Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Mengantar ke sekolah


Sudah kesepakatan antara kedua orang tua muda ini untuk bertanya pada Divan perihal siapa yang akan mengantarnya ke sekolah hari ini. Mengantar anak di hari pertama ke sekolah memang sudah menjadi anjuran pemerintah. Namun, perlu dibuat kesepakatan juga dengan anak apa perlu kedua orang tuanya yang mengantar. Salah-salah takutnya malah ia semakin tidak percaya diri.


"Sama papah saja. Mamah sama Diande," jawab Divan.


Dira mengangguk. "Papah bangga, loh. Divan sudah mau buat keputusan sendiri," puji Dira.


Bia membimbing Divan untuk menyiapkan keperluan sekolahnya sendiri. Sekadar mengabsen, memberi motivasi dan membantu bagian yang sekiranya sulit Divan lakukan.


"Makan siangnya kasih dari sekolah, ya?" tanya Divan.


"Iya, makan siang jam sepuluh. Makan ringan dari sekolah. Makan beratnya nanti sore saja," jawab Bia.


Setelah pengumuman resmi hari masuk sekolah, Bia sudah mendapat jadwal makan siang putranya. Itu ia gunakan untuk memperkirakan makanan berat apa yang pas untuk Divan di rumah juga camilan agar jumlah kalorinya tidak berlebih.


Menjaga nilai kalori bukan hanya karena takut diabetes saja. Gula dan pati yang terkandung dalam makanan jika berlebihan masuk dalam tubuh anak membuatnya bisa lebih aktif dari seharusnya, tak berkonsentrasi, sulit tidur juga menumpuk penyakit.


"Divan sudah masukan topi?" tanya Bia. Divan mengangguk. Musim panas membuat cahaya matahari terasa lebih terik dan itu mudah membakar kulit Divan yang berwarna putih.


Selesai mengabsen keperluan Divan, Bia merapikan pakaian Divan yang sedikit kurang rapi. "Kakak sudah bisa pakai seragam sendiri. Padahal masih hari pertama. Kakak hebat kok! Ini mamah betulkan sambil Divan belajar setiap hari. Dibiasakan lama-lama Divan gak perlu mamah rapikan seragamnya," ucap Bia.


Divan mengangguk. Ia peluk ibunya. "Makasih mamah bantuin Divan," ucap Divan sambil mengecup pipi Bia. Anak itu lekas meraih tangan Dira. "Yuk, ke sekolah," pintanya.


Bia menggendong Diandre. Ia antar kepergian Dira dan Divan hingga teras rumah. Dira sampai satu minggu cuti bekerja demi mengantar Divan ke sekolah. Memang lebih baik dengan ayah, karena anak bisa lebih mandiri.


Divan bahkan bisa membuka pintu mobilnya sendiri. Ia naik dan duduk di jok samping pengemudi. Dira naik dari pintu di sisi lain. "Dah Diande, kakak sekolah dulu. Nanti main lagi!" pamit Divan.


Diandre mengangguk-angguk. Ia melambai pada kakaknya meski lambaian tangannya bergerak ke atas ke bawah bukan ke samping. Divan memberi Diandre kiss bye dan dibalas oleh adik kecilnya itu.


"Diande lucu, ya?" tanya Divan pada Dira yang langsung dibalas anggukan ayahnya.


"Mah, aku antar Divan dulu. Bye Diandre!" pamit Dira. Ia pasangkan seat belt Divan. Tak lama mobil itu melaju menuju sekolah TK Divan. Jaraknya tak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar sepuluh menit sudah sampai di tujuan.


Sebenarnya Dira ingin Divan sekolah di Emertown. Hanya karena sekarang Dira punya agensi sendiri di sini juga membantu di Kenan grup, memaksanya tinggal di Heren. Tak mungkin juga ia biarkan keluarganya tinggal di kota yang berbeda.


"Divan deg-degan gak?" tanya Dira sambil berkonsentrasi pada jalanan.


Divan mengangguk. "Kata mamah, ini namanya khawatir. Nanti hilang kalau Divan sudah selesai sekolahnya," jawab Divan.


"Iya, benar. Rasa deg-degan itu ada karena Divan tak tahu apa yang akan terjadi di sekolah. Setelah tahu, tentu hilang," jelas Dira.


Malah agar terasa santai, Dira sengaja hanya memakai kaos dan celana jeans hari ini. Kalau pakai pakaian formal, takutnya Divan malah merasa ini adalah hari yang kaku.


Tiba di parkiran sekolah, Dira membuka seat belt Divan. Mereka berdua turun dari mobil. Dira menuntun Divan masuk. Di depan sekolah, sudah ada beberapa orang tua mengantar anak-anak mereka ke sekolah.


"Halo! Apa kabar?" sapa seorang guru ketika melihat Divan menghampirinya. Dira melepas tangan Divan agar anak itu menghadapi sendiri gurunya.


"Baik. Ibu guru, ya?" tanya Divan. Gurunya mengangguk. Meski sudah cukup berumur, tapi rona keceriaan begitu tersirat jelas di wajah guru Divan. Anak itu sampai ikut tersenyum.


"Namanya siapa?" tanya gurunya. Meski Divan cukup terkenal, Dira mengerti jika guru ini tidak mengenal putranya. Mungkin karena usia hingga jarang melihat tayangan di media online. Kebanyakan seusia itu lebih banyak menonton televisi jika senggang saja.


"Divan. Aku artis, loh. Sering videoin juga, banyak subkibernya," jawab Divan.


"Wah, hebat donk. Pasti karena Nak Divan sangat menyenangkan," puji gurunya. Divan mengangguk-angguk.


Gurunya sempat melirik ke arah Dira. "Wah, hebat. Meski diantar kakak masih mau ke sekolah," puji gurunya lagi.


Dira dan Divan sama-sama bingung di sini. "Kakak siapa?" tanya Dira dalam hati.


"Orangtuanya gak ikut antar?" tanya gurunya pada Dira. Dira nyengir kuda. Ingin menjawab, tapi takut tersinggung. Padahal ia artis cukup terkenal dulu. Namun, guru Divan ini malah tak mengenali. Mungkin memang karena selera. Penyanyi seperti Dira tentu fansnya kebanyakan hanya anak muda.


"Bu, ini papahnya loh. Mereka artis. Masa gak kenal?" ucap salah satu guru lainnya. Dira merasa bersyukur ada yang mewakili perasaannya.


"Ouh, ini papahnya. Habis masih muda sekali. Aku pikir masih SMA," ucap guru yang salah mengira Dira. Ia tersenyum malu akibat melihat Dira yang memakai kaos dan celana jeans malah terlihat sangat muda.


Dira mengangguk. "Gak apa-apa, Bu. Salah saya juga awet remaja," kelakar Dira memancing tawa beberapa orang di sana.


Divan menggeleng-geleng. Tak lama ia berkacak pinggang. "Divan di sini loh mau sekolah. Kenapa semua ke papah terus," protesnya. Ia ingin menjadi bintang hari ini, sayang kalah dengan efek yang ditimbulkan Dira karena memakai kaos dan celana jeans panjang.


"Nak Divan, lebih ganteng daripada di video ya?" puji salah satu ibu di sana.


"Iya, ini lebih lucu bisa pegang-pegang. Di video gak bisa," timpal Divan.


"Ngartisnya nanti dulu, sayang. Sekarang masuk kelas, ya? Papah antar?" tawar Dira.


Gurunya menunjukkan kelas Divan. Dira mengantar hingga kelas yang penuh dengan pernak-pernik lucu itu. Karena mengusung metode pembelajaran montessori, isinya penuh dengan alat-alat rumah tangga yang dibuat ukuran kecil.


Divan melepas sepatu dan menyimpannya di rak sementara Dira hanya diam di depan pintu. Divan melangkah masuk. Jaraknya dengan Dira hanya dua langkah.


"Wah, kayak di rumah," puji Divan. Dira mengangguk. Lingkungan sekolah begini membuat Dira yakin memilihnya untuk Divan. Karena di sini Divan juga belajar life skill.


Mata Divan tertarik pada tulisan di pintu loker yang ada di sudut ruangan. "Pah, itu lemari Divan!" serunya. Anak itu membuka pintu loker dan menyimpan tasnya di sana.


🍁🍁🍁


Makasih yang masih mau baca Ayah Dari Anakku. Yang mau vote ayah dari anakku, vote saja ya di novel ayah dari anakku. wkwkkwk ... 😘 sekali lagi makasih.