
Dira tahu, ia tak bisa menemukan titik terang dari masalahnya. Sampai seminggu ia tunggu, hanya sesekali papahnya bertemu Mayen dan benar selalu di sisi jalan.
Dira bahkan sampai melakukan perbuatan nekat dengan menyadap ponsel Mayen. Tak ada jawaban, bahkan cara bicara Mayen pada Ernesto tak terdengar spesial sama sekali. Hanya memelas meminta uang dengan alasan baik dia dan putrinya tak memiliki penghasilan. Cara bicaranya pun penuh penghormatan layaknya pegawai lain.
Ponsel Ceril juga tak memberi petunjuk apapun. Hanya percakapan
Dira tahu lambat laun, papahnya akan menyadari jika sedang diawasi. Sebelum itu, Dira harus memastikan kebenarannya sendiri meski harus menodong Ernesto secara langsung.
"Ada apa ini?" tanya Ernesto yang kaget karena Dira menemuinya di kantor. Biasanya kalau bukan diminta, Dira tak akan datang.
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan papah," tegas Dira.
Pintu kantor terdengar diketuk. Tak lama daunnya terbuka dan Daren keluar dari sana. "Untunglah papah ada di kantor," ucap Daren.
Ernesto semakin heran. Kedua putranya datang mencarinya. Secara bersamaan. "Aku sudah bilang tentang urusan perusahaan, itu keputusan kalian. Aku resmi mundur dari jabatan. Kenapa masih harus mencariku?"
Daren duduk di samping Dira. "Ini bukan urusan perusahaan. Ini urusan internal keluarga kita. Maaf aku tak membicarakan ini di rumah. Aku hanya ingin menjaga perasaan mamah."
Pembukaan yang membuat Ernesto sudah merasa tak enak dari awal. "Ada apa sebenarnya ini?" tanya Ernesto. Daren merasa lega karena papahnya ternyata benar-benar tak menyadari hal itu.
"Papah selingkuh, kan?" todong Daren. Mulut Dira sampai terbuka lantaran kaget dengan sikap blak-blakan kakaknya. "Atau pernah selingkuh dan sedang berusaha menutupi?"
Ernesto terkekeh. "Kamu itu punya pikiran seperti itu dari mana?" tanya Ernesto yang merasa geli dengan dugaan putranya.
Daren mengeluarkan beberapa foto dari saku jas lalu ia simpan di atas meja kerja papahnya. Kantor ini memang sudah jarang digunakan karena Ernesto sudah mundur sebagai chairman. Hanya ia sesekali datang agar tidak merasa bosan di rumah.
Ernesto tertegun melihat foto-foto itu. Tak ia sangka apa yang ia lakukan akan tercium oleh kedua putranya. "Ini bukan hal yang harus kalian tahu," tegas Ernesto. Ia mengumpulkan dan mengambil foto-foto itu.
"Kami perlu tahu, kami putra papah. Jujur, aku tak akan biarkan papah menyakiti perasaan mamah. Apalagi demi wanita yang jelas lebih cantik mamah ke mana-mana," Dira lebih tegas lagi.
Ernesto sampai tertawa mendengarnya. Ia ingin menanggapi ini sebagai hal yang serius, hanya saja anggapan kedua putranya ini benar-benar lucu.
"Begini saja, pokoknya papah tak berselingkuh. Tentang wanita ini, kalian bisa tanyakan pada Maria sendiri. Dia juga tahu. Hanya jika kalian tanya kenapa? Itu bukan urusan kalian," Ernesto mencoba menjelaskan.
"Silakan." Ekspresi wajah Ernesto terlihat tenang.
Hanya Dira tak bisa begitu saja percaya. "Apa jangan-jangan papah sudah mengancam mamah agar tutup mulut? Dira sering lihat di sinema pagi, suami selingkuh dan istrinya diancam untuk menutupi!" curiga Dira.
Ernesto menepuk jidat. "Jadi kamu sering kesiangan masuk kantor karena menonton acara seperti itu?" tegur Ernestos.
"Salahkan Bia, dia yang ajak."
Daren menyentil telinga Dira hingga pria itu menjerit kesakitan. "Pokoknya kami tak bisa memercayai papah sampai papah sendiri memberikan kebenaran. Kecuali kalau papah ingin kami menyelidiki sendiri," tegas Daren tak ingin kalah.
Terjadi jeda diantara mereka. Hening, Ernesto masih berusaha berpikir bagaimana caranya agar kedua putranya ini mengerti. "Kenan Grup adalah perusahaan milik keluarga kita yang paling berharga. Hidup kita bergantung pada perusahaan ini. Masa depan keluarga kalian ada di sini," mulai Ernesto.
Ia mengambil napas panjang. Matanya lurus menatap Dira. "Suatu hari aku pernah teledor. Salah satu berkas berhargaku hilang dan mengancam bocornya rahasia pekerjaanku. Sampai seorang pria menolongku dengan menemukan berkas itu. Ia rela berkeliling dengan berjalan kaki menelusuri tempat yang sempat aku kunjungi."
Daren dan Dira masih memasang perhatian untuk mendengar cerita itu. "Pria itu adalah suami dari Mayen, ibu dari Ceril," jawab Ernesto.
"Hutang budi?" tanya Dira mencoba merangkum. Ernesto mengangguk.
"Dia sahabatku yang paling berharga. Ia sudah pergi dan meninggalkan putrinya. Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk membayar hutang budiku dengan menjaga anak itu. Papah juga merasa terpukul dengan kasus yang dialami Ceril. Sama sekali tak menyangka demi kemewahan, ia rela melakukan perbuatan itu. Itu benar-benar membuatku merasa bersalah."
"Itu bukan salah papah, itu pilihan hidupnya." Dira mencoba menepis rasa bersalah papahnya.
"Kadang ada rahasia yang harus kita jaga demi kebaikan seseorang. Itu yang papah dan mamahmu lakukan. Apapun itu dibalik Mayen dan Ceril akan lebih baik terkubur selamanya," tegas Ernesto.
Ia mengembuskan napas berat lalu mengawang. "Hanya saja setiap manusia pasti memiliki dosa dan suatu hari nanti pasti akan berbalik pada kita. Karena itu, kalian yang masih muda ... jaga keluarga kalian baik-baik. Cukup seperti papah dan mamah yang selalu bersama hingga setua ini. Pernikahan adalah sesuatu. Yang harus dijaga. Setelah menikah, wanita dan pria bukanlah diri dia yang seutuhnya," nasehat Ernesto.
"Ketika kita menikah dan memiliki anak, kita berkomitmen untuk memberikan segalanya demi anak kita. Kalau dalam pernikahan kita masih memikirkan diri sendiri, artinya kita mengkhianati komitmen itu. Kalau belum siap, kenapa menikah dan punya anak? Kalau kita merasa dengan memiliki anak kita tak bisa memiliki diri kita lagi, lebih baik jangan jadi orang tua selamanya," tambah Ernesto.
🍁🍁🍁