Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Namanya Juga Dira


Anak memang tak pernah tahu apa makna yang tebersit dalam ungkapan orang tuanya. Sudah jelas Ernesto mengatakan jangan, Dira tetap maju mencari tahu ada apa dalam misteri yang tengah membuat ia penasaran. Sampai sulit tidur, hingga lupa berapa lama ia tak mengajak Bia main monopoli lagi di atas tempat tidur.


Namanya juga Dira. Lain dengan Daren yang menganggap itu sudah tuntas. "Bi, kamu tahu nggak? Selain dengan ayahmu, kira-kira papahku berteman dengan siapa?" tanya Dira saat mereka tengah sarapan bertiga dengan Divan.


Diandre sudah pasti makan duluan. Anak itu tengah duduk di kursi makannya sambil main lego yang ia hancurkan dengan menumbuk-numbuk ke atas meja makannya.


Bia berpikir keras. "Mana Bia tahu, papah itu kan papahmu, bukan papahku," jawab Bia mudah. Ia memang penasaran juga dengan hal itu, hanya tak segila Dira.


Dira manyun. Ia makan potongan daging sapi yang Bia masak. Tak lama Dira mendengus. "Sumpah, kamu mirip banget lagi sama anaknya ibu itu," ledek Dira. Mana pria itu mengatakannya sambil tertawa.


"Terus menurut kamu, itu lucu?" ucap Bia kesal sambil mencubit lengan Dira.


Divan menggeleng-geleng. Ia menutupi mata adiknya. "Diandre jangan tiru, ya? Papah, mamah sudah dewasa, tapi kanak-kanak banget," protes Divan.


Dira dan Bia terdiam mendengar ucapan putranya yang begitu menusuk hingga ke jantung. "Kamu itu anak-anak, tapi ucapannya sudah dewasa." Dira bertepuk tangan untuk putranya.


"Tapi loh, Pah. Anak sekarang memang bicaranya dewasa. Aku pikir Divan meski kosakatanya dewasa, ia masih bicara layaknya pikiran anak kecil. Nah, di sekolah Divan yang sekarang ini ... duh, aku syok," cerita Bia.


Dira mendengarkan dengan saksama. "Jadi ada segerombolan anak perempuan masih kelompok B. Mereka ngobrol gitu di dekat kelas Divan. Padahal ada aku di sana, tapi mereka gak malu ngobrol kayak ibu-ibu kalau arisan," tambah Bia.


Dira menunggu cerita Bia selanjutnya. Cerita itu lumayan mengurangi rasa penasarannya. "Tahu apa yang mereka obrolin?" tanya Bia. Dira menggeleng.


"Gini. Kamu tahu Manuel di channel Disn*y gak? Ituloh yang main Bia. Aku merasa terpanggil karena anak itu menyebut namaku. Tahunya memang ada acara Disn*y yang memang judul dan pemerannya Bia. Aku juga nonton akhirnya," cerita Bia.


Dira menggaruk kepala. "Terus apa serunya?" tanya Dira kecewa.


Bia menyimpan sendok di piring. "Iya mereka cekikikan sampai menjerit. Buka ponsel saling liatin foto di layar ponsel mereka. Masa anak segede gitu sudah dibiarin bawa ponsel tanpa pengawasan orang tua? Habis itu mereka histeris banget manggil nama Manuel itu."


"Anak TK?" tanya Dira. Bia mengangguk. "Aku gak heran, waktu kecil seumur gitu aku sudah mau nikah sama kamu," ucap Dira enteng.


Tiba-tiba Dira mengingat sesuatu. "Mah, akta kelahiran kamu mana? Mau aku bawa ke pengadilan buat benerin nama Diandre."


Mungkin karena banyak rencana dan pekerjaan, orang tua muda itu lupa jika mereka mendapat masalah dari akta kelahiran Diandre. Tak tahu dari mana awalnya. Nama Diandre yang harusnya Diandre Airen Kevin Kenan jadi Diandri Airin Ravin. Padahal Ravin itu nama Divan. "Salah kita juga sih, namain anak susah. Jadinya petugas dinas kependudukan salah mencatat," keluh Dira.


"Padahal kalaupun dibaca ejaan, nama Diandre itukan Airen bukan Airin," komentar Bia sambil tertawa dan pergi ke atas untuk membawa akta kelahirannya.


Tak lama Bia datang membawa akta itu. Dira mengambilnya dari tangan Bia. Ia buka tas kerjanya, membawa map keperluan perubahan akta Diandre dari sana. Untuk membuat akta anak saja, kedua orang tuanya juga harus punya akta lahir. Kecuali untuk kelahiran di atas tahun 70an.


Dira sempat terpaku pada tahun pembuatan akta Bia. Itu dibuat satu tahun setelah Bia lahir. "Bi, kok akta kamu dibuatnya telat, sih?" tanya Dira.


Bia menggeleng. "Manaku tahu, itu urusan ayah dan bunda lah. Aku tahunya punya akta kelahiran. Mana ada aku bikin akta kelahiran sendiri waktu bayi. Jalan sama ngomong saja gak bisa."


Dira mengangguk-angguk. "Mungkin ada yang dirubah," pikir Bia.


Dira menggeleng. "Kalau ada yang dirubah, pasti ada keterangan kayak Divan. Perubahan atas akta nomor sekian. Ini mana ada? Dibuat baru ini," komentar Dira.


"Mungkin gak ada waktu. Kamu lihat saja aku. Saking bingung ngurus dua anak balita saja pusing sendiri. Padahal jarak Diandre sama Divan lumayan jauh. Apalagi bunda dan ayah, aku sama kak David cuman beda ...." Bia tertegun. Ia kadang sering memikirkan itu.


"Dir, apa mungkin ya ... perempuan yang baru melahirkan hamil lagi. Maksudku, jaraknya itu loh. Terlalu mepet," pikir Bia.


Dira terkekeh. "Bisa saja kalau papahnya rajin bikin," kelakar Dira.


Bia menggeleng. Ia tahu antara ia dengan David hanya beda setahun. Itu cukup untuk masa pemulihan masa kehamilan Angelica hingga mengandung Bia lagi. "Ayahku pasti hebat, ya? Bahkan jarak usiaku dengan Sherin juga tak jauh. Pantas juga kalau Bunda kelimpungan," pikir Bia.


🍁🍁🍁