
Bia harus menyetir pulang dan pergi ke rumah sakit. Mana di sana Dira manjanya luar biasa. Meski kesal, melihat Dira lemas membuat Bia tak tega. Manjanya Dira juga bukan manja ala anak kecil. Ini sikapnya aneh. Dia ingin menyuapi Bia, tapi makanannya harus ia yang tentukan.
Ketika masuk ke lab, Dira lagi-lagi matanya berkaca-kaca karena melihat tali sepatu kets Bia yang terbuka dan ingin menalikannya. Bukan bilang, Dira juga malah nangis dulu baru menyatakan maksudnya.
Kini mereka tiba di rumah. Alih-alih lemas, Dira malah memaksa menuntun Bia seperti menuntun nenek-nenek. Manisnya, Dira juga menyiapkan Bia sandal dan menyimpan mantelnya.
"Sekarang gak lemas lagi?" tegur Bia. Dira menggeleng, ia langsung menyandarkan kepala di bahu Bia. "Kalau diingetin langsung jadi lagi. Ini sakitnya beneran sakit apa butuh perhatian?" tegur Bia.
Keduanya masuk ke rumah. Mrs. Carol sedang menonton drama Korea dengan Divan. Bia sampai tepuk jidat. "Bu, Divan kok dibiarin nonton itu?" tanya Bia.
Mrs. Carol menggeleng. "Tadi gak nonton. Dia main sama Pororo tadi. Baru datang. Gak ada adegan aneh-aneh, kok. Sudah khatam mana adegan dewasanya. Kalau ada langsung aku matikan," jelas Mrs. Carol.
"Ouh iya, Bu. Maaf, ya. Aku pikir Divan ikut nonton dari tadi. Selama masih didampingin mungkin masih aman," timpal Bia.
Dira duduk di samping Divan sambil mengambil pop corn dari wadah minion yang sedang Divan pegang. "Tuan Dira kenapa? Gak ada yang serius, kan?"
"Gak, Bu. Justru dokter juga aneh. Hasil lab lambung, saluran pencernaan semua bagus. Tes darah, jantung, lain-lain juga baik. Dira hanya disuruh istirahat sama managemen stress." Bia mengusap rambut suaminya.
"Papah, sakit?" tanya Divan. Dira mengangguk sambil menatap putranya. "Kacian, hukuman itu ... papah banak dosa!" celetuk anak itu. Dira sampai gemas dan mencubit pipi Divan. Divan teriak-teriak kesakitan.
"Cukup! Papah tegana sama Divan! Jahat! Aku malah dak suka!" omel Divan sambil berkacak pinggang.
Dira memeletkan lidah. "Kamu makin gede kok makin sinetron saja!" ledek Dira.
Divan memalingkan wajah. Matanya menyorot tajam menatap ke televisi. "Cie ... anak papah marah beneran," goda Dira sambil mencolek pipi Divan.
"Hentikan! Divan mau jual mawal!" omel Divan.
Bia, Mrs. Carol dan Dira tertawa. "Jual mahal, Mukidi!" ralat Dira.
Divan melipat tangan di depan dada. "Ih, ini Divan bukan mukulidi! Divan adiino lavin," ralatnya.
Bia mengecup rambut Divan dari belakang. "Iya, Divan anaknya mamah," timpal Bia.
Dira dan Bia sampai meneteskan air mata. Lucunya Divan bahkan sampai nangis tersedu-sedu. Anak itu berdiri lalu memeluk Dira sambil berlinang air mata. Lucunya Dira juga sama saja. Ia menangis membalas pelukan Divan. Bukannya kasihan, Bia malah tertawa melihat kelakuan ayah dan anak ini.
Lekas Bia mengambil ponsel dan merekam Dira dan Divan yang menangis sambil menonton drama replay 1988 di layar televisi lebar di ruang keluarga.
"Divan memang ngerti tante di TV bilang apa?" tanya Bia.
Divan berbalik dan melihat ibunya. "Divan sedih, Divan dak tahu TV ngomong pa. Dak ngelti. Sedih Divan!" curhat anak itu yang sedih karena tak mengerti bahasa film yang ia tonton.
Dira mengusap air mata. Ia manyun. "Lha, papah pikir kamu sedih karena dengar apa yang tante itu ucapin buat papahnya." Dira dibuat kecewa.
Divan menggeleng. "Divan sedih, napa Divan dak ngelti. Itu bilang apa tantenya, Mah?" tanya Divan sambil menangis. Bia menggendong Divan.
"Iya, gak apa-apa. Itukan bukan buat tontonan anak-anak. Makanya Divan nonton film Barney saja, ya? Bahasanya Divan ngerti, kan?" saran Bia. Divan mengangguk. Ia gendong Divan ke kamarnya agar bisa nonton di sana tanpa mengganggu Mrs. Carol.
Dira mengikuti dari belakang. Tiba di kamar Divan, Bia menyalakan televisi dan menyetel rekaman acara Barney. Divan duduk di sofa, sementara Dira berbaring di tempat tidur pororo Divan.
Dira memijiti kepala. "Bi, kepala Dira sakit. Pusing," keluhnya.
"Mau dipijitin?" tawar Bia. Dira mengangguk. Meninggalkan Divan menonton di sofa, Bia mendekati Dira dan memijiti kening suaminya. Dira merebahkan kepala di pangkuan Bia. Ia menatap wajah istrinya.
"Kamu cantik banget, sih. Jadi pengen ngelus kepala orang yang botak," celetuknya.
Bia mengangkat alis. "Kamu apaan, sih? Awalnya muji, kenapa malah nyambung sama yang botak?" tegur Bia.
Dira menggeleng. "Gak tahu saja, kayaknya lembut gitu kepalanya," timpal Dira.
Bia mengusap rambut Dira. "Kamu makin aneh saja, ih. Seharian ini bikin aku bingung," protes Bia.
Mata Dira berkaca-kaca. "Aku juga gak tahu kenapa. Perut rasanya melilit, punggung juga sakit dan rasanya sakit hati kalau mau apa gak jadi nyata. Sakit banget!" keluh Dira.
🍁🍁🍁