dulu kita sering main sama dia. Pas SMP dia pindah ke Heren," jelas Bia.
Dira ber-oh lalu menyusun kembali gundamnya. "Terus kenapa?" tanya Dira. Tangan Dira tengah memasang bagian senjata action figure itu.
"Aku ketemu dia di sekolah Divan," jawab Bia. Mendadak suara gaduh terdengar dari action figure Dira yang jatuh ke lantai dan berantakan. Bia berbalik ke arah suaminya akibat kaget.
"Kenapa diberantakin lagi?" tanya Bia. Ia berdiri dan memunguti action figure Dira yang jatuh ke lantai sementara Dira masih mematung.
"Bantu beresin, donk. Malah diem saja," protes Bia.
Dira justru mengepalkan tangan. Dalam kepala ia mulai menyalakan tombol warning. "Tahu dari mana itu dia?" tanya Dira menangkap ada hal yang salah.
"Dia ngenalin nama aku. Beda banget dia tuh, sekarang kelihatan lebih dewasa," puji Bia. Ia melirik ke arah Dira dan kaget melihat sorot tajam suaminya.
"Duh, aku lupa. Ini orang cemburuannya tingkat dewa," batin Bia. Ia peluk Dira yang manyun seakan memberi kode jika merasa ada sesuatu yang membuat dirinya tak nyaman. "Aku cuman senang ketemu teman lama. Cuman itu, kok," tekan Bia untuk memberikan suaminya pengertian.
"Terus dia bilang apa?" tanya Dira lebih dalam.
"Iya dia cuman cerita katanya istrinya meninggal jadi cuman besarin anak sendiri. Kasihan," tambah Bia
Dira tertawa sinis. "Jawab sekalian. Anak kamu dua jadi gak ada waktu kalau harus ditambah ngurus anak kamu," ucapnya pedas.
Bia menepuk lengan Dira dengan sedikit lebih keras. "Gak gitu juga. Kamu itu kenapa sih sensitif banget?"
"Wajar gak aku cemburu? Dulu saja kalau main sama dia, kamu lupa sama aku," protesnya. Dira sampai melipat tangan di depan dada dan membelakangi Bia.
Bia semakin erat memeluk suaminya dari belakang. "Iya, aku bakalan jaga perasaan kamu, kok. Kalau ketemu lagi, aku gak akan ngobrol sama dia lama-lama," janji Bia.
Bia mengangguk-angguk. Dira kalau lagi cemburu tekadnya benar-benar bulat. Bahkan dia gak pernah pulang malam lagi gara-gara Bia bilang sering nonton konser boyband Korea jadi tak masalah suami gak di rumah.
Wajah mereka berdekatan. Dira terpaku dalam kebekuan. Rindu membuncah. Dalam pikiran dia mengabsen kapan terakhir kali menumpahkan isi pipetnya di botol obat istrinya.
Sayang, baru berjarak beberapa senti meter tiba-tiba ponselnya berdering. Dira mendengus. "Baru mau mulai sudah ada aja ganggunya," keluh Dira.
Bia terkekeh. "Masih mending daripada lagi perang ada yang lewat ganggu," timpalnya. Ia mengambil ponsel Dira dari atas meja lalu memberikan pada suaminya.
"Mr. Pier," ucap Bia sambil mengintip layar ponsel Dira.
Lekas Dira mengambil ponsel itu dari tangan Bia dan mengangkat telponnya. "Dir, tonton video yang aku kirim. Ini bahaya untuk bisnis kita," ucapnya terdengar kacau.
Mendengar kata video dan kekacauan perasaan Dira merasa takut sendiri. Seingatnya video dengan Cloena sudah terhapus dan ponselnya sudah dilenyapkan.
Daripada khawatir tak jelas, Dira membuka video yang Mr. Pier kirim lewat email. Itu memang video panas, tapi bukan dirinya. Seorang gadis muda dengan pria yang lumayan berumur. Hanya wajah wanita itu Dira kenal sekali karena garis wajahnya yang mirip Bia.
"Baru jadi trainee sudah macam-macam!" omel Dira.
Bia hanya mendengar suara desahan yang sangat ia kenali berasal dari adegan apa. "Kamu malah nonton video porn*!" protes Bia saat ia melirik ke arah layar ponsel Dira.
"Bukan, loh! Perempuan ini trainee di agensiku. Belum apa-apa sudah bikin masalah," jelas Dira sambil mengacak rambut saking kesalnya. Ia mendecakan mulut. "Ini perempuan yang aku bilang mirip kamu," tambah Dira.
"Hah?" tanya Bia bingung. Ia melihat baik-baik wajah wanita dalam video itu. Meski kesal, Bia juga tak bisa menampik. "Kalau ini menyebar, aku bisa-bisa kena fitnah ini!"
Dira mengangguk. "Besok aku harus selesaikan ini. Mau tidak mau perempuan itu harus keluar dari agensi sebelum video ini keluar ke publik. Apalagi pria di video ini salah satu direktur di agensiku," keluh Dira.
Ia paling kesal jika baru akan memulai sesuatu sudah diberi hadangan. Apalagi jika itu berasal dari orang lain. Seakan memaksanya untuk berhenti sebelum memulai. "Benar-benar membuat frustrasi."
Bia hanya bisa menenangkan Dira dengan memeluknya. Pasti semalaman Dira akan bergadang untuk menyelesaikan masalah ini.
🍁🍁🍁
jam setengah 12, ya? Senin ini gak nyebelin karena masih libur. Lain lagi senin besok. Duh, anak-anak masih sekolah daring, ya? Harap bersabar ini kenyataan. Kalau pahit maklum, soalnya yang manis cuman Elara.