
Dengan posisi tersudut, Cloe berhasil meraih ponselnya di nakas. Ia lekas membuka kunci ponsel. "Kalau kau tidak berhenti mengangguku, aku akan hubungi polisi!" ancam Cloe.
Merasa posisinya terjepit, wanita misterius itu tersenyum ketus lalu berjalan meninggalkan kamar tempat Cloe dirawat. Napas Bia naik turun dengan sangat cepat. Cloe begitu saja jatuh lemas hingga terbaring di lantai. Sebagian tubuhnya terlihat memar akibat ditampar dan pukul beberapa kali. Bahkan wanita itu tega menggunakan kaki untuk menendangnya.
Bia meraih tubuh Cloe dan memapahnya ke atas tempat tidur. Cepat-cepat ia berlari keluar meminta pertolongan. Tak ada satupun orang di lobi lantai itu. Bia mencoba turun, begitu ia berniat menekan tombol lift, Bia berpapasan dengan Cynthia.
"Tolong, Cloe! Panggilkan dokter," pinta Bia terlihat ketakutan.
Cynthia bingung melihat Bia, tapi ia lekas menuju kamar Cloe dan berlari sekuat tenaga. Bia mengikuti Cynthia. Melihat Cloe masih berbaring di tempat tidur, Cynthia merasa sedikit lega. Hanya ketika mendekati Cloe dan melihat luka lebam di sana, barulah kembali Cynthia khawatir.
"Kenapa ini? Kenapa bisa begini?" tanya Cynthia pada Bia.
"Itu, tadi ada wanita. Dia datang dan langsung memukuli Cloe. Aku ingin menghentikan, tapi Cloe memintaku sembunyi," jelas Bia.
"Seperti apa wanita itu?" tanya Cynthia. Ia takut wanita yang dimaksud Bia adalah wanita yang selama ini selalu mereka berdua hindari.
Cloe memegang tangan Bia. "Pergi dari sini, aku mohon. Jangan sampai Dira tahu semua ini. Kalian jangan terlibat masalahku," ucap Cloena dengan suara yang lemas.
"Cynthia, suruh dia pergi," tambah Cloe lalu memalingkan wajahnya. Cynthia mendorong Bia pelan ke arah pintu.
"Aku mohon, lebih baik kau pergi. Kalau sampai kau terlibat dan Dira tahu, masalahnya akan semakin runyam," jelas Cynthia. Bia mengangguk saja. Ia langsung berjalan keluar kamar. Sebelum Cynthia menutup pintu kamar, Bia sempat menatap Cloena yang masih terbaring membelakanginya.
Bia menelan ludah. Ia masih ingat ucapan wanita misterius itu. Meski Cloe membantah, ia tetap dituduh menggoda suami orang. Mengingat masa lalu, Bia mungkin bisa mempercayai tuduhan itu. Namun, wajah Cloe lain. Sepintar apapun Cloe berakting, tadi Cloe benar bicara jujur.
Pertanyaan tentang Cloe terus menjadi beban pikiran Bia hingga tiba di rumah. Bia berjalan lunglai masuk ke dalam rumah. Rasanya seperti setengah nyawa hilang. Bia ingat kejadian saat ia diusir dari tempat ia menyewa rumah akibat ketahuan hamil dulu. Menyakitkan dan menakutkan.
"Kamu dari mana, Bi?" Hampir saja Bia jatuh tersungkur akibat kaget mendengar suara orang yang menyapanya. Bia melirik ke samping dan melihat keberadaan Dira di ruang tamu. Wajah Bia semakin memucat.
"Bia, kamu gak apa-apa?" tanya Dira. Pria itu langsung mendatangi Bia dan mengusap rambutnya. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang membuatmu takut?"
"Lalu Divan mana?" tanya Dira. Ia melirik kanan dan kirinya. Tak ada Divan terlihat.
Pipi Bia merona karena malu. "Tadi aku mau ajak, tapi Divan ingin main dengan Emelie. Jadi aku antarkan saja ke sana. Apa perlu aku jemput?" tanya Bia.
Dira menggeleng. Ia ambil ponselnya dan menelpon ke rumah Daren. Bia masih berdiri di sana menatap punggung suaminya. Ia ingin menceritakan apa yang ia lihat, tapi ia takut Dira marah. Lebih dari itu, Cloe juga bilang jika Dira tahu urusannya akan semakin lebih rumit.
Tak lama, Dira menutup telpon. "Divan gak mau pulang. Katanya nginep di sana," ungkap Dira.
Bia mengangguk-angguk. Dia kalau ada teman pasti gak mau pulang. "Ya sudah, jangan dipaksa. Nanti malah ngamuk. Kalau ke Emertown lagi, pasti diam di rumah karena gak ada teman."
Dira menyentuh kening Bia. "Demam kamu. Istirahat, ya?" tawarnya. Bia lagi mengangguk. Dira menuntun Bia ke kamar. Setelah melepas mantel dan sandal, Bia berbaring di atas tempat tidur.
Tangan Bia masih bergetar hebat. Hatinya merasa tak tenang. Sebenarnya ada masalah apa Cloena dengan wanita itu. Bia melirik Dira yang duduk di sampingnya. "Apa Dira kenal juga dengan wanita itu?"
Dira mengusap kening Bia. "Kalau kamu gak sakit, tadinya aku mau ajakin makan malam di luar."
Bia tersenyum getir. Padahal ia belum pernah makan malam dengan Dira. "Mau," pinta Bia manja sambil memegang tangan Dira erat.
Dira menggeleng. "Kamu sakit ini. Badannya panas," tolak Dira.
Bia manyun. "Terus kenapa malah ajak tadi? Tanggung jawab, aku mau makan malam. Ayolah!" Bia langsung bangun dan duduk di atas tempat tidur. Ia masih memelas agar Dira mau mengajaknya makan malam.
Melihat Bia memelas begitu, hati Dira luluh juga. Meski dalam hati, ia khawatir. Dira pikir, makan malamnya juga di dalam ruangan yang hangat. Mungkin tidak akan beresiko walau Bia sedang demam.
🍁🍁🍁