
Kehancuran Gulfaam sudah ada didepan mata. Hadid datang pada Aric agar anaknya itu mau datang dan membantunya.
Veronica di penjara karena dengan sengaja menghilangkan bayinya dan memfitnah Lily, perusahaan Gulfaam hancur dibawah pimpinan Ahnan, korupsi dan ketidakpuasan klien pada pekerjaan mereka, membuat para investasi meninggal Gulfaam. Hutang mereka bahkan bertumpuk sekarang, mereka tidak bisa menggaji karyawan dengan hasil perubahan.
Semua ini tidak pernah terjadi saat Aric ikut memimpin, mereka selalu bisa membayar bank tepat waktu. Pria itu selalu bisa menyelesaikan masalah dengan ketidakmampuan konsumen, dan bisa menarik investor untuk menanamkan modalnya pada mereka.
Dalam sekejap saja semuanya berubah, apalagi ditambah berita negatif tentang Veronica dan Ahnan. Hal itu membuat Hadid lebih sulit untuk meyakinkan investor.
Hadid, pria paruh baya itu berdiri dengan lesu di samping mobilnya, berdiri di luar pagar di tengah teriknya matahari. Pria itu dengan cemas, menanti jawaban dari Mateo yang menyampaikan kedatangannya pada Aric.
Seorang kepala pelayan datang dari dalam rumah besar Aric. Mata tua Hadid berbinar melihat kedatangannya.
"Bagaimana? Apa Aric mengizinkanku masuk?" tanya Hadid dengan penuh harap.
Mateo menggeleng lemah. Semburat kekecewaan terlihat jelas di wajah tua itu, Mateo yang melihat Hadid merasa tidak tega. Namun, dia juga tidak bisa membantah perintah Aric, majikannya.
Hadid terlihat lebih tua dari usianya, tampak jelas jika dia dalam keadaan yang tertekan. Mateo bukan tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga Gulfaam, beberapa hari ini bahkan televisi dan media sosial menjadikan kehancuran Gulfaam sebagai trending topik.
Tetapi Aric melarang siapapun untuk memberi tahu Lily, ia bahkan sengaja memutuskan akses Lily dari dunia luar. Semenjak wanita itu keluar dari rumah sakit.
Aric sedikit banyak ikut campur dalam tenggelamnya Gulfaam. Dia bahkan dengan sengaja menarik investor untuk bergabung di perusahaan yang baru dia rintis, tidak sulit bagi Aric, karena mereka begitu percaya dengan kinerja Aric dalam hal bisnis.
"Sebaiknya Anda pulang dulu Tuan, Anda bisa kembali lain waktu. Mungkin sekarang Tian Aric tidak merasa baik, dia baru saja pulang dari pemakaman," tutur Mateo.
"Pemakaman? siapa yang meninggal?" tanya Hadid.
"Salah satu teman baik Tuan Aric," jawab Mateo.
Hadid tertunduk lesu, sepertinya hari ini dia tidak bisa berharap banyak. Mungkin lain hari, Hadid pun memutuskan untuk pulang.
Dia datang dengan perasaan penuh harap, Aric mau dan pasti akan membantunya. Namun, ia sadar. Dia terlalu berharap, Aric sudah ia sia-siakan sedari kecil. Ia bahkan tidak bisa menolong saat orang tuanya mengirim seseorang untuk melenyapkan Zahra dan Aric malam itu.
Hadid menatap lamat rumah Aric sebelum masuk ke mobil, sebuah tatapan sendu penuh penyesalan. Semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur.
Semua yang laki-laki tua itu lakukan tak luput dari perhatian Lily, wanita hamil itu melihat sang mertua dari balik kaca besar di sebuah ruangan lantai dua rumahnya.
Ia masih tidak mengerti mengapa Aric begitu marah pada Ayah mertuanya. Lily perlahan mendekati sang suami yang tengah duduk sambil mengerjakan perkerjaannya. Pria itu duduk sambil menatap laptop dan jari yang menari diatas keyboard laptop.
Lily berjalan memutari meja besar itu, berjalan dengan pelan dibelakang Aric. Tangan lentiknya menyentuh bahu dan kemudian memeluk suaminya dengan manja.
"Sayang," bisik Lily.
"Hem," jawab Aric singkat. Dia tidak berpaling dari layar laptop.
Lily mencium pipi Aric. Ia kemudian dengan serta merta duduk di pangkuan Aric, lalu bergelayut manja di dada bidang suaminya.
Aric cukup terkejut dengan tingkah Lily yang agresif, tidak seperti biasanya.
"Ada apa? kenapa tiba-tiba manja seperti ini?" tanya Aric, dia masih berusaha mengerjakan sesuatu di laptop meskipun Lily ada di pangkuannya.
"Kenapa? aku tidak boleh manja sama suamiku sendiri?"
Aric tersenyum melihat Lily yang cemberut.
"Aku sedang ingin dimanja saja. Mungkin bisa dibilang balas dendam, waktu hamil adam dulu aku sendirian tanpa seorang suami. Sekarang aku punya kamu, jadi aku pingin di manja terus, apa boleh?" tanya Lily dengan wajah yang dibuat imut
Melihat itu jangkung Aric sudah naik turun. Ingin rasanya ia menerkam mangsa yang begitu menggodanya itu, tetapi ada satu hal yang harus ia kerjakan sekarang juga, dan Aric tidak bisa meninggalkan masalah ini begitu saja.
"Istriku sudah pintar menggoda sekarang." Aric mencubit gemas hidung mungil istrinya.
"Ih .... sakit," rengek Lily.
Aric tergelak. "Tunggu perkerjaanku selesai, aku akan melayanimu sampai puas, Sayang."
Pipi Lily merona seketika mendengar ucapan Aric. Aric melanjutkan pekerjaan dengan Lily yang duduk di pangkuannya.
Cukup lama posisi seperti itu, hingga Lily merasakan kantuk dan tertidur. Aric pun mengangkat tubuh istrinya, dengan hati-hati ia merebahkan tubuh Lily di sofa panjang yang ada di sana.
"Mimpi indah, Sayang." Aric mengecup lembut kening istrinya.
Ponsel Aric berdering. Ia segera mengambil langkah cepat untuk menjauh dari Lily, dia tidak ingin percakapannya sampai menganggu tidur cantik istri kesayangannya itu.
"Halo. Bagaimana?" tanya Aric langsung, begitu mengangkat teleponnya.
"Semua berjalan seperti yang Anda inginkan Tuan, mereka menyetujui persyaratan yang Anda kirimkan," jawab seorang pria yang tidak lain adalah Hakim.
"Bagus, kerjakan semua dengan baik. Aku ingin mereka merasa diatas angin sebelum aku membanting mereka ketanah," ujar Aric dengan sorot matanya yang memerah.
"Baik Tuan."
Aric menutup sambungan teleponnya, satu persatu semua menuai apa yang mereka tanam selama ini. Aric menyeringai tipis, ia tidak sabar untuk memberikan sebuah kado yang ia siapkan untuk calon buah hatinya.
"Ehm ... Sayang!" panggil Lily dengan suaranya yang terdengar serak.
Aric menoleh, ia segera menghampiri istrinya yang baru saja bangun.
"Kau sudah bangun?" Lily mengangguk.
"Lapar," ucapnya dengan manja.
"Ratuku ingin makan apa?" tanya Aric, satu tangannya merapikan rambut Lily kebelakang telinga.
"Apa aja yang ada di meja makan, aku sangat lapar."
"Oke." Aric mengangkat tubuh mungil itu dalam pelukannya.
Lily memekik kecil, saat tubuhnya melayang sejenak. Ia segera mengalungkan kedua tangannya di leher kekar Aric.
"Aku bisa jalan sendiri, turunkan aku," rengek Lily, yang membuat Aric semakin gemas.
"Sst ... tenanglah, atau aku akan memakanmu sebelum kau menikmati makan siangmu," bisik Aric, yang langsung membuka tubuh Lily membeku.
Keduanya pun pergi ke meja makan, dengan Lily yang masih berada dalam dekapan.
Lily hanya bisa pasrah, dengan apa yang Aric lakukan padanya. Meskipun sejujurnya Lily merasa malu, apalagi ada banyak pegawai yang ada di rumah itu.