Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kabar dari Matteo


Tiba di rumah, Dira dikagetkan dengan keberadaan Matteo dan Cynthia di sana. Matteo ikut kaget melihat wajah sembab Divan. Ia mengusap rambut anak itu.


"Jagoannya Oom kenapa nangis?" tanya Matteo.


"Ada anak jahat di sekolah," adu Divan. Matteo mengecup pipi Divan. Ia lagi-lagi mengusap punggung Divan yang ada di gendongan Dira sementara Diandre bersama Bia.


"Jagoan, Oom ... kalau ada anak nakal, omelin saja. Kasih tahu itu gak baik. Kalau gak, jangan temenin. Teman banyak yang baik," nasehat Matteo. Divan mengangguk.


"Kasian banget, Dir. Matanya sampai sembab gini, diapain?" tanya Cynthia ikut khawatir.


"Biasa komplikasi. Aku antar Divan dulu ke kamarnya. Biar dia tenang sama Bia. Nanti aku ke sini lagi," pamit Dira.


Matteo dan Cynthia mengangguk. Dira berjalan menuju kamar Divan di lantai dua. Tiba di sana, Dira menurunkan Divan di samping tempat tidur, sementara Bia duduk di sisi tempat tidur dan menurunkan Diandre di atas tempat tidur.


Diandre langsung merebahkan tubuhnya di sana dengan tangan dan kaki yang direntangkan. "Duh, Diandre capek ya?" tanya Dira sambil tertawa dan mengecup kening Diandre.


"Ya ... ya ...," jawab Diandre.


Bia meraih Divan dan memeluknya. "Papah ke Oom Matteo dulu, ya? Divan di sini sama mamah," saran Dira. Divan mengangguk.


Lekas Dira turun ke ruang tamu. Matteo dan Cynthia sudah duduk di sofa bersebelahan. Dira menyipitkan matanya. Pandangan pria itu tak lepas dari pasangan yang kini duduk di sofa yang berhadapan dengannya.


"Ada apa ini?" tanya Dira.


Baik Matteo dan Cynthia menunduk malu. "Gak perlu sok tebak-tebakan. Aku tahu kalian pacaran. Kalvis sering mengadu," todong Dira.


Matteo dan Cynthia tertegun lalu menatap Dira. "Gini, Dir. Aku mau izin cuti kerja," ungkap Matteo.


"Mau nikah? Kapan?" Lagi-lagi Dira main todong. Matteo dan Cynthia yang tadinya malu-malu kucing mendadak masa bodo. Ternyata reaksi Dira hanya ... biasa saja.


"Rencananya bulan depan. Kami sudah siapkan semuanya. Untung Kalvis mau bantu," jelas Matteo.


"Bia sering protes katanya kamu sama Kalvis gak pernah aktif di grup chat lagi. Jadi alasannya ini? Kalian anggap aku apa? Kenapa gak dilibatkan?" protes Dira.


Matteo terkekeh. "Sengaja, Dir. Kan memang maunya bikin kejutan buat kalian. Mana kamu sibuk sama agensi. Lebih dari itu sih, sekarang kamu lagi ada masalah juga di sana. Gak mau ngerepotin tadinya," jawab Matteo.


"Nah, ini nih. Pasti kamu bilang gini. Makanya kami gak enak ngomong ke kamu. Pasti kamu bantu," ucap Matteo.


Dira terkekeh. "Yang siapin pernikahan aku sama Bia juga kamu, kan? Ulang tahun Divan sampai ulang tahu Diandre. Masa kamu nikah aku diam saja," alasan Dira.


Matteo mengangguk. "Maaf, Dir. Tadinya beneran gak mau ganggu kamu. Kasihan. Gak diganggu saja pulang ke rumah sudah sering malam. Apalagi diganggu," timpal Matteo.


"Kalian ada rencana bulan madu ke mana? Biar aku yang mengurus akomodasinya. Ouh iya, minggu depan aku mau ke Emertown. Temannya Bia menikah juga. Sebelum itu cepat kasih tahu pokoknya."


Matteo mengangguk. "Undangannya baru selesai tiga hari lagi. Nanti kamu bantu beri tahu Tuan Kenan, ya? Kalau gak undang rasanya kurang sopan. Kalau undang malu, beliau orang besar," ucap Matteo.


Dira mengangkat alisnya. "Kamu itu, kayak gak kenal papahku saja. Dia memang kaku, tapi persis aku. Kalau sudah bercanda sih lucu."


Tetap saja Matteo takut. Papah Dira bukan orang biasa. Dia orang terkaya di Livetown. Perusahaannya di mana-mana. "Takutnya ganggu, loh. Beliau orang sibuk," ucap Matteo.


"Pasti papah datang. Gak mungkin gak datang. Habis dari sini, kita ke rumah orang tuaku. Biar aku temanin kalau kamu takut keluar dari sana mati," saran Dira.


"Hush! Gak gitu juga kali!" protes Matteo.


"Cloena sudah dikasih tahu?" tanya Dira pada Cynthia. Terakhir Bia tak jadi ke sana akibat kelakuan Diandre yang benar tak bisa ditinggal ibunya.


Cynthia menarik napas panjang. Tersurat ada kesedihan di sana. "Iya, dia bilang minta aku videokan proses pernikahannya supaya bisa nonton. Aku sedih banget, Dir. Harapanku dia bisa ikut hadir. Mau gimana lagi," keluh Cynthia.


"Aku juga belum jenguk dia. Paling nanti sekalian sama Bia. Kalau sendiri gak enak. Nanti Bia semalaman gak mau mandang wajah aku," kelakar Dira.


Matteo dan Cynthia tertawa. "Sudah, gak usah bahas. Orang Cloenanya saja biasa gak aneh-aneh. Nanyain kamu saja gak. Dia kayaknya lagi dekat sama polisi di sana. Baik banget polisinya, bawain dia makanan," cerita Cynthia.


Dira mendengus. "Bukan suami orang kan polisinya?" tanya Dira memastikan.


Cynthia menggeleng. "Bukan, duda sih anak satu. Itukan, Cloena belajar bikin kue diberikan ke polisi itu. Sampai jadi ledekan banyak orang. Lama-lama jadi serius mereka."


Dira tertawa. "Mudah-mudahan Cloena dapat pemotongan tahanan. Kasihan polisinya kalau jadi duda lama-lama."


🍁🍁🍁