
Rintik hujan jatuh membasahi dedaunan pagi ini. Membuat hawa semakin dingin, Aric semakin mengeratkan selimutnya. Ia begitu enggan untuk membuka mata pagi ini.
"Emh ... Jam berapa sekarang?" tanya Lily sambil menggeliat kecil.
"Masih pagi, masih terlalu pagi untuk bangun." Aric mengeratkan pelukannya, ia ingin seperti ini lebih lama.
Namun, semua itu tidak bisa berjalan seperti yang ia mau.
Duk ...duk ..duk..
"Ayah! Bunga!" teriak Adam dari luar kamar.
Mendengar panggilan anaknya, Lily segera membuka mata. Ia ingin segera bangkit, tetapi tangan besar Aric masih melilitnya dengan kuat.
"Aric, Adam sudah ada diluar." Lily mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan tangan Aric.
"Morning kiss dulu, baru aku lepaskan," ujar Aric dengan mata yang masih terpejam.
"Apa sih?! nggak ada begitu-begituan, cepat bangun ini sudah siang!"
Lily melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit. Ini sudah sangat siang.
"Ayah! Bunda!" teriak Adam lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Lily mendengus kesal, karena Aric tak kunjung membuka matanya.
"Aric, cepat bangun. Adam sudah berteriak dari tadi!" pekik Lily kesal.
"Morning kiss, dan alu aku akan membiarkanmu pergi."
"Morning kiss .. Ok."
Aric tersenyum, masih dengan mata yang terpejam.
"Aduh sakit, Sayang!" pekik Aric.
Bukannya kecupan mesra yang ia dapatkan. Lily malah dengan keras menarik telinga Aric.
"Makan tuh morning kiss."
Setelah Aric melepaskan tangannya, Lily segera bergegas turun dari ranjang untuk membuat pintu. Sementara Aric, laki-laki itu sibuk mengusap telinganya yang memerah.
"Anak bunda udah ganteng, mau berangkat sekarang?" tanya Lily pada Adam, setelah membuka pintu.
Adam sudah rapi dengan seragam olahraga untuk hari sabtu. Tas ransel dengan gambar Optimus prime, juga sudah bertengger manis di punggungnya.
"Adam mau berangkat sekolah, mau salim." Adam menyodorkan tangannya.
Lily pun mengulurkan tangannya, adam menyambut tangan hangat itu lalu menciumnya dengan takzim.
"Adam sudah sarapan?" tanya Lily, ia merasa bersalah karena tidak menemani Adam sarapan seperti biasanya.
"Sudah Bunda, nunggu Bunda sama Ayah bangun kelamaan. Adam telat nanti sekolahnya," jawab Adam santai.
"Maafin Bunda ya, Nak."
"Nggak apa-apa, Kata Paman Mateo kalau Ayah sama Bunda bangun siang berarti Adam mau punya adik perempuan," ucap Adam dengan senyum lebar.
Mata Lily melebar, Mateo. Sepertinya dia harus di disiplinkan.
"Jadi kapan adik Adam jadi Bunda?" tanya Adam dengan polosnya.
"Emh ... bukan seperti itu prosesnya, nggak bisa secepat itu Sayang," ujar Lily dengan lembut.
"Bagaimana mana kalau besok?"
"Tidak untuk waktu dekat ini ya. Adik Adam harus tumbuh sembilan bulan dulu dalam perut Bunda," Lily berusaha menjelaskan pada Adam dengan baik.
"Sembilan bulan, lama sekali." Adam tertunduk lesu, ia ingin secepatnya punya saudara untuk diajak bermain.
"Sabar ya, Adam berangkat sekolah sama Paman Mateo dulu. Nanti pulangnya Bunda jemput, gimana?"
Setelah mengantarkan Adam ke depan, dan melihat sang anak diantar Mateo ke sekolah. Lily kembali ke kamarnya.
Aric masih di atas ranjang, ia berpose dengan satu kepala yang ditopang dengan sikunya.
"Apa liat-liat?" tanya Lily dengan ketus.
"Istriku cantik," goda Aric.
"Nggak usah modus, gara-gara kamu, aku nggak bisa nemenin Adam sarapan pagi ini."
Lily melangkah kesal ke kamar mandi, ia ingin segera membersihkan dirinya.
Aric segera melompat turun dari ranjang, lalu menyusul langkah istrinya.
"Sayang, salah aku apa?" tanya Aric memelas.
"Pake nanya, kamu bilang masih pagi ternyata sudah siang. Semua salah kamu, pokoknya salah kamu!" pekik Lily dengan menegangkan telunjuknya pada Aric.
"O- oke ... oke aku yang salah, jangan marah lagi ya." Aric menggenggam tangan sang istri.
"Udah salah nggak mau minta maaf," ketus Lily.
"Aku minta maaf, aku minta maaf ya Sayang, aku salah karena bilang masih pagi. Aku salah karena memelukmu, aku salah karena hujan turun dan pagi menjadi begitu dingin hingga aku ingin memelukmu lebih lama. Maafkan aku Oke." Aric memegangi kedua pipi Lily dengan tangannya.
Lebih baik Aric menghadapi istrinya yang marah.
"Hem .. baguslah kalau tau salah, aku mau mandi. Hari ini jadi periksa ke dokter kan?" tanya Lily, kali ini nada bicaranya sedikit lembut.
"Iya tentu saja, kita periksa ke dokter kandungan terbaik."
Aric melepaskan tangannya dari wajah Lily.
Lily mengangguk, ia kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Aric menarik rambutnya frustasi. Dia belum menelfon Sam untuk menanyakan soal dokter kandungan.
Aric segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, dengan cepat dia menghubungi dokter pribadinya.
Dua nada sambung dan telepon Aric akhirnya tersambung.
"Halo ...Sam, apa saja yang kau kerjakan? kenapa lama sekali mengangkat telepon!" teriak Aric.
"Lama, baru berbunyi dan aku sudah mengangkatnya!" sahut Sam tidak terima.
"Apa kau tahu aku baru saja selesai sift malam, dan menyelesaikan operasi darurat dini hari tadi."
"Aku tidak butuh dongengmu," Potong Aric cepat.
"Kau! cepat buat janji untuk pemeriksaan kehamilan istriku pagi ini, ingat harus dokter kandungan terbaik dan yang paling penting harus perempuan. Ingat Sam, perempuan mengerti!" Aric memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Sam.
Sam hanya bisa melongo di atas kursi meja kerjanya, dia bahkan belum pulang dari rumah sakit dan pria gila itu sudah memberikannya tugas.
"Agh ... Dasar orang gila! Busa tidak bicara baik-baik, untung saja suka kasih uang banyak, kalau tidak udah aku, ugh dia!"
Sam mengusap wajahnya kasar. Kesal tetapi permintaan Aric sama dengan perintah yang tak terbantahkan. Sam pun segera menghubungi beberapa kenalan dokter kandungan yang pastinya perempuan.
Sementara itu di mansion Aric. Lily sudah bersiap untuk pergi, dia sudah rapih dan berdandan dengan cantik. Tinggal menunggu suaminya yang sedang mandi.
Sambil nunggu suaminya selesai, Lily memutuskan untuk turun dan menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
Sebuah sarapan spesial untuk sang suami. Setelah berkutat di dapur akhirnya Lily selesai dan menyiapkan sarapan di atas meja makan.
"Sayang, ini apa?" tanya Aric dengan senyum manisnya, ia tidak ingin membuat Lily marah.
"Sarapan, kenapa nggak mau?"
"Tentu saja mau." Aric segera menarik kursi untuk duduk.
Sebuah hidangan aneh tersaji di hadapannya. Roti tawar gosong dengan telur mata sapi yang kelihatannya di goreng setengah matang, dengan saus selai kacang dan taburan bawang putih cincang mentah.
"Kenapa? kau tidak suka ya. dengan masakan ku." Lily tertunduk lesu, matanya sudah menggembun dan air mata wanita itu siap untuk jatuh kapan saja.