Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kencan Kilat


Keduanya seperti tak menua. Saat itu Bia mengenakan dress bewarna kuning dengan motif gambar. Rambutnya dikepang dua. Ia berjalan diantara bunga-bunga matahari yang bermekaran di akhir musim panas. Rambutnya menari ke kanan dan kiri akibat tertiup angin.


Perkebunan itu sepi seperti yang Bia kira. Di tengahnya ada lapangan rumput hijau yang luas dan kolam dengan air yang jernih.


"Bawa sini karpetnya," titah Bia. Wajah Dira mengerut. Gadis itu satu-satunya orang yang bisa membuat Dira membawa gulungan karpet menembus perkebunan bunga matahari.


"Jadi ini tempatnya?" tanya Dira. Bia mengangguk lalu menunjuk tempat datar di mana mereka bisa mulai makan bersama. Di sana Dira mulai menggelar karpet. Pria itu duduk di sana sambil meluruskan kaki sementara Bia mulai menata makanan dalam keranjang ke atas karpet.


"Kekanak-kanakan sekali, sudah ibu-ibu masih piknik," ledek Dira. Kali ini Bia tak menimpali. Ia membawa sandwich dari dalam kotak lalu memasukannya secara paksa ke dalam mulut Dira.


Pria itu terpaksa menggigit sandwich strawberry dan youghurtnya. Rasanya sangat asam. "Gak kamu kasih madu ini?" tegur Dira.


Bia tertegun. "Memang harus pakai madu?" Bia menggaruk kepalanya meski tak gatal. Ia melihat sandwich di tangannya yang sudah Dira gigit salah satu ujungnya.


Dira geleng-geleng kepala. "Nyesel deh waktu itu sudah pernah muji pinter masak."


"Aku bawa susu kental manis, kok!" Bia mengeluarkan satu sachet susu kental manis dari keranjang. Tadinya ia mau makan itu dengan semangka.


"Kamu bawa apa saja itu?" Dira menarik keranjang makanan Bia kemudian terbelalak begitu melihat isinya. "Sampai semangka satu kepala kamu bawa juga? Sekalian bawa kompor dan selimut, sayang."


"Kamu nyebelin banget ngeledek terus. Padahal aku itu sudah niat banget bikin kamu senang, Nyet." Bia berbalik memunggungi Dira. Ia melipat tangan di depan dada. Wajahnya menunduk kecewa. "Aku cuman mau ngulang masa SMA kita."


"Kalau aku gak mau," timpal Dira.


Karena kaget dengan ucapan suaminya, Bia berbalik. "Kenapa?" tanyanya sewot.


"Karena gak lama setelah itu kita pisah. Kamu menderita, aku kesepian dan Divan hidup tanpa ayah. Lebih baik sekarang. Kita saling melengkapi dan punya keluarga sempurna." Dira menghadap ke arah Bia. Ia tatap wajah Bia yang memerah. "Aku senang karena sekarang kamu istriku."


"Ih, Dira. Kamu sweet banget! Pantesan bocah-bocah di perkampungan tempat dulu aku tinggal sering teriak-teriakin nama kamu," puji Bia.


"Kenapa mereka teriak nyebut namaku?"


"Karena kamu maling," timpal Bia sambil menunjuk hidung Dira.


Dira terkekeh. "Maling? Aku maling apa? Ceri di rumah orang?"


"Kamu maling perasaanku," jawab Bia sambil menyilang jempol dan telunjuk membentuk love.


Telunjuk Dira menoyor jidat Bia. "Aslinya gak romantis, gak rame!"


Mereka memakan semua makanan yang Bia bawa. Dira bantu mengupas semangka. "Suapin, ya?" pinta Bia.


"Perasaan aku yang sedih kenapa malah kamu yang minta dihibur?" Dira protes, meski ia tetap menyuapi Bia semangka yang sudah ia potong.


Seirama dengan rambut, bunga matahari menari-nari. Pemandangan yang indah hari ini. Ada mahkota bunga yang kuning menyala, rerumputan hijau yang segar, air kolam beriak juga langit yang biru cerah. Dira menatap Bia yang sedang mengunyah semangka. Ia tersenyum.


"Aku boleh tanya?" Dira memulai kembali obrolan. Bia menatapnya penuh tanya. "Kalau satu hari ini kita bepergian, kamu mau pergi ke mana?"


"Pantai."


Geli rasanya di telapak kaki begitu sandal di lepas dan berjalan di atas pasir. Pantai itu memiliki garis yang lebar. Bia berlari-lari dengan susah payah. Tak jelas tujuannya untuk apa, perempuan itu tertawa sendiri.


Ia membuat gambar di bibir pantai, ombak menyapu kemudian Bia mengomel lagi. Dira sampai tertawa melihat tingkahnya. Pantai itu lumayan ramai oleh turis. Karena topi, tak satu pun menyadari Dira di sana.


"Aku selalu mau jalan di pasir sambil pegangan tangan," pinta Bia sambil menggaruk-garuk telapak tangan. Dira yang sedang peka langsung menyambut keinginan Bia.


"Aku senang banget!" Kepala Bia menyandar di lengan Dira yang lumayan berotot.


"Buat senang sebisa mungkin. Kalau aku sudah kerja lagi, lain ceritanya." Tangan Dira mengusap rambut Bia.


Tiba-tiba Bia nyeringis. Di punggungnya terasa ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. "Kenapa?" Dira memeriksa bagian punggung yang Bia pegang. Ia menurunkan resleting dress Bia dan kaget melihat lebam di sana. "Kenapa bisa begini?" tegur Dira.


"Kemarin didorong Cloe ke tembok. Aku pikir rasa sakitnya akan cepat hilang."


Dira menepuk jidat. "Kenapa baru bilang sekarang? Tahu begitu aku bawa ke dokter saja. Kamu juga kenapa biarin Cloe nyakitin kamu? Harusnya kamu tanpar terus tendang dia."


"Sebelum kamu datang, aku sama dia memang sudah pukul-pukulan," timpal Bia.


Setelah Bia baikan, mereka berjalan menuju bagian pantai paling sepi. Di sana baru Dira membuka topi. Pria yang mengenakan kaos putih itu menapakkan kaki di bibir pantai yang tergenang air hingga mata kaki.


"Dira, mainnya sinian. Takut ombaknya!" saran Bia.


Dira menggeleng. Ia ulurkan tangannya pada Bia. "Sini, belajar lagi gak takut air laut. Kamu pasti bisa."


Bia sempat menggeleng. Namun, Dira tak menyerah begitu saja. Ia tarik tangan Bia dan memeluknya dari belakang. Dira membawa Bia ke bagian pantai lebih dalam di mana airnya sampai ke lutut barulah ia turunkan Bia lagi.


Sempat Bia berteriak meminta kembali ke daratan. "Hei, Bia! Lihat aku! Aku di sini, aku akan lindungi kamu." Dira hadapkan wajah Bia ke arahnya. Ia tatap mata wanita itu. "Gak apa-apa, kan?"


Bia menengok kakinya yang sudah tergenang air laut. Tak ada yang terjadi, dia baik-baik saja. Bia kembali menatap Dira lalu mengangguk. Dira mulai melepas Bia dan mundur beberapa langkah. Ia cipratkan air ke wajah Bia.


"Ayok, kalau berani lawan!" Dira lagi-lagi mencipratkan air ke wajah Bia lagi. Jelas itu membuat Bia kesal dan balas melakukan hal yang sama. Jadilah mereka bermain air hingga baju keduanya basah.


Matahari mulai tenggelem. Menikmati cahaya jingga dan ungu, keduanya berbaring di atas pasir. Bia menyandarkan kepala di dada bidang suaminya.


"Kalau saja hari seperti ini bisa diulang lebih dari sekali, aku masih ingin melewatinya dengan kamu," Dira mengecup kening Bia.


Pelukan Bia semakin erat memeluk pinggang Dira. Ia kedinginan akibat pakaian yang masih basah. Namun, tubuh Dira sangat ampuh untuk menghangatkan.


"Lalu Divan gimana?" protes Bia.


Dira menepuk jidat. "Kenapa aku bisa lupa kalau sekarang kita sudah punya anak. Perasaan masih zaman pacaran saja."


"Iya, kita sudah punya anak. Sekarang kita harus selalu bertiga."


"Kalau nambah jadi berlima bagaimana?" tawar Dira.


🍁🍁🍁