Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Pelampiasan


Dira melipat tangannya di meja. Ia menenggelamkan wajah di atas lipatan tangan. Napasnya masih berat. Lebih dari itu, emosinya tak terbendung hingga ruangan kerjanya berantakan. Dira juga tak peduli laptop mahalnya terbelah jadi dua di atas karpet. Ia telah gagal padahal baru memulai.


Mr. Pier menghubungi Matteo dan memberi tahu keadaan Dira. Matteo yang tengah mengurus jadwal pemotretan Divan kebingungan. Dira jika marah tak bisa dibendung. Ia terlalu sabar dan rasional dalam menghadapi masalah. Namun, begitu tak bisa mendapat jalan keluar, amarahnya meledak tak tertahan.


Daripada mengambil resiko kena semprot Dira, Matteo memberitahu Bia. Bia sendiri bingung, mana Diandre sedang nakal-nakalnya. Ia tak mau menitip Diandre pada pengasuh lagi dalam waktu lama. Akhirnya Bia mengambil keputusan, ia mengantarkan Diandre dan Divan ke rumah mertuanya.


"Kamu tenangkan dia dulu. Tahu sendirikan dia kalau marah bagaimana? Kadang tak ingat apa-apa sampai menyakiti diri sendiri,"  pinta Maria. Bia mengangguk.


Setelah berpamitan pada kedua putranya, Bia lekas ke kantor Dira. Ia sampai lupa berdandan dan hanya memakai kaos serta celana jeans. "Saya mau ketemu sama suami saya," ucap Bia.


Resepsionist di ruangan itu kebingungan. Bia menepuk jidat, ia lupa sering tak mau dikenalkan pada pegawai di sini. "Maksudku Dira Kenan. Aku Drabia Kenan, istrinya," tegas Bia. Resepsionist itu mengangguk.


Seorang petugas lobi mengantar Bia ke ruangan Dira. Bia naik ke lift lalu keluar lewat pintu otomatis dan berjalan di lorong kantor yang cukup luas. Lantai kantornya yang solid membuat sepatu Bia berbunyi saat berjalan.


"Ini, Nyonya," tunjuk petugas lobi yang mengantar Bia pada pintu besar berdaun dua di hadapan mereka. Pintu itu terlihat kokoh dengan warna abu-abu. Bia mengetuk pintu itu, tak ada jawaban. Iseng, Bia langsung membukanya.


Wajah Bia terlihat syok mendapati ruangan yang sudah berantakan. Ia mengusap dada. Sudah tahu ia bagaimana cara suaminya mengamuk. Bukan hal pertama kali ia lihat. Bia berjalan mendekati Dira yang tengah menggelamkan wajah dalam lipatan tangan di atas meja.


Tangan Bia mengusap rambut Dira. Pria itu kaget lalu mendongak. Lain saat melihat wajah karyawan lain, Dira tersenyum melihat Bia di sana.


"Tak apa. Semua pasti bisa dilalui. Kan, kamu gak salah," ucap Bia.


"Mereka pasti akan menertawakanku karena meloloskan trainee curang," keluh Dira sambil meraih tangan Bia dan menyimpannya di pipi.


"Hanya meloloskan jadi trainee, bukan jadi artis. Lagipula bagaimana bisa kamu mengawasi setiap orang, kan?"


Dira meraih pinggang Bia. Ia dudukan istrinya di pangkuan. Dira merebahkan kepalanya di dada Bia. Ia menarik napas dan mengeluarkan untuk mengurangi amarah. Sentuhan Bia di kepala dan punggung lagi-lagi ampuh membuat Dira tenang.


"Lihat! Banyak barang rusak. Jadi harus beli baru. Belinya pakai uang. Mana agensi kamu lagi rugi pasti, nih!" canda Bia.


Tawa Bia terdengar begitu renyah hingga Dira ikut tertawa. Dengan erat Dira memeluk pinggang Bia dan mencium lekukan leher istrinya. "Gak usah takut, warisan papahku banyak. Cukup buat bikin kita gak miskin," celetuk Dira sambil berbisik di telinga Bia.


"Kalau kamu miskin, aku juga gak takut, kok. Orang ada yang suka sama aku, kelihatannya kaya," ucap Bia merubah topik agar Dira tak memikirkan masalah agensinya.


"Siapa yang mau cari mati dengan melawanku?" tanya Dira sinis. Bia tertawa. "Jangan bilang kamu ketemu teman Nobita itu lagi?"


Bia mengangguk. "Aw!" pekik Dira sambil berdiri tegak dan menatap istrinya. Bia masih terkekeh-kekeh akibat ekspresi Dira yang berlebihan. "Besok aku beri dia perhitungan, lihat saja!" ancamnya.


Tangan Bia memeluk leher Dira. Ia kecup kening suaminya lumayan lama. Dira mencium lekukan mangkuk di dada istrinya. "Masa aku harus gini depan dia supaya tahu kamu milik aku," ucap Dira sambil nakal tangannya menjejaki mangkuk yang masih tertutup kain pelindung.


Bia mendesis. Sentuhan Dira memanggil rasanya yang semalam tak sempat dipenuhi. Sadar istrinya mulai bersikap manja-manja gemas, Dira mendekatkan bibir ke telinga Bia. Ia kecup bagian belakang daun telinga yang terkenal area sensitif.


"Tenangkan aku dengan tubuh kamu,"  pinta Dira.


"Ada yang datang gimana?" tanya Bia. Dira meraih remote otomatis di atas meja kantornya. Ia tekan tombol pengunci digital door lock kantornya.


"Anak-anak sama siapa?" tanya Dira.


"Mamah," jawab Bia singkat disela menahan suara akibat Dira tangan Dira mulai mengusap kulit pahanya.


Bia menenggelamkan wajah ke leher suaminya. Di adegan lain, Dira mulai menaikan kaos Bia dan mengusap bagian perut.


"Di sini saja? Atau sofa?" tanya Dira. Bia menggeleng karena tak tahan dengan sentuhan Dira yang terasa lembut, tapi memancing.


Dira dudukan Bia di meja. Ia membuka jas dan dasinya. Lalu dengan nakal semakin tinggi mengangkat kaos Bia hingga mengintip sisi mangkuk lembut yang ia rindukan sejak lama.


🍁🍁🍁