Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Curahan Hati Seorang Ibu


"Aku kaget banget, Pah. Kalau sampai ada yang nyalain mesin cucinya gimana? Mesin cuci itukan diisi otomatis," curhat Bia dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Diandre sedang bermain dengan Divan di karpet sementara Dira dan Bia duduk di sofa yang sama. Kamar Divan lagi-lagi berantakan oleh kedua anak itu.


Dira mengusap punggung Bia. "Padahal cuman sebentar saja. Aku angkat telpon dari ekpedisi yang kirim mainan Diandre. Deg-degan banget sampai lutut lemas." Suara Bia sampai gemetar akibat syok. Syukur Divan keburu menemukan Diandre. Kalau tidak, tak tahu apa yang akan terjadi pada anak itu di dalam mesin cuci. Apalagi kalau ada airnya.


"Kalau diingat-ingat Diandre sudah berapa kali kayak gini. Waktu diam-diam masuk mobil sampai kebawa ke kantor juga, terus masuk lemari. Dia suka banget sembunyi," pikir Dira.


Bia menggeleng. Ia masih mencoba menurunkan ketakutannya. Sesekali ia menatap Diandre. Lain dengan Divan, Diandre jauh lebih membuat was-was. "Apa karena dulu Divan dititip ya makanya aku agak sering kecolongan sama Diandre. Karena belum biasa gitu."


"Mungkin karena biasanya dulu umur Divan segitu kamu kerja dan Diandre juga memang aktif. Dia lebih banyak gerak daripada Divan," tebak Dira. Bia mengusap air matanya.


Divan melirik ke arah Bia. Bisa ia lihat wajah ketakutan ibunya dan itu membuat Divan merasa kasihan. "Diande, mamah kasihan itu," ucapnya. Diandre sama sekali tak bereaksi. Anak itu berceloteh dengan suara yang tak bisa diterjemahkan.


"Ya sudah, sekarang Diandre selamat. Mungkin lain kali bilang sama pengasuhnya buat gak lepas perhatian dari Diandre. Kamu juga, kalau mau ke mana-mana pastikan Diandre dititip ke orang yang aman," nasehat Dira.


"Iya, Pah. Aku kapok beneran, deh. Tahu gitu aku bawa saja Diandre ke mana-mana," tegas Bia.


Dira terkekeh. "Ya, masa kamu mau BAB terus Diandre juga di bawa. Kasian dia," kelakarnya. Divan mendengar dan ikut tertawa. Bia yang sedang sedih ikut tertawa meski terpenggal-penggal.


Tak lama Bia ingat dengan apa yang Dira bilang semalam. "Gimana para traineenya?" tanya Bia penasaran.


Mereka juga sering berbagi cerita tentang kegiatan masing-masing termasuk pekerjaan. Memang ada yang jadi privasi, tapi gak seluruhnya. Apalagi kalau memang perlu dikomunikasikan dengan pasangan, sebaiknya dibicarakan.


"Yah, mereka sangat berbakat seperti yang aku inginkan. Malah ada yang bakat acting sama wajahnya mirip Cloe," cerita Dira terkekeh.


Wajah Bia langsung terlihat datar. "Bau-bau tikungan tajam," komentarnya dengan wajah menakutkan. Ia melotot pada Dira.


Melihat amarah tersirat di wajah istrinya lekas Dira mengeluarkan penjelasan. "Gak ada, mana ada! Duh, gitu saja main curiga terus. Dia lagi pula masih anak-anak baru enam belas tahun. Aku juga gak ada niatan jadi sugar dady kayak sinetron di tv," protes Dira.


Bia menunjuk wajah suaminya. "Awas saja kalau macem-macem tahu sendiri akibatnya. Di Emertown ada lubang kuburan sudah kunamai Dira Kenan," ancam Bia.


"Jahat banget kamu, mah. Aku sudah bilang pernah selingkuh jadi tahu rasanya. Gak mau ngulang lagi, nanti rumah tangga kita gak tamat-tamat, tahu!" selorohnya.


"Divan gak kasian juga," protes Divan.


Bia dan Dira tertawa. "Kasihan kakak, bikin bangunan hancur lagi sama Diandre," ucap mereka bersamaan.


Melihat wajah Bia, Dira jadi ingat lagi sesuatu. "Eh, dulu aku sering mikir doppelganger itu cuman hoax, tapi tadi ngelihat sendiri. Ada yang mirip Cloe malah ada yang mirip kamu, lho!"


Bia mengedipkan mata. "Mana ada? Wajah ini limited edition, masa ada copyannya," protes Bia.


Dira terkekeh. "Beneran, mah. Aku juga kaget. Mirip, lho. Gak terlalu juga sih. Gak sampai kembar, tapi ada yang miripnya. Apa dulu kamu dapet nemu, ya?" celetuknya.


Sungguh Bia emosi mendengar tebakan suaminya. Ia langsung mencubiti Dira. "Enak saja. Kamu kali hasil nemu. Sikap kamu beda sendiri sama Kak Daren dan Dustin. Mana nakal sendiri!"


"Sudah eh ... sakit," protes Dira. Rambutnya sampai berantakan diacak-acak istrinya. Dira menggoyangkan kepala dan rambut itu kembali seperti semula.


Melihat itu Bia merasa iri. "Kamu itu kayak perempuan banget sih! Gak kulit, gak wajah semua mulus kayak kulit semangka," komentarnya.


Dira menyipitkan mata. "Ijo, donk!"


Diandre datang mendekati ibunya. Ia memberikan sebuah balok kubus. "Nyam ... nyam," pintanya sambil menunjuk mulut.


"Tuh, anak kamu nyuruh makan kubus kayu!" ledek Dira.


Diandre turun lagi. Ia mengambil mobil-mobilan dan diberikan pada Dira. "Nyam ... nyam," ucap Diandre lagi.


Divan tertawa senang melihat wajah kaku kedua orang tuanya. "Papah disuruh makan mobil. Kasian!" ledek Divan sambil berjoget-joget. Pinggulnya bergoyang-goyang. Saking kesalnya Dira sampai memukul pelan bokong Divan, tapi anak itu terus melakukannya untuk meledek Dira.


🍁🍁🍁