Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Ditipu


"Ru, boleh aku meluk kamu? Aku mau nangis," pinta Langit melihat kesulitan hidupnya.


"Peluk saja, tapi aku gak balik meluk. Takut gak mau lepas." Satu kalimat gila dan berhasil buat Langit tersenyum.


CUPLIKAN ISTRI SANG PEWARIS TAHTA -----


yuk baca di noveltoon/mangatoonku.


🌱🌱🌱


tepat ketika ia keluar dari rumah, Bia melihat mobil Sayu menyisi ke samping terasnya. Sepertinya Sayu juga melihat Bia keluar karena ia langsung menurunkan kaca mobil.


"Mau ke mana, Bi?" tanya Sayu. Bia melongok ke jok bagian depan mobil. Ada Ana juga di sana. Ia melambai pada Bia.


"Dira bilang mau beli mobil baru, jadi butuh penjamin begitulah. Aku juga gak ngerti. Mana sudah malam," keluh Bia.


Sayu mengangguk. "Naik saja. Biar aku anter kamu ke sana," tawar Sayu sambil menunjuk jok belakang mobilnya yang kosong. Bia menurut saja. Ia buka pintu mobil bagian belakang lalu duduk di sana. Tak lupa ia tutup kembali pintunya.


"Kamu mau ke rumah? Kenapa malah nganterin aku? Tunggu saja sampai aku pulang," tanya Bia penasaran.


"Gak apa, bisa besok mainnya. Lagian ini sudah malam, loh. Nanti pulangnya takut kamu malah malam banget," timpal Sayu.


Bia menunjukkan alamat showroom mobil yang Dira berikan di teks. Sayu dan Ana rasanya tak tahan melihat kepolosan Bia. Sudah jelas di alamatnya tertulisa resort, tapi ia masih percaya itu showroom. Padahal Bia itu sangat pintar, tapi mudah saja dibodohi Dira.


Mobil tiba di pelataran resort yang Dira tunjukkan. Bia turun dari mobil sambil menengok ke sekitarnya. Ia bingung sendiri. "Lha, showroom mobilnya mana?" tanya Bia yang hanya melihat bagian depan entrance resort yang terlihat mewah.


Sayu menuntun Bia masuk. Sempat Bia menahan Langkah. "Kita gak salah tempat?" tanya Bia memastikan.


Sayu menggeleng. "Kamu cek sendiri saja pakai maps. Ini memang tempatnya kok!"


Sayangnya Sayu dan Ana langsung menarik Bia masuk ke dalam. Mereka langsung memberi tahu pelayan untuk menunjukkan kamar yang Dira pesan. Bia mencoba melepaskan diri dan akhirnya kalah dengan dua sahabatnya itu.


Mereka sampai di depan kamar dengan dua pintu besar dengan tinggi hingga lebih dari dua meter. Pintu yang cukup besar sampai perlu dia bellboy yang membukanya. Pantas saja, kamar di dalamnya juga cukup besar dan mewah. Bagian geli dari kisah ini adalah saat Sayu mengeluarkan pakaian dari sebuah kotak. Itu bukan gown juga bukan dress, justru sebuah seragam sekolah yang Bia ingat adalah seragam khusus di SMAnya.


"Gak mau, ah! Kenapa aku harus pakai baju ginian?" protes Bia. Perempuan itu bergidik saking tak maunya. Sayangnya Bia tak bisa apa-apa melihat Sayu sudah melotot. Akhirnya Bia memakai seragam kemeja putih dan blazer juga rok hitam itu. Tak lupa dasi merah bergaris putihnya.


"Aku sudah punya anak dua, masa pakai seragam SMA," keluh Bia malu-malu sampai menutup dirinya dengan gorden besar coklat yang menutup jendela serta pintu geser menuju ke sisi pantai.


"Kamu cantik, loh! Masih pantas pakainya juga. Anak masih bayi, tapi badan kok sudah ramping begitu," puji Sayu.


Mereka tahu waktu berjalan semakin cepat. Sudah pukul delapan malam dan waktunya Bia harus bertemu Dira. Sayu meminta pelayan menunjukkan tempatnya. "Ikuti saja, aku sama Ana mau pulang. Diandre sama Divan biar kami jaga. Siapa tahu kalian gak akan pulang semalaman," ucap Sayu nakal.


Sepeninggal Sayu, tinggalah Bia mengikuti pelayan wanita yang menunjukkannya jalan melewati lorong-lorong. Hingga tiba di pintu kaca besar yang terbuka dan di luarnya terlihat pemandangan ombak juga hamparan pasir. Bia turun ke permukaan pantai.


"Saya hanya diizinkan sampai sini. Nyonya lihat ada gazeboo? Tuan Kenan menunggu di sana," ucap pelayan itu. Bia memang melihat sebuah gazebo putih di kejauhan, tapi gelap sekali tempat itu.


Sepatu kets Bia berjalan di atas pijakan batu bulat. Ia masih penasaran denga napa yang akan ia temukan di sana. Hingga jaraknya semakin dekat dan Bia hanya bisa melihat gazebo gelap. Angin meniup rambutnya yang terurai. Bia mengaitkan anak rambut ke telinga. Hingga tiba-tiba lampu gazebo itu menyala dan ia melihat sosok Dira di sana memegang bunga juga memakai seragam SMA yang sama.


Bia menutup mulutnya saking kaget melihat betapa Dira tak berubah sama sekali. Ia seperti terbawa pada waktu empat tahun lalu saat mereka masih sekolah. Bahkan Dira sengaja menata rambutnya persis seperti masa SMA dulu.


"Kamu ngapain sih ini?" tanya Bia dengan mata berkaca-kaca saking kagumnya.


Dira berjalan mendekati Bia dan memberikan buket bunga di tangannya. "Aku mau bayar waktu tiga tahun yang sempat hilang untukmu. Sebelum itu, aku mau bilang, selamat ulang tahun pernikahan yang pertama Drabia Azura Kenan," ucap Dira sambil memeluk Bia dengan erat.


Bia tak tahu harus berkata apa. Ia sangat senang dengan apa yang suaminya lakukan. Tak menyangka Dira akan menyiapkan acara sampai sedetail ini hingga di dalam gazebo bisa Bia lihat dekorasi yang cantik dan memanjakan mata.


🍁🍁🍁