Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Tapak


Kalau ada yang merasa ceritanya mulai membulat, itu pilihan kalian mau terus baca apa tidak. Aku hanya berusaha menepati janji sampai tanggal 31 Januari. Ini note bukan karena baper loh. Hanya wanti-wanti saja sebelum ada yang maki di kolom komentar masalah alur 😅. Biasanya ada yang suka komen begitu.


🍁🍁🍁


"Mungkin ada orang yang salah tempat," ujar Dira menepis rasa curiga. Ia raih bunga di nisan mertua prianya lalu ia bawa ke tempat sampah. Tak ada ucapan apalagi nama di bunga itu.


Mencoba berpikir positif, Bia juga tak memikirkan asal mula bunga itu. Ia lebih ingin berkonsentrasi pada keinginannya memperkenalkan Diandre.


"Yah, Bia datang. Terakhir kali Bia ke sini, baru ada Divan. Sekarang ayah dan bunda punya cucu baru. Namanya Diandre. Sekarang sudah bisa jalan dan makin pintar," ucap Bia.


"Kakek sama nenek sudah meninggal, ya?" tanya Divan yang sudah mulai mengerti arti kata meninggal sekarang. Lain saat pertama ke sini yang berpikir orang dalam makam tidur tak mau bangun karena malas.


"Iya, makanya mamah sedih. Divan sedih kalau jauh sama mamah dan papah. Mamah juga. Mamah gak bisa ketemu orang tuanya lagi," jelas Dira sambil berbisik. Divan mengangguk.


Anak itu menatap ibunya. Divan memegang tangan Bia. "Mamah gak sedih, ya? Kan Divan temenin mamah," ucap Divan menenangkan ibunya. Bia mengangguk.


"Divan mau bilang sesuatu sama kakek dan nenek?" tanya Bia.


Anak itu berpikir sebentar. "Iya. Itu lho. Divan jagain mamah. Biar mamah gak sedih. Sekarang Divan sekolah. Sudah pindah, sih. Divan gak nakal, baik. Diandre belum bisa ngomong. Nanti juga bisa. Diandre juga Divan juga sayang kakek nenek," ucap Divan.


Anak itu meminta bunga dari tangan ayahnya. Divan menyimpan buket bunga itu di makam kakek dan neneknya. "Kenapa kakek nenek meninggal?" tanya Divan penasaran.


"Kecelakaan mobil. Makanya lebih baik kalau pakai mobil sebaiknya apa ya?" jawab Bia.


Divan melirik ke belakang sambil mengangkat telunjuknya. "Tuh, hati-hati!" omelnya. Dira mengacak rambut Divan gemas. Tak tahu anak itu sedang mengomeli siapa.


Sementara Diandre memegang pagar sisi makam lalu bergoyang ke kanan dan ke kiri sambil bernyanyi.


Bia melirik makam adik dan kakaknya. Mereka tak pernah jadi dewasa. Tetap menjadi anak-anak dalam kenangan Bia, teman bermain, berebut sesuatu hingga berbuat jahil.


Bahkan dalam perjalanan waktu itu bersama mereka di mobil, Bia ingat mereka ribut hanya karena sebuah mobil-mobilan milik David. Sherin lebih kecil dua tahun dari Bia. Tak heran jika Bia tak ingin mengalah pada adiknya, berasa teman.


"Kalau Sherin masih ada, mungkin aku bisa barengan ngasuh anak sama dia. Jadi teman curhat juga," keluh Bia.


Dira tertawa. "Ada aku, kan. Jangan berandai-andai sesuatu yang kamu sudah pikir gak bisa terjadi. Itu cuman bakalan bikin kamu tersakiti dan banyak pikiran," nasehat Dira.


Benar juga apa kata suaminya. Bagaimanapun itu semua sudah terjadi. "Lagian kamu bisa curhat sama Kak Sora. Sesekali datang ke rumah Daren. Kak Sora juga kesepian di rumah sendiri," saran Dira. Bia mengangguk.


Mereka berpamitan untuk kembali ke rumah. Diandre digendong Bia sementara Divan digendong Dira. "Diande, rambutnya bagus!" tunjuk Divan pada rambut Diandre yang Bia kucir di bagian atas. Kuciran kecil yang menghadap ke langit seperti air mancur. (Ya ampun Langit, jadi inget).


Diandre tertawa. Giginya terlihat muncul beberapa yang sudah tumbuh sempurna. Lain dengan Divan yang lebih dulu bicara, Diandre lebih dulu tumbuh gigi. "Papan, delek!" ledek Diandre. Padahal maksud anak itu bukan kata sebenarnya. Ia hanya mengoceh tanpa tahu maksud dari suatu kata. Tetap saja Divan kira itu benar.


"Kesal boleh. Divan bisa bicara yang halus, kan? Jelaskan pada Diandre harus bagaimana. Kan Diandre belum tahu, Divan tahu," nasehat Dira.


"Iya ... iya. Diande kakak ganteng. Karena jam ganteng nambah, nih," jelas Divan lebih lembut.


"Huh!" Diandre mendengus lalu memalingkan wajah.


"Gak mau bilang ganteng Diande," curhat Divan.


Bia tertawa. "Belum bisa. Diandre juga tadi bilang jelek itu gak sengaja. Mamah pernah bilang sama kakak kalau Diandre itu bicaranya belum yang sebenarnya. Mungkin Diandre pernah mendengar kata itu dari orang lain," jelas Bia.


"Ouh, lupa. Diandre ikut-ikutan saja bilangnya. Kakak ajarin Diandre jelek, jadi bisa. Nanti gak bilang jelek lagi Divan," ucap Divan mengerti.


Mereka pulang ke Heren dengan rasa sedih akibat meninggalkan Mrs. Carol sendiri. Perempuan itu menolak dengan alasan agar bisa berada dekat dengan makam putrinya.


"Padahal ingin masih lama di sini," keluh Bia. Rindu akan kampung halaman memang sulit untuk diredam kecuali kembali tinggal di sana.


Diandre melihat ke kaca hamparan rerumputan dan sapi-sapi. "Heh!" suara Diandre. Ia berjingkrak-jingkrak senang melihat binatang itu.


"Sapi?" tanya Bia. Diandre mengangguk. "Pi!" seru Diandre.


Ponsel Dira berdering. Pria itu memakai handsfree lalu mengangjat telponnya. "Iya, Daren?" tanya Dira.


"Papah ketemu wanita itu. Siapa namanya ... Mayen," ungkap Daren.


"Kapan?" tanya Dira. Ia sampai menggenggam keras kemudi.


"Staffku masih mengikuti. Hanya saja pertemuan papah hanya sebatas dengan Mayen, tak pernah dengan Ceril. Pertemuannya juga hanya di sisi jalan dan itu papah tak pernah keluar mobil. Wanita itu sebelumnya pergi ke Emertown," jelas Daren.


Dira terbelalak. "Kapan?" tanya Dira.


"Ia baru tiba kemarin dengan kereta. Hanya saja selama ke sana, Mayen luput dari pandangan staffku. Katanya dia hanya membawa tas kecil, tak seperti orang yang akan ke luar kota. Makanya mereka tak melakukan persiapan," jelas Daren.


"Apa perselingkuhan itu terjadi di masa lalu dan papah mencoba menutupi? Ah, ini membuatku frustrasi. Sampai kapan kita tak mencari kejelasan? Kenapa juga wanita itu tahu Emertown? Apa ia berasal dari sini?" tanya Dira.


Mendengar kata selingkuh, Bia langsung memasang telinga. Ia penasaran dengan sebenarnya terjadi hingga menjadi beban pikiran Dira belakangan ini.


🍁🍁🍁