
Tadinya Bia pikir itu rumah tempat menyimpan peralatan peternakan, tapi dari luar terlihat sangat terawat. Dira membuka kuncinya. Sebelum membuka pintu, ia tutup mata Bia dengan salah satu tangannya.
"Jangan mengintip!" titah Dira. Sambil menutup Mata Bia dengan tangannya, ia bawa Bia masuk ke dalam ruangan.
"Ini kamu ngapain?" tanya Bia bingung. Terdengar suara Dira menekan stop kontak lampu. Kemudian perlahan ia tutup kembali pintu dengan kakinya setelah mereka di dalam rumah.
Dira mulai membuka tangan. Seketika Bia tertegun dengan apa yang ada di depan mata. Banyak balon yang menghiasi langit-langit ruangan dan kelopak bunga di lantai. Buket-buket bunga disusun di atas meja dan makanan mewah tersaji di meja makan yang berada di tengah ruangan.
Ruangan itu juga begitu indah. Temboknya memiliki wallpaper bergambar bunga anyelir dan atapnya memiliki pola kayu yang khas. Ruangan itu tercium bau wangi yang nyaman dan terasa hangat.
Dira berjalan ke sisi ruangan. Ia menyalakan turntable dan membuat seisi ruangan tambah hangat dengan lagu klasik. Kemudian ia kembali ke dekat Bia dan menuntun perempuan itu untuk duduk di kursi makan.
Dira membuka botol red wine. Ia tuangkan isinya ke dua gelas. Setelah itu Dira duduk di kursi yang berhadapan dengan Bia.
"Ayo makan! Kamu belum makan siang, kan?" tanya Dira.
Bia terkekeh. "Setelah kemarin pergi seharian dan baru kembali siang ini, kamu minta maaf dengan mengajak makan siang di sini?" tanya Bia. Makanan di atas meja begitu menggugah selera.
"Ini rumah tempat kakekku menenangkan diri. Kamu orang pertama yang aku ajak ke sini, loh!" pamernya.
Rumah itu memang indah, barang-barangnya begitu klasik dan didominasi kayu, perapian di sisi ruangan dengan motif daun menghiasi temboknya. Rumah kecil, tapi terlihat nyaman dan hangat. "Gak perlu sampai bunga-bunga dan balon-balon itu juga."
Dira mengangkat gelas red winenya. Ia meneguk isi gelas pelan-pelan. "Makan dulu!" tegas Dira. Bia menurut saja. Ia menikmati pasta juga makanan pendamping lain. Dira sama sekali tidak berkata apa-apa selama makan. Jadilah Bia ikut konsentrasi pada makanan saja.
Setelah piring kosong, Dira merapikan meja. Ia membawa piring-piring itu sendiri ke dapur, sempat Bia menawarkan bantuan tapi langsung ia tolak. Bia masih menunggu sambil duduk di meja makan. Ia melihat-lihat ruangan yang sudah tertata rapi dengan hiasannya.
"Sikap dia gak seromantis ruangannya," gerutu Bia.
"Apa?" tanya Bia galak.
Dira menggeleng. "Emang mau apa?" pria itu malah balas bertanya dan membuat Bia salah tingkah sendiri.
Tiba-tiba Dira berlutut di depan Bia. Salah satu tangannya kini menggenggam tangan Bia sementara tangan lainnya mengambil sesuatu di dalam saku. Bia tertegun melihat kotak cincin diambil Dira dari sakunya. Ketika kotak itu terbuka, ada cincin dengan hiasan berbentuk mahkota dihiasi berlian yang terlihat mahal.
"Aku ingin melakukannya dengan benar, bukan karena terpaksa akibat anak kita ditahan Papahku. Bukan juga karena ada anak diantara kita. Anggap semua itu tak ada dan hanya ada aku juga kamu berdua seperti hari ini," jelas Dira. Dari suaranya yang bergetar, terlihat ia gugup.
"Drabia Azura Louis, maukah kamu menikah denganku yang manja, menyebalkan, bodoh, dan jahat ini?" tanya Dira.
Bia mematung, jantungnya berdebar. Lebih dari itu, air matanya terpancing ke luar. "Maukah kamu menjadi istriku, mendampingi hingga aku mati, melahirkan anak-anakku, menerima kekurangan dan kelebihanku. Lebih dari itu, maukah kamu mencintaiku lagi?"
Hati Bia rasanya tersentuh. Ia sama sekali tidak tahu Dira akan berbuat sejauh ini. Dia memperlihatkan bagian manis dan indah dirinya. Bagian yang dulu membuat Bia begitu jatuh cinta dan menggila.
"Lalu bagaimana dengan kamu? Mau kamu jadi suamiku yang mencintaiku apa adanya, menemaniku hingga aku mati, setia padaku, jadi ayah untuk anak-anakku?" Bia bertanya balik.
Dira bangkit dan mengecup kening Bia. "Aku mau," jawabnya. Air mata Bia mengalir. Ia terharu hingga bibirnya bergetar. Dira memberikan cincin itu pada Bia. "Biar aku pasangkan ini di pesta pernikahan kita. Sampai hari itu, kamu pegang cincin ini sebagai janjiku sebelum pernikahan."
Bia mengangguk. Ia peluk Dira dengan erat. Lagi-lagi ia menangis, untuk membasuh lukanya selama ini. Dira balas memeluk Bia. Tadinya dia tak ingin menangis, terlihat cengeng. Akhirnya Dira menangis juga.
"Bi, maafkan aku selama ini. Maafkan aku buat kamu menderita. Maafkan aku yang tidak menjagamu selama kamu hamil, tidak mengantarmu ke rumah sakit dan menjagamu selama melahirkan. Namun, aku janji setelah ini aku akan selalu ada untukmu juga Divan. Aku akan tebus tiga tahun kesulitanmu dengan waktuku seumur hidup," ucap Dira lirih.
🍁🍁🍁
Cie ... yang akhirnya tahu bocoran postingan igku asalnya dari cahpter mana