Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kakak dan Kedua Adiknya


Dinia berlari sekuat tenaga. Ia menyembunyikan diri di toilet sekolahnya. Sudah ia buat pengumuman ke seisi sekolah untuk tak ada yang memberitahu akan keberadaannya.


Jantungnya berdebar hingga keringat dingin berkucuran. Ia pikir hari ini papahnya yang akan datang seperti biasanya. Namun, melihat sosok Divan turun dari mobil, Dinia mati kutu.


"Saya sangat mengucapkan banyak maaf pada pihak sekolah. Hanya saja, hukuman apapun yang akan kepala sekolah berikan pada kedua makhluk ini, saya tak akan ikut campur. Silakan," tegas Divan.


Diandre terbelalak. Ia tatap kakaknya dengan mata lirih meminta belas kasihan. "Kak, papah saja gak gini, loh," mohon Diandre. Ia memegang lengan kakaknya dan yang Diandre dapatkan hanya hempasan tangan dari Divan.


"Itu papah, bukan aku. Aku lain. Lagipula kamu tahu dalam sejam aku bisa menghasilkan uang puluhan ribu dollar. Hari ini aku habiskan untuk mengurus dua adik kurang asem kayak kalian." Divan menoyor jidat Diandre.


"Suruh lap jendela, pel lantai atau sikat WC saja gak apa-apa," tegas Divan langsung berdiri. Ia melirik ke samping kanan dan kiri, tak ada adik perempuannya.


"Dinia mana?" tanya Divan. Diandre menggeleng. Anak itu kabur setelah gurunya bilang Divan akan datang.


Lekas Divan menarik napas. Ia berkacak pinggang. "Aku pastikan kamu dan Dinia akan mengganti uangku karena datang ke sini!" tegas Divan.


"Ya ampun, kamu mata duitan sekali. Ngurus adik saja hitung-hitungan," protes Diandre.


Divan langsung menggetoknya. "Selama belum punya uang sendiri, jangan belagu!" Tak puas dengan getokan, Divan sampai mencubit adiknya.


Kali ini ia tak bisa menunggu lama. Lekas Divan keluar dari ruang kepala sekolah untuk menemukam satu lagi pembuat ulah. Begitu Divan keluar sudah jelas betapa suara teriakan dan jeritan terdengar diantara para siswi. Divan memang bukan artis, ia juga bukan pengusaha. Mereka tahu Divan banyak followers dan uangnya banyak.


"Kak Divan! Saranghae!" seru para gadis usia belasan tahun saat melihat Divan. Pria itu hanya melempar senyuman lalu melambai. Tak lama ia ingat tujuannya ke sekolah hari ini.


Divan berbalik dan membuat keributan kembali terdengar. "Ada yang melihat Dinia Amile Kenan?" tanya Divan.


Perlu kita tandai satu hal. Dinia adalah ketua geng wanita di sekolah ini. Semua siswa perempuan takut akan dirinya. Ketika Dinia meminta mereka untuk diam, mereka akan diam. Kecuali Divan yang meminta.


Sementara itu, Dinia mulai merasa ada kesunyian tercipta di sana. Tak ada lagi suara teriakan para wanita sebagai tanda keberadaan kakaknya.


Dinia : heh, Diandre! Kakak sudah pergi?


Dinia memutuskan mengirim pesan pada Diandre. Tentu itu salah besar. Di sini, Diandre juga tak ingin menderita sendiri. 


Diandre : Sudah pulang. Dia cuman nyuruh aku ngepel lantai kelas.


Dinia nyengir kuda. "Kakak ngapain di sini? Ini toilet perempuan, loh. Gak boleh ke sini," ucapnya kura-kura dalam perahu.


Divan tak mau membuang waktu. Ia jewer telinga adiknya sambil ditarik keluar kamar mandi. Dinia berteriak kesakitan. "Aw! Kakak lepasin donk!" keluh Divan.


"Enak saja! Kamu pikir setelah membuat masalah, kamu bisa kabur? Ini waktunya kamu tanggung jawab. Jangan bilang aku Divan sebelum memberi kalian berdua pelajaran!" omelnya.


Pemandangan Dinia yang dijewer Divan menjadi tontonan menarik. Gadis itu memohon minta dilepaskan hanya Divan terus saja menarik daun telinganya. Begitu dilepas, tepat di ruang kepala sekolah.


"Pastikan beri mereka hukuman sampai pukul delapan malam. Aku minta video CCTV sebagai bukti," tegas Divan.


Selama ini kedua adiknya selalu dilindungi Dira. Paling hukuman terberat mereka hanya membuat surat permintaan maaf yang ternyata ditulis orang lain. Divan akan mengibarkan bendera keadilan meski itu pada adiknya sendiri.


Divan menarik tas kedua adiknya. Dari sana ia mengeluarkan dompet juga kunci mobil. "Pulang jalan kaki sampai rumah," tegas Divan.


Pria itu lekas keluar ruang kepala sekolah. Ia tak mendengarkan suara minta pengampunan kedua adiknya. "Siapa suruh mereka merusak moodku. Gara-gara mereka hari ini aku gak post feed IG!" keluh Divan.


Ponselnya berdering. Ada telpon dari sahabatnya di kampus. "Ada apa, Brik?" tanya Divan.


"Berisik sekali anda!" protes pria dari ujung sana. Di sekitar Divan memang ramai dengan suara anak-anak perempuan yang memanggil namanya.


"Ganteng, kaya, populer, pastinya Divan Kenan dipuji para gadis," sombongnya.


"Inginku memaki. Aku tunggu di kampus, kita ada diskusi dengan kelompok lain tentang penelitian kita," jelas Yuno.


"Suruh nunggu sejam lagi. Aku mau ambil selfie dulu, belum sempat endorse."


"Taubat kamu! Ini penting malah di suruh nunggu," protes Yuno.


Divan terkekeh. "Kecuali urusan dengan uang, sisanya aku gak bisa cepat," tegasnya.


Yuno rasanya ingin menghabisi Divan saat itu juga. Masalah mereka sama-sama pewaris grup perusahaan besar. Saling bunuh akan membuat ribuan orang jadi pengangguran.


🍁🍁🍁