
"Selamat siang," sapa Bia saat Mayen tiba di restoran tempat mereka berjanji bertemu. Pertemuan ini tentu atas izin Dira. Karena itu Diandre sekarang ada di kantor bersama papahnya.
"Siang," jawab Mayen ketus. Terlihat sekali wajah sombongnya akibat berhasil membuat skandal untuk keluarga Kenan. Bahkan pengacara yang dibayar oleh musuh keluarga Kenan berhasil melaporkan kasus Mayen ke polisi. Ernesto juga mendapat panggilan untuk pemeriksaan.
"Kaget ya? Aku berhasil meruntuhkan keluargamu," pamernya.
Wajah Bia sama sekali tak menunjukan perubahan yang berarti. Dira bilang semua hal itu ada dalam kendalinya. Segera semuanya selesai. Bagaimana para musuh itu berpegangan pada skandal Mayen, Dira juga memegang skandal para petinggi perusahaan musuh.
Ernesto sama saja. Sejak awal sudah ia tekankan jika yang membuat ia takut bukan tuntutan Mayen, tapi Bia mengetahui faktanya. Sekarang Bia tahu, apa yang harus ditakuti keluarga Kenan?
"Yang membuat aku kaget justru sikap ibu. Dalam benakku, sosok ibuku adalah seperti bagaimana aku pada anak-anakku. Mungkin lebih," timpal Bia.
Mayen agak tertegun mendengar ucapan Bia. Ia mulai merasa aneh dari kalimat wanita yang kini di depannya yang ia pikir hanya sebatas menantu keluarga Kenan.
"Maksudmu apa?" tanya Mayen.
Bia menunduk sejenak. Lalu ia kembali menatap wanita itu. "Ibu tak perlu mengusut penyebab kematian Ana. Karena Ana masih hidup."
Mata Mayen terbelalak. "Ana masih hidup? Di mana ia sekarang?" tanyanya dengan wajah senang. Bia tak yakin jika wajah senang itu akibat mendengar jika Bia masih hidup, tapi karena warisan.
"Aku. Andriana Saphira Louis adalah aku. Putri pertama ibu dengan ayah Lousiano. Namaku diganti menjadi Drabia Louis," ungkap Bia.
Mayen mematung. Tak lama ia tertawa puas. "Jadi kamu menjadi menantu keluarga Kenan? Wah, bagaimana kamu bisa begitu tega membiarkan aku hidup menderita sementara kamu enak-enakan," protes Mayen.
Mendengar jawaban itu sama sekali tak membuat Bia menyesali dijauhkan darinya. Keputusan ayah dan keluarga Kenan tepat. "Memang ibu pikir hidupku selalu enak? Keluargaku meninggal dalam kecelakaan saat aku enam tahun. Di sekolah aku dibully. Aku juga sempat membesarkan anakku sendiri hingga bekerja di toko roti. Apa saat itu aku menyusahkan ibu? Tidak." Bia mengeluarkan serangan. Ia tahu tak bisa menyadarkan ibunya. Setidaknya Mayen sedikit tahu diri.
Mata Mayen mendelik. "Aku harus mencari beasiswa untuk kuliah karena harta ayah tak mencukupi biaya hidup kami," tambah Bia.
"Kau makan harta itu sendiri, buat apa disesali. Apa kamu bagi denganku? Setelah susah baru kamu ingat ibumu," sindir Mayen.
"Kenapa ibu sangat berambisi dengan uang. Apa dengan itu ibu bisa bahagia? Lihat saja ibu sekarang. Kalau ibu bahagia, ibu gak akan menyakiti orang lain."
"Kamu tahu apa? Semua itu karena ayahmu! Dia punya sahabat kaya, tapi tak bisa meminta jabatan tinggi! Kamu pikir enak apa tinggal di rumah kecil dengan makanan seadanya. Mau belanja saja susah! Kamu nikah sama orang kaya. Mana tahu!"
Bia mendengus. Air matanya sedikit keluar dari sudut matanya. Namun, ia mencoba menahan. "Aku tahu rasanya. Tiga tahun aku hidup tanpa suami. Aku mengandung sambil bekerja. Ke rumah sakit sendiri. Aku harus cari uang untuk beli makan dan susu anakku. Membeli pakaian saja harus mikir berkali-kali. Rumahku hanya seukuran 6 x 5 meter. Dengan semua itu, aku tetap memilih anakku."
Mayen melipat tangan di dada. "Itulah bodohnya kamu. Persis seperti ayahmu, sok baik!" umpatnya.
Bia tahu percuma bicara dengan Mayen. "Untuk apa ibu mencari Ana kalau akhirnya ibu hanya bisa mengataiku? Kupikir ayah tepat menyembunyikan aku dari ibu. Setidaknya aku tidak tumbuh seperti ibu."
"Memang anak tak tahu diri. Memang kamu bisa mengganti biaya rahimku?"
Wajah Bia memerah. "Aku juga tak minta dilahirkan olehmu. Jika bisa meminta, aku ingin lahir dari bundaku saja. Uang dari keluarga Kenan selama ini, anggap saja untuk membayarnya," tegas Bia.
Bia bangkit meraih tasnya. "Aku memberi ibu peringatan karena masih menganggap ibu adalah ibuku. Jangan macam-macam dengan keluarga Kenan. Mereka kemarin diam hanya untuk menutupi masalah ini dariku. Sekarang Bia tahu, sudah waktunya mereka menghancurkan ibu. Lebih baik menyerah sebelum itu tiba. Bia tak bisa membela apa-apa karena itu pilihan ibu sendiri," tegas Bia.
"Iyakah? Jangan sombong! Selama ini Ernesto Kenan selalu takluk padaku. Tahu kenapa? Aku tahu semua musuhnya!" ancam Mayen.
Bia menggeleng. "Karena saat itu mereka ingin merahasiakan semuanya dariku. Kali ini lain. Aku sudah berikan peringatan ini. Ibu ingin percaya atau tidak, itu hak ibu," tegas Bia.
"Aku sudah membayar makanannya. Ini hadiah untuk Ceril. Meski kami beda ayah, dia tetap aku anggap adik. Hanya tetap kasih sayangku ada batasnya. Aku hanya minta berhenti bermain dengan api. Jangan ajarkan Ceril untuk menjadi seperti ibu. Dia masih muda," pesan Bia lalu pergi dari tempat itu.
Mayen memukul meja dengan keras. "Anak durhaka!" pekiknya.
🍁🍁🍁