
(yang mau beli buku cetak elara, bisa pesan di aplikasi online sperti shopp*, lazad*, tok*pedia, dan blibl*)
💐💐💐
Emertown - setelah pernikahan Dira dan Bia
"Ma agi pa?" tanya Divan datang ke dapur karena mendengar ada suara berisik.
"Mama mau bikin kue buat Papa," jawab Bia.
"Kue? Napa?"
"Kan Papa ulang tahun hari ini. Mama sudah siapin kado buat Papa. Divan tunggu sambil nonton Barney saja, ya?"
Divan menggeleng. "Dak mo ah. Papan batuin Mama ja, ya?" pinta Divan. Bia menyipitkan mata. Tak tahu kenapa dia ragu Divan akan membantu.
"Ya sudah, Divan bantu Mama kocok ini saja, ya? Mama mau meriksa dulu kue di ovennya," pinta Bia. Ia berikan whisk pada Divan. Terlihat karena motoriknya yang masih dalam masa berkembang, Divan kesulitan menggunakan benda itu. Jadilah dia hanya memutar-mutar alat pengocoknya.
Bia masih memperhatikan kue dalam oven. Dia merasa senang melihat kue itu mengembang dengan sempurna. Cheesecake itu resepnya ia dapatkan dari Maria dan salah satu kue kesukaan Dira. Bia harap bisa memperbaiki hubungan mereka dengan cara ini.
Begitu alarm oven berbunyi, Bia membuka pintu panggangan dan mengeluarkan kue. Hendak menyipan kue di atas meja, Bia kaget mendengar suara benda jatuh. Namun, fokusnya langsung pada Divan yang tengah mengocok cream di atas meja. Bia mematung melihat putranya sudah bermandikan krim yang harusnya menjadi olesan untuk bagian luar kue. "Divan?" panggil Bia dengan lemas.
Divan tersenyum. Ia mencolek krim di kening dan memakannya. "Em, enak! Papan cuka," celetuk anak itu.
"Itu, 'kan krim buat buat Papa," ucap Bia sedih.
Dengan tangan Divan kumpulkan krim yang menutupi kepala dan badannya lalu ia masukan dalam wadah. "Nih, banak agi." Divan nyengir lalu berkedip. "Duh, peih."
🍁🍁🍁
Dira pulang malam itu setelah merayakan pesta 'bujang' dengan teman-temannya. Ia kaget melihat kado di kamar. "Selamat ulang tahun," ucap Bia dengan lemas.
"Makasih banyak, Bi. Ini buat aku?" tanya Dira. Bia mengangguk. Ia berikan kado untuk Dira. Pria itu menerima dan membukanya. "Wah, kaos. Makasih banyak," ucap Dira.
Dira menaikan alis. "Kok kamu kayak enggak rela gitu kasih aku kado?" tanya Dira bingung.
Bia menggeleng. Dia membawa kue dari atas nakas. "Maaf, cuman kue. Krimnya tumpah sama Divan," jelas Bia menunduk malu.
Dira menatap ke arah putranya yang duduk di atas tempat tidur. "Kamu numpahin krim kue ulang tahu Papa?" tanya Dira.
"Papan coba ja. Tulus ocok-ocokna tuh dak diem tuh. Cimpen ja atas meja. Gilinding. Divan ambin. Injek kilimna, tebang," jelas Divan.
"Terus?" tanya Dira.
"Divan jadi antu. Kilim cini ... cini ... cini ...." Divan menunjuk kepala, badan, tangan dan kakinya. Dira terkekeh.
"Padahal Mama bikinnya pasti cape, ya?" tanya Dira. Divan mengangguk. "Papa tahu Divan mau bantu Mama dan itu enggak sengaja. Papa enggak sedih. Cuman mungkin Mama sedih. Coba tanya Mama," saran Dira.
"Udah, mama cubulut," jawab Divan.
"Harusnya gimana kalau Mama cemberut?"
"Maap. Dipan da biang maap, kok," ucap Divan.
"Cuman dia tadi bikin aku kesel lagi," timpal Bia.
"Ngapain?" tanya Dira.
Bia menunjuk ke sisi kamar. Dira terbelalak melihat gambar-gambar hitam di sana. "Tunggu, itu apa?" tanya Dira.
"Anak kamu pakai lilin buat kue jadi crayon buat bikin karya di sana," jawab Bia.
"Astaga Divan."
"Itu ukican abalaktak. Dipan iat di tubtub," jelas Divan justru merasa bangga dengan coretan hitamnya ( karena memang lilinnya berwarna hitam).