Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Ngancem Nih Mbak Galon?


Tak tahu ini termasuk kabar baik apa buruk bagi keluarga Dira. Hugo hari ini memposting fotonya dengan Divan. Mendadak warganet gempar. Mereka membicarakan perihal anak imut dan lucu yang menjadi teman Hugo selfie.


Imut banget, sih! Arrgggh ... aku ingin punya anak kayak gitu.


Anak ini kalau sudah besar bakalan ganteng. Bibit unggulan.


Tolong resep bikin anak gini gimana donk, Hugo?


Macam-macam komentar diucapkan fans Hugo di akun instagram pria itu. Ada juga yang bertanya tentang Divan sebenarnya, Hugo hanya menjawab itu keponakannya. Ia juga kaget Divan mendadak sepopuler itu.


"Dir, ini kesempatan buat kamu manfaatkan keadaan. Mungkin jalannya ini," Mr Pier memberi saran.


Dira melipat tangan di depan dada. "Maksud anda apa, Pak?" tanya Dira.


"Hugo bilang anak yang selfie dengan dia di instagram itu anakmu."


"Lalu?"


"Tak perlu pura-pura tak tahu, Dir. Kamu tahu bagaimana dunia bereaksi melihat wajah anakmu itu? Mereka senang. Anak kamu itu berbakat jadi model."


Dira menggeleng. "Anakku hanya akan tumbuh jadi anak biasanya. Aku tahu beban popularitas seperti apa. Jadi aku gak mau dia ambil jalan yang sama denganku. Maaf," tolak Dira dengan tegas.


Mr. Pier nampak kecewa. "Itukan kata kamu, Dir. Bagaimana dengan anakmu sendiri? Kamu harus tanya pendapatnya juga."


Dira tertawa. "Pak, anakku belum genap tiga tahun. Dia tahu apa soal artis, popularitas dan masuk TV. Dia hanya tahu es krim dan permen. Aku orang tuanya yang membantu memilih masa depan."


"Dir, anak kamu bisa saja jadi alasan dunia menerima pernikahanmu. Anak itu begitu lucu, tentu orang-orang akan lupa bagaimana dia tiba-tiba ada dalam hidupmu."


Dira menghela napas. Mungkin itu akan menguntungkan untuknya. Namun, ia seorang ayah. Dia ingin putranya tumbuh dengan baik. Divan harus bisa bergaul, punya banyak teman, pergi ke sekolah dengan normal. Hal yang tidak bisa dilakukan jika ia jadi seorang bintang. Apalagi di usia sekecil itu.


"Ke depannya ia mungkin akan menarik hati orang lain, tapi tidak dengan menjadi seorang artis. Aku bisa mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Kenapa ia harus bekerja? Ia hanya butuh bermain dan kasih sayang."


Mr. Pier menyandarkan bahunya di sandaran kursi. "Kamu itu memang susah sekali diubah pemikirannya. Padahal ini semua demi kebaikanmu."


"Demi kebaikan anakku. Sejak ia ada dalam hidupku, aku sudah siap mengorbankan segalanya untuk dia."


Dibandingkan harus bersitegang dengan Dira, Mr. Pier lebih memilih mundur. Anggap saja sekarang ia bukan sedang bicara dengan artisnya, tapi dengan sesama seorang ayah.


"Bagaimana kabar keluargamu? Selama dua bulan ini kau pintar menyembunyikan mereka." Mr. Pier merubah topik pembicaraan.


"Aku sudah janji padamu sebelumnya. Tentu akan aku tepati. Satu bulan lagi, semua harus mulai terbongkar. Aku harap kau juga bersiap untuk itu. Aku mungkin tidak akan melanjutkan karirku." Wajah Dira terlihat yakin akan pilihannya.


"Kau banyak berubah setelah menikah. Bagaimana jika setelah kau mengumumkan pernikahan, karirmu masih selamat?" Mr. Pier memberikan Dira pilihan yang sulit.


Dira berpikir kemudian ia terkekeh. "Maksudmu orang-orang itu akan memaafkan pria yang meninggalkan pacarnya dalam keadaan hamil? Setelah tahu itu, mereka akan menghujatku."


Mr. Pier mengangkat bahunya. "Tahu darimana? Lagipula kau sudah tanggung jawab dengan menikahi wanita itu."


Dira melihat ke luar jendela. Ia menghela napas panjang sekali. Tak sekali pun ia memikirkan karir setelah pernikahannya terbongkar. Ia hanya punya rencana dan itu untuk keluarganya : kembali ke Emertown, bekerja di pabrik milik keluarga Kenan dan membangun rumah tangga. "Aku ingin pulang, ke rumahku seharusnya."


...🍁🍁🍁...


"Dir, makasih banyak, ya?" ucap salah satu staff acara setelah Dira turun dari panggung. Penampilan tadi adalah tampilan terakhir Dira di acara konser musik ini. Dira berjalan bersama Matteo dan Kalvis menuju


ruang tunggu khusus untuk Dira.


Matteo membuka pintu. Dira hendak masuk, tapi seseorang menarik tangannya. Kontan Dira berbalik dan menemukan Cloena di sana.


"Kalian keluar, aku ingin bicara dengan Dira." Cloe mengusir Matteo dan Kalvis.


Dira menepis tangan wanita itu. "Tapi aku gak mau!" Pria itu melirik ke arah Matteo. "Ayo masuk! Aku mau pulang. Usir saja dia."


Dira masuk ke dalam ruangan. Cloe mengikuti. Ia dorong Matteo agar keluar dan menutup pintu. Jelas Matteo dan Kalvis melirik Cloe dengan tajam.


"Dasar nenek sihir!" umpat Kalvis.


Dira lumayan kaget juga terjebak di ruangan yang sama dengan Cloe. "Keluar!" usir Dira. Cloe menggeleng. Ia berdiri di pintu.


"Kita harus bicara," tegas Cloe.


Sorot mata Dira berubah tajam. "Gak ada yang perlu dibicarakan. Aku harap kamu keluar sendiri atau aku usir," ancam Dira.


Cloe mengeluarkan ponselnya. Ia memperlihatkan sebuah foto yang membuat mata Dira menyipit. "Kamu pikir apa yang akan terjadi kalau semua orang melihat foto ini?" tanya Cloe.


"Kamu mengancamku?"


"Aku gak tahu cara bawa kamu kembali lagi padaku selain ini. Tidak hanya foto, video kita sedang tidur bersama juga ada," ancam Cloe sambil tersenyum penuh kemenangan.


Dira mundur selangkah. Ia menghela napas dan mengeluarkannya beberapa kali. "Pikirkan lagi. Kalau sampai itu diketahui publik, apa kamu yakin semua akan baik-baik saja." Dira menimpali dengan santai.


Cloe tertawa. "Kamu pikir semua orang tidak akan menghujat kamu karena ini?"


"Kamu pikir, kamu juga tidak akan dihujat? Coba pikir. Apa kamu gak malu melihat foto kamu sendiri tanpa sehelai pakaian diunggah dan dilihat publik?" Dira berusaha untuk menyudutkan Cloe.


Napas Cloe berubah berat. Ia merasa keadaanya seperti dibalikan. "Aku akan membuat publik membuat kamu tersudutkan hingga kamu gak punya pilihan lain selain menikahiku."


Dira mendekatkan diri pada Cloe. "Dengar! Kalau kamu menggunakan cara ini untuk membuat aku kembali, kamu salah. Aku gak bisa kembali padamu, baik dulu, sekarang juga selamanya. Lebih baik kamu berubah jadi orang yang baik dan bekerja lebih giat. Berhenti hidup serba berlebihan."


"Aku gak butuh nasehat kamu! Aku cumam butuh kamu." Cloe memeluk Dira sambil memperlihatkan wajah menderita. Dira mendorongnya pelan agar Cloe menjauh.


"Lebih baik kamu kembali ke ruangan kamu. Kita gak bisa sama-sama lagi." Dira menuntun Cloe ke luar ruangan.


Matteo dan Kalvis yang menunggu di luar dengan wajah sewot melihat Cloe. "Jangan ganggu aku lagi," tekan Dira sambil kembali ke ruangan bersama Matteo dan Kalvis.


Cloe meremas tangannya dengan kesal. "Kamu harus kembali padaku!"


🍁🍁🍁


😅😅😅


aku mau ngemis pollow WPku lagi wkwkw


ini nih 👉 elara_murako


di sana ada 4 judul novel, 1 sdh tamat bs kalian baca. wkwkkw, satu lagi yak ... kali sj masih sisa recehan poin. batu vote donk 😁


sdh itu aja 😘