Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Bukan Salah Bunda Mengandung


Setiap anak memang punya keunggulan dan kekurangan masing-masing. Bukan berarti seorang ibu tak bisa peka. Tinggal di kota besar seperti Heren, membuat Bia lebih kritis dalam menghadapi perkembangan anak. Dia memang bukan anak yang baik dulu, justru karena itu ia ingin memperbaiki pola asuh yang diberikan orang tuanya agar tak salah asuhan untuk kedua putranya.


Usia Divan sudah hampir empat tahun dan Diandre sudah masuk bulan ke tiga. Usia putranya berada di masa emas perkembangan yang sangat berpengaruh ke masa depan. Terserah orang akan bilang Bia lebay karena membawa Divan ke psikolog. Hanya saja ia tahu ada yang aneh dengan putranya dan itu tidak cukup dengan ilmu menduga lewat internet.


"Sama sekali tidak bisa bilang R?" tanya psikolog perkembangan anak yang sudah janjian dengan Bia seminggu sebelumnya. Untuk jadwal temu ini, mau tidak mau Dira juga harus dilibatkan.


Kita ubah paradigma kita selama ini. Setiap anak yang mengalami masalah perkembangan tidak selalu berasal dari anak itu sendiri. Bisa jadi dari pola asuh orang tua yang bersumber dari pemikiran dan keadaan emosi juga sosial orang tua. Karena itu, masalah harus dicari sampai ke akar dari tiga penyebab : anak, orang tua dan lingkungan.


"Dia bisa bilang air. Selebihnya huruf R tidak bisa ia sebutkan," jawab Bia. Tentu pembicaraan itu tak melibatkan Divan. Ia sedang diobservasi di sebuah ruangan yang bentuknya seperti arena bermain.


Bia tahu, ada yang salah ketika Divan selalu bicara cadel. Banyak yang bilang itu bentuk cari perhatian. Nyatanya, ia mulai lebih sering main sendiri dan membuat teritorinya sendiri. Dia sering mencontoh apa yang orang lain kerjakan, lalu ia buat versinya sendiri. Dia berkembang dengan tahap bermain sesuai usianya, assosiative play.


Bia sudah melakukan pesan dokter sebelumnya dengan membawa Divan ke dokter untuk memeriksakan organ bicaranya. Hasilnya baik, Divan tak ada kerusakan apapun dari alat bicara. Hanya saja usia hampir empat tahun, ia masih cadel.


"Kesalah substitusi dalam bicara ini bisa banyak faktor. Alat bicara normal dan keadaan psikologis anak sejauh observasi ini juga baik, meski ia ada riwayat trauma kehilangan sosok ayah, sejauh ini keadaan itu tak terlihat. Hanya saja tes IQnya yang jadi penyebab," jelas Sarel, psikolog yang Bia mintai pertolongan untuk menemukan masalah Divan.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Dira mencoba menelaah maksud dari hasil diagnosis putranya.


"Kosakata Divan jauh lebih banyak dari kosakosa kata anak seusianya. Kalimatnya juga sudah kompleks, lain dengan anak seusianya yang masih sederhana. Ia sangat cepat menghafal dan menalar. Di usia belum genap empat tahun dia sudah menggambar manusia dengan proporsi yang tepat. Ini menandakan kecerdasannya jauh di atas anak normal lainnya."


Intinya keterampilan berbicara Divan jauh lebih dulu dibandingkan kematangan alat bicaranya. Itu yang membuat ia seakan sulit bicara. "Saran saya, jika dia mengalami kekeliruan bicara lagi coba minta ia menarik napas tiga kali. Kemudian ajarkan ia bicara dengan lebih pelan temponya. Kita harus sabar karena memang masalahnya adalah otaknya lebih cepat memproses bahasa daripada alat bicaranya."


Dira mengangguk-angguk. "Seperti kita kalau sudah main gas sebelum memanaskan mobil. Akhirnya mobil tiba-tiba mati di tengah jalan meski mesinnya bagus?" tebak Dira.


Sarel mengangguk. "Ada treatment yang mungkin bisa membantu. Misal bilang 'bbrr' sambil meniup kertas atau main mobil-mobilan."


Kedua orang tua itu merasa lega mendengar Divan tak bermasalah serius dengan perkembangannya. Hanya saja tahu dia anak superior membuat Bia dan Dira merasa bangga.


"Mau gimana lagi? Papahnya peringkat satu, mamahnya peringkat dua. Kalau gak pintar ya masa gak ada yang nempel satu pun," komentar Dira sambil menyetir mobil.


"Mah, di sana ada yang cantik, loh!" serunya.


"Dokternya?" tanya Bia penasaran.


"Bukan, ada temen Divan. Galak tapi, Divan masa dicubit," keluhnya.


"Terus Divan diam saja dicubit begitu?" tanya Dira.


Divan menggeleng. "Kata papah 'kan kalau ada teman jahat ke Divan, gak boleh kabur. Divan pelototin telus bilang jangan galak. Gitu!" tegas Divan.


Bia mengangguk. "Kenapa kamu dicubit?" tanya Bia. Ia pikir gak mungkin ada anak nyubit tanpa alasan.


"Abis cantik. Divan sayang. Kalau sayang cium, jadi Divan cium," jawabnya sambil nyengir.


Bia dan Dira menggeleng. "Iyalah, kamu dicubit. Divan juga kalau tiba-tiba dicium orang gak suka, kan?"


"Iya, gak cium lagi nanti. Janji!" Divan mengacungkan jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V.


"Kapan pulang, sih? Diande nunggu nanti. Diande kangen Divan pasti. Kan Divan kakak ngangenin," tambah Divan.


Dira terkekeh. "Diandre kangennya cuman sama mamah. Mana ada sama Divan. Apalagi Divan sering bilang lebih ganteng dari Diandre di rumah."


"Divan nginep di kakak Memeli nanti, jadi Diande bisa paling ganteng di lumah dulu," sarannya.


🍁🍁🍁


INI BELUM TAMAT