
"Papah kasian, ya? Masalah terus lagi. Nanti botak papah, tuh," komentar Divan saat Bia mengatakan alasan papahnya tak bisa menjemputnya lagi hari ini hingga Bia yang bergerak. Hanya satu yang harus Bia pegang. Dira mewanti-wanti agar Bia tak menanggapi Zayn.
"Kok botak?" tanya Bia bingung.
Divan mengangkat bola matanya ke atas. "Iya, banyak mikir loh. Banyak mikir bikin botak. Kata Oom Teo," jawabnya.
Bia hanya bisa menggeleng. Matteo lagi-lagi mengucapkan kata-kata aneh pada putranya. Bia mana bisa mengerem, namanya juga mulut Matteo. Rem mulutnya kendor.
Bia menggendong Diandre sambil menuntun Divan ke parkiran. Sepatu Divan mengeluarkan bunyi tuk-tuk yang enak terdengar.
"Drabia!" panggil seseorang. Bia berbalik. Ia melihat Zayn berlari ke arahnya.
"Ini, nih. Kalau Dira tahu bakalan jadi perang dunia," batin Bia.
Divan langsung mengambil posisi di depan Bia untuk menghalangi pria itu. Sementara Diandre memasang tatapan sinis. Kedua anak itu seakan tahu apa yang tersembunyi di hati Zayn.
"Hai keponakan yang ganteng-ganteng! Oom punya permen buat kalian," ucap Zayn sambil mengasongkan permen pada ke arah anak-anak itu.
Divan menggeleng. "Bahaya makan permen tuh. Gigi Divan rusak. Nanti gak ganteng lagi," tolak anak itu dengan tegas.
Zayn mengangguk. Ia menawarkan pada Diandre, tapi anak itu malah berpaling dan memeluk Bia. "Maaf ya, Zayn. Anak-anak gak suka makanan manis," dusta Bia.
Zayn terkekeh. "Baik banget. Raya malah senang makan permen. Gak apa-apa. Lain kali Oom beliin snack saja, ya?" tawar Zayn lagi.
Gelengan kepala Divan lagi-lagi membuat Zayn merasa kecewa. "Maaf, di rumah banyak juga itu. Papah beliin," tolaknya.
"Oke, deh. Di rumah adanya anak perempuan. Jadi gak tahu aku kesukaan anak laki-laki," keluh Zayn.
Bia menggeleng. "Gak apa, kok. Hanya anak-anak memang sangat dipola sekali makanannya. Semacam sudah ada jadwal makan begitu. Maklum kami itu sangat khawatiran," jelas Bia. Ia harap bisa menjauhi Zayn tanpa membuat pria itu terluka.
"Dira gak jemput lagi? Kalau dia gak bisa jemput, biar aku saja yang antar anak kamu ke rumah," tawar Zayn.
Bia nyengir kuda. "Gak perlu. Cuman hari ini saja, kok. Nanti Divan tetap pulang sama Dira," jelas Bia.
Zayn mengangguk-angguk. Seorang wanita dengan wajah yang sudah mulai terlihat keriput menghampiri mereka. Ia tersenyum ke arah Bia. "Wah, ini Drabia yang dulu sering main ke rumah?" tanya wanita itu.
"Ibuku," jelas Zayn.
Wanita itu mengusap rambut Bia. "Cantik sekali kamu ini. Pantas saja Zayn sering senyum-senyum lihat kamu," godanya.
Zayn tersenyum malu sementara Bia syok mendengarnya. "Apa sih, mah. Gak begitu," protes Zayn.
"Dia sejak istrinya meninggal gak pernah peduli sama perempuan. Nyapa saja gak mau. Kamu perempuan pertama yang dia ajak ngobrol," ucap ibu Zayn.
Ucapan itu sungguh membuat Bia merasa terganggu. "Mungkin karena kami kenal sejak kecil," kilah Bia.
Wanita itu tertawa kecil. "Kalau saja kalian dulu menikah. Tante senang sekali kayaknya."
"Gak ada, mamah sama papah!" potong Divan yang tak terima. Ia memeluk kaki ibunya. "Mamah pulang" pinta Divan.
Zayn mengusap rambut Divan. "Gak, kok. Nenek cuman bercanda," ucapnya tahu tak bisa meraih hati Divan.
"Maaf, Tante. Aku harus cepat pulang. Suamiku pasti pulang sebentar lagi," jelas Bia.
Zayn menarik pelan lengan Bia. Divan mendengus. Pria itu bahkan sudah berani memegang ibunya. Lekas Divan menepis tangan nakal itu. "Eh, maaf. Itu, aku cuman mau minta nomor kamu. Takutnya gak sempat ketemu lagi. Nanti mungkin kita bisa janjian makan di luar sambil main dengan anak-anak," ajak Zayn.
Bia menggeleng. "Kalau kamu mau hubungi saja lewat suamiku. Aku perempuan bersuami, tak pantas kalau harus pergi atau berkomunikasi dengan laki-laki lain tanpa izin dia," tolak Bia.
Penolakan itu membuat Zayn dan ibunya merasa kecewa. "Zayn hanya minta nomor ponsel agar kalian tidak hilang kontak," jelas ibu Zayn.
Bia tetap menggeleng. "Mungkin bagi Tante hanya. Namun meski itu bukan apa-apa, bisa membuat kepercayaan antara suami-istri jadi hilang dan rumah tangga jadi hancur. Sebelum itu terjadi, akan lebih baik aku jaga kepercayaannya, kan? Lagipula Dira juga teman Zayn. Apa bedanya menghubungi Dira dengan menghubungiku," jelas Bia. Ia memberikan kartu nama suaminya.
"Aku pamit, Tante ... Zayn juga," izin Bia lalu pergi membawa kedua putranya.
Divan melihat kebelakang lalu memeletkan lidah. Anak itu senang karena ibunya tegas. "Oomnya berani sama papah. Belum tahu papah galak," umpat Divan.
"Besok biar papah saja yang jemput Divan, ya? Mamah takut," curhat Bia. Awalnya ia kira tak akan ada sesuatu yang aneh-aneh terjadi. Hanya mendengat ucapan ibunya Zayn membuat Bia tak nyaman. Apa ibu itu tak tahu Bia punya suami? Kalau tahu, kenapa ia tak cukup dewasa untuk menjaga ucapannya?
🍁🍁🍁
Besok jam 5, ya? jam 5 pagi kalau sore itu jam 17.00 😒