Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
pulang


"Semoga selamat sampai tujuan, Tuan dan Nyonya," ucap para pelayan di rumah Dira. Bia mengangguk. Ia tatap pintu rumah yang baru ia tinggali beberapa bulan dan harus ia tinggalkan. Napas Bia terasa berat. Di satu sisi ia harus tinggalkan kehidupan yang baru ia rajut dan di sisi lain ia kembali ke kehidupannya yang tenang di kampung halaman.


"Bi, ayo pulang," ajak Dira yang sudah duduk di kursi kemudi. Bia mengangguk. Ia buka pintu mobil lalu duduk di kursi mobil di samping Dira. Divan sudah duduk bersama mainannya di kursi belakang. Anak itu sudah cerewet dari sore minta tempat duduk sendiri bersama truk dan pororonya.


"Balangkat!" seru Divan. Dira sampai tertawa akibat Divan lagi-lagi lidahnya terpeleset.


Keluarga kecil itu memulai perjalanan pulang mereka. Saat gerbang dibuka, banyak wartawan sudah menunggu di sana. Bia mengintip pada jendela mobil yang berkaca hitam.


"Mereka masih ngejar-ngejar kamu, ya? Padahal klarifikasi kemarin sudah jelas," ucap Bia.


"Mungkin karena tak ada bahan skandal lain. Nanti juga kalau ada masalah lain otomatis mereka berhenti nyari aku. Apalagi aku sudah resmi mundur dari dunia keartisan. Gak ada lagi bahan yang menarik untuk gosip mereka."


Berangkat pukul delapan malam dari Heren, perkiraan mereka sampai pukul satu pagi. Jam yang pas agar tak menarik perhatian orang sekitar. Meski nanti mereka tinggal di kompleks perumahan yang cukup sepi. Para petinggi Kenan Grouph memiliki rumah di Emertown hanya sebagai tabungan masa tua. Emertown memang kota yang cocok untuk mendamaikan kehidupan.


"Jadi kita tinggal di rumah Nenek?" tanya Bia. Dira mengangguk. Pria itu masih sibuk dengan kemudinya. Dira awalnya sudah siap menego sebuah rumah di sana. Sayang, keluarga besarnya meminta ia mengisi rumah Nenek Benedith yang kosong. Katanya karena Dira cucu kesayangan nenek.


"Uluh-uluh, ogi lecet," keluh Divan saat memeriksa tubuh roggy. Kasihan truk itu selalu jadi jagoan Divan untuk diadu dengan benda lain.


"Kamu sih punya mainan ditabrak-tabrakin semua. Kemarin gitar papah kamu tabrakin sama dia. Retak sudah gitar mahal," keluh Dira.


Bia mengusap punggung suaminya. "Sabar, setidaknya kamu gak ngerasain jidat kamu yang dia tabrakin ke roggy. Aku sampai benjol empat hari," timpal Bia.


Dira tertawa. "Iyakah? Kapan? Kok bisa aku gak liat. Kan asyik," komentarnya.


Bia manyun. Ia memperbaiki bandonya. Sementara Divan masih mengusap-ngusap bemper Roggy yang patah meski tak secuil. "Besok ke bengkel ya papah, benelin ogi," pintanya. Divan ingat pernah diajak Matteo ke bengkel saat mobil Dira penyok bagian belakangnya akibat ditabrak motor yang tak taat aturan lalu lintas.


"Itu gak bisa dibenerin ke bengkel. Biar nanti tutup saja pakai plester. Kalau gak, kamu beli lagi," saran Dira praktis.


Divan manyun. Ia tak ingin Roggynya tergantikan. "Ogi cinta sejati Divan," celetuk anak itu meniru ucapan Dira kalau sudah menggoda Bia. Jelas ibu dan ayahnya lagi-lagi tertawa.


Gedung-gedung bertingkat mulai berkurang jumlahnya. Tanda mereka mulai memasuki batas kota Heren. Dira menurunkan kecepatan mobil ketika memasuki jalan tol.


"Van, sini ke depan. Nanti kamu keguling," saran Bia melihat putranya itu sudah seperti lampu kurang tegangan listrik. Matanya mulai menutup dan membuka berkali-kali dan tubuhnya mulai oleng.


Divan menggeleng. Ia merebahkan tubuh di jok belakang sambil memeluk pororonya. Kaos biru tua Divan sampai terlipat keluar karena setelah itu ia berguling-guling di sana mencari posisi wuenak.


"Pelan ya, Pah. Nanti Divan jatuh." Bia menepuk lengan Dira. Suaminya mengangguk.


Mobil itu melaju dengan kecepatan minimal di jalan tol. Langit mulai memperlihatkan bintang tanda kota metropolitan sudah berlalu. "Selamat tinggal Heren," batin Bia.


Tanda batas kota sudah terlihat. Masih sisa empat jam lagi menuju Emertown. Bia iseng membuka ponsel dan melihat trending topik di aplikasi burung. "Apa ini?" tanya Bia lalu memperlihatkan video di aplikasi itu pada Dira.


"Siapa yang benar antara Dira dan Cloe." Bia membaca salah satu thread yang berisi video itu. Hastag tentang dukungan untuk Cloena tetap membanjiri.


"Mereka mesra sekali. Aku sampai baca pesan di chat pribadi mereka. Bikin baper. Makanya tahu putus itu aneh. Orang beberapa hari setelah tunangan, Cloe marah dan Dira sempat nyusul pulang ke Heren," jelas Amber dalam salah satu acara Talkshow.


"Sejak ketemu wanita itu, Dira mendadak jadi beda. Dia gak tahu kenapa sering cari perhatian sama Dira. Cowoknya jelas gak enak kalau gak bantu, karena kenal, tapikan Cloe tahu mereka itu mantan pacar. Makanya di situ Cloe sudah gak enak hati."


Dira mengambil ponsel Bia lalu melemparnya ke dashboard. "Gak usah dengerin ucapan mereka. Cloe sampai kena azab baru berhenti mengeluarkan cara," ucap Dira kesal.


Bia mengangguk. Ia melihat ke belakang di mana Divan sudah tidur lelap. Anak itu hebatnya ingat memakai selimut yang Bia siapkan di jok belakang.


"Dia akan selalu jadi hantu sendiri dalam rumah tangga kita," keluh Bia.


Dira meraih tangan Bia dan menggenggamnya. "Karena itu lebih baik kita menghindar sampai menemukan hal yang bisa menghentikannya."


"Heli koloptel mahal." Divan melantur sampai Bia dan Dira terdiam lalu tertawa bersama. Mereka sama-sama memberi kode diam agar mendengar kelanjutan lanturan Divan. Anak itu kalau main terlalu capek memang begitu, melantur.


"Houh, Divan kalang kololomelat." Lagi-lagi Divan melantur.


"Dia bilang apa, sih?" tanya Dira bingung.


Bia menggeleng. Kalau ada bahasa Divan tidak ia mengerti, artinya Divan baru menemukan kata-kata baru.


"Anak kita itu memang selalu buat moodku jadi baik lagi. Tadi saja kecewa gak bisa ketemu Haley, tiba-tiba aku datang dia joget-joget kayak bebek. Mana sambil nyanyi gak jelas isinya apa," ucap Dira.


Bia tersenyum. Sebuah pikiran menelisik dalam perhatiannya. "Dir, aku lupa mau bilang sama kamu. Cuman tadi pas aku ke apartemen kamu, aku ketemu sama Haley Alvonz itu. Aku yakin sih itu dia, mirip banget. Lumayan lama aku liat wajahnya. Habis di lift sama dia lumayan lama," ungkap Bia.


"Apartemen aku? Ngapain?" tanya Dira bingung.


"Bukan dari apartemen kamu. Anehnya dia masuk lift dari lantai dua puluh," ucap Bia.


Dira terdiam. Ia tahu lantai dua puluh di apartemen itu rumah Cloena, tapi Hugo juga di sana. "Apa ketemu Hugo?" tanya Dira. Bia menggeleng.


"Besok pagi biar aku telpon Hugo untuk dapat kepastian," ucap Dira.


🍁🍁🍁


Jadi kata Hugo, Haley itu ... ttttiiiiiiiiiiiittttttttt