
"Sekarang keadaannya gimana?" tanya Maria yang berkunjung ke rumah setelah Bia menelpon tentang keadaan Dira. Syukur mertuanya belum kembali ke Heren karena resepsi ulang tahun Divan kemarin dulu. Dira bahkan hanya bisa menunggui Divan tiup lilin tanpa bisa menyapa para tamu. Dia lemas dan selalu mengeluh sakit di bagian pinggang.
"Masih sama saja, Mah. Hari ini bahkan gak bisa turun tempat tidur. Kalau makan sih gak masalah, cuman mau ini sama mau itu. Tiba-tiba nangis gak tahu kenapa," keluh Bia.
Di ruang tamu saat itu hanya ada Bia dan mertuanya. Divan sedang menunggui Dira di kamar, sekadar membaca buku berdua.
"Apa lebih baik dibawa ke Heren saja? Di sana fasilitas rumah sakit lebih baik. Pasti ketemu masalahnya apa," saran Maria.
Bia berpikir lumayan lama. Masalahnya Bia sempat menyarankan itu dan Dira malah merengek tidak mau. Alasannya di sana panas - padahal ini masih musim dingin.
"Bia mau bawa Dira ke psikolog. Kemungkinan kata dokter gejala ini timbul karena stress. Mamah tahu tidak kalau Dira sering minum obat tidur?" Akhirnya Bia mau tidak mau jujur tentang keadaan Dira pada mertuanya. Meski Dira sering wanti-wanti agar tidak mengatakan semuanya pada orang lain.
Maria terbelalak. "Iyakah? Sejak kapan?" Maria menutup mulut dengan telapak tangan akibat syok.
Bia mengangguk. Ia sudah tahu Maria akan terkejut mendengarnya. "Dira bilang sejak pindah ke Heren. Dia mulai sering cemas dan jika sudah begitu tangannya akan bergetar. Keadaannya semakin buruk karena jika malam hari, dia sering bangun dan susah tidur lagi."
Maria menggenggam kedua tangannya sendiri. Raut-raut kesedihan terlihat. "Kamu tahu dari kapan?" tanya Maria.
Bia menoleh ke arah tangga. Ia takut Dira mendengarnya. "Bia sering dengar dia bangun tengah malam dan mengambil air mineral ke kulkas. Sampai lihat ada yang aneh. Sebelum ke kulkas, dia pasti pergi membuka tas kerjanya. Penasaran, Bia temukan obat tidur di sana. Sudah hampir satu bulan dia gak minum obat tidur. Syukur bisa tidur normal tanpa terbangun. Hanya saja, sekarang begini," cerita Bia.
"Dia bilang alasannya begitu kenapa?" Maria ingin tahu lebih jauh tentang masalah putra keduanya itu. Ia tahu Dira paling sulit diatur, paling nakal, hanya selama ini sikapnya terlihat baik-baik saja. Ia seperti tidak memiliki beban.
Maria sering melihat Dira di televisi. Ia rindu dengan putranya dan ingin menemui meski Ernesto sering melarangnya dulu. Melihat Dira tertawa melalui program acara, ia pikir putranya bahagia dengan kehidupannya selama ini.
"Dia sejak dulu seperti cuek dengan sesuatu. Sebenarnya Dira sangat sensitif. Dia sering berpikir keras agar membuat orang lain tidak kecewa. Saat dihipnoterapi, Dira bilang jika ia takut tidak bisa memenuhi keinginan papah. Ia pikir ketika jadi artis dia akan bebas dari pikiran itu, ternyata semakin banyak orang yang menyukainya, ia takut tidak bisa jadi sempurna dan memenuhi harapan mereka."
Maria ingat saat Dira kecil, kelinci kesayangannya mati. Ia tersenyum dan bilang ia baik-baik saja. Tak lama ia hilang beberapa jam dan saat ditemukan, ia menangis di balik tumpukan jerami. Ia juga pernah menggendong adiknya dan terjatuh hingga dimarahi Ernesto. Sejak itu Dira tak pernah mendekati Dustin lagi.
"Benar, dari kecil ia sangat perasa. Karena membuat Dustin jatuh saat ia gendong, Dira tak mau ikut kami ke Heren. Ia lebih ingin tinggal dengan Nenek dan Kakeknya di sini." Maria mengawang. Ia menarik napas panjang.
"Bia, tolong kamu dampingi dia. Daripada Mamah, kamu jauh lebih mengerti suami kamu. Mungkin benar, jika penyakitnya tidak dapat dideteksi, lebih baik kamu hubungi psikolog lagi saja," saran Maria.
Sepeninggal Maria, Bia naik ke kamar. Ia buka pintu perlahan dan melihat Dira tengah membuka halaman buku dongeng dengan Divan. Ayah dan anak itu sesekali tertawa dan berceloteh bersama.
"Bukan. Ini ada empat, yang dua lagi gak kelihatan karena gajahnya jalan minggir dan dilihat dari samping," jelas Dira.
"Papah nih dak bisa itung-itung. Satu, dua! Itu dua tahu!" protes Divan. Bia tersenyum geli.
"Ini buku bikin nipu anak kecil!" keluh Dira lalu menutupnya.
"Napa tutup?" tanya Divan.
"Ini gajahnya jelek, kakinya cuman dua," jelas Dira.
Divan geleng-geleng kepala. "Dak gitu, Pah. Mamah bilang dak boleh ejek olang," nasehat Divan.
Dira mengangkat sudut bibir atasnya. "Ini gajah, bukan orang," kilahnya.
Divan mengangguk-angguk. "Iya juga, yah!" ucapnya sambil menepuk jidat.
Bia berjalan masuk dan duduk di samping Dira. Ia usap rambut suaminya. Dira yang sedang duduk dengan kaki selonjoran di tempat tidur, memiringkan kepala agar bersandar di bahu Bia. "Papah sudah sembuh?" tanya Bia.
Dira menggangguk. "Lumayan. Dari tadi di sini gak kerasa sakit pinggang lagi," jawab Dira.
Divan tertawa. Ia turun dari tempat tidur. "Papah sakit pigang kayak kakek Eugene. Gini nih!" ledeknya sambil berjalan sambil membungkuk dan memegang pinggang.
"Hush! Enak saja!" protes Dira.
Takut dimarahi papahnya, Divan lekas berlari keluar kamar. "Divan mau ke mana kamu?" tanya Dira.
"Mau ke nenek saja, lah! Papah dak asik!" jawabnya. Dia memeletkan lidah lalu berlari keluar kamar.
🍁🍁🍁