
Lily terbangun kala merasakan sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya, tangan besar yang kokoh dan berbalut perban. Perlahan Lily membalikkan badannya, ia melihat wajah Aric terlelap.
Wajah laki-laki itu tampak pucat, sama seperti saat ia berangkat tadi pagi. Namun, kali ini ada sebuah goresan pipi sebelah kiri.
"Apa yang terjadi? kenapa wajahmu seperti ini?" Lily membelai luka yang masih belum kering itu dengan hati-hati.
Wanita itu kemudian mulai membuka kancing piyama tidur Aric. Tangannya gemetar saat membuka kancing kedua, terlihat jelas perban yang membalut dada Aric.
"Apa ini? kenapa seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi padamu?"
Lily bangkit lalu menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mereka, dengan cepat ia membuka semua kancing baju Aric untuk memeriksa keadaan suaminya itu. Benar dugaannya, perban itu melilit tubuh Aric sampai ke.bawa pinggang, lengan kanannya juga terluka.
Lily menutup mulut dengan kedua tangannya, air mata Lily luruh melihat tubuh Aric yang penuh luka.
Mendengar suara tangis seseorang Aric pun terbangun, ia terkejut saat mendapati sang istri menangis tersedu di sampingnya. Aric seketika bangkit.
Lily segera menghapus air matanya dengan cepat.
"Sayang apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Apa kau sakit? Mana yang sakit? Aku akan segera memanggil dokter." Aric segera turun dari ranjang.
"Telepon dokter sam sekarang, agar dia bisa mengatakan apa yang terjadi padamu?!"
Langkah Aric terhenti, ia mengerutkan keningnya. Pria itu sadar dengan keadaan dirinya, atasan piyama yang ia pakai sudah terbuka.
Ia terlalu khawatir dengan sang istri yang menangis, sampai lupa dengan dirinya sendiri. Aric segera mengancingkan kembali piyamanya. Kemudian ia berbalik dan menghampiri Lily yang duduk di ranjang.
"Ini hanya luka ringan, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir." Perlahan Aric naik keatas ranjang, hendak hendak memeluk Lily tetapi wanita itu beringsut mundur menghindar.
"Sayang."
"Jangan panggil aku Sayang, kau bahkan tidak mau jujur padaku. Apa kau pikir aku percaya kalau kau menyayangiku!" bentak Lily.
Wanita itu meluapkan amarahnya. Aric tertegun, dengan cepat ia merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya.
"Lepaskan!" Lily meronta memukuli dada Aric.
Aric mempererat pelukannya, Lily semakin terisak. Perlahan tangannya mengendur ia membalas pelukan Aric dengan erat, seolah pria itu akan hilang saat ia melepaskannya.
"Maaf aku membuatmu khawatir." Aric mengecup lembut pucuk rambut Lily dengan penuh kasih.
Cukup lama mereka berpelukan, hingga Lily tenang dalam dekapan suaminya itu. Perlahan Aric mengendurkan pelukan, ia sedikit menarik tubuhnya menjauh agar bisa melihat wajah Lily. Kedua mata lentik itu terlihat sembab, Aric menghapus jejak air mata dengan ujung jempolnya.
Aric mengecup lembut dua kelopak mata Lily secara bergantian, perlahan turun mengecup hidung kemudian bibir Lily yang begitu manis.
"Kenapa kau berbohong? kenapa kau jahat padaku?"
"Mateo bilang kau akan pergi beberapa hari. Kau tidak memberikan kabar padaku, tapi justru memberikan kabar pada Mateo, apa dia lebih penting dariku?"
Aric menggelengkan kepalanya cepat.
"Tentu saja tidak, Sayang. Tidak ada yang lebih penting darimu dan keluarga kecil kita," ucap Aric.
"Hemp ... Aku meragukannya." Lily melipat kedua tangannya, lalu membuang muka ke arah lain.
Aric tersenyum, entah kenapa ia merasa Lily sedang cemburu dengan Mateo.
"Hey ... Apa kau tidak percaya dengan suamimu ini?" Aric memeluk Lily dari belakang. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Lily.
"Katakan kenapa aku harus percaya padamu?"
"Karena aku suamimu." Lily memutar matanya jengah.
Aric dia sejenak, haruskah ia jujur tentang siapa dirinya. Tapi, keadaan masih sangat kacau ia tidak ingin membuat Lily semakin merasa khawatir.
"Terjadi kecelakaan kecil tadi," jawab Aric santai.
"Apa?! Kecelakaan, bagaimana itu bisa terjadi?" Lily terkejut mendengar jawaban Aric.
Ia membalikkan tubuhnya, ia menatap lekat wajah Aric yang juga sedang menatapnya. Lily merasa bersalah karena telah memarahi Aric.
Mateo pasti sengaja berbohong pada Lily tentang perjalanan bisnis Aric, ia pasti tidak ingin dia merasa khawatir dengan keadaan Aric.
"Jadi, Mateo bohong soal perjalanan bisnismu?"
Aric mengangguk. Ia mengusap lembut pipi sang istri.
"Waktu itu aku belum sadar, jadi Rey memutuskan untuk memberitahu Mateo untuk memberitahumu kalau aku pergi keluar kota, mungkin mereka tidak ingin kau khawatir."
Lily menundukkan kepalanya, semua orang tahu. Semua menjaga perasaan Lily, tapi dia. Dia malah memarahi Mateo.
"Aku istri yang tidak berguna, bahkan aku tidak tahu kalau suamiku terbaring di rumah sakit. Aku istri yang bodoh, iya kan," tutur Lily sendu, ia merasa sangat bersalah pada Aric.
"Hey ... Tidak ada hal seperti itu, Sayang. Kau adalah kesayanganku, tidak ada yang lebih penting darimu. Aku yang salah karena tidak memberimu kabar, jangan salahkan dirimu," ucap Aric, ia mencoba menenangkan Lily.
"Seharusnya aku di sana, menemanimu di saat kau terluka. Tapi lihatlah, aku malah bersantai di rumah sementara kau kesakitan," geram Lily. Ia marah pada dirinya, marah pada keadaan yang membuatnya terlihat bodoh.
"Tenanglah, tidak terjadi apa-apa. Seperti yang kau lihat aku masih bisa selamat, tapi Hakim keadaannya sedikit lebih buruk."
"Hakim? bagaimana keadaannya?" tanya Lily dengan raut wajah cemas.
Aric menatap tajam pada Lily, ia menyesal menyebut nama asistennya itu.
"Katakan bagaimana keadaan Hakim, kenapa kau malah diam?" cerca Lily.
"Tulang kakinya patah, saat aku pulang tadi dia belum siuman," jawab Aric malas.
"Ya Tuhan, kasihan sekali. Lalu dengan siapa dia di rumah sakit? Apa kau sudah menghubungi keluarganya? Bagaimana kalau dia tidak bisa berjalan lagi? Kasihan sekali, sungguh malang dia. Bukankah dia belum menikah?"
Aric benar-benar tidak suka mendengar Lily mencemaskan Hakim seperti itu, tidak boleh. Lily hanya boleh perhatian padanya.
"Sayang, aku juga sakit," rengek Aric, Ia merunduk meletakkan kepalanya di dada Lily.
"Apa tulang mu juga ada yang patah?"
"Tidak, tapi -,"
"Kalau begitu kau lebih beruntung daripada Hakim, dia mungkin saja tidak bisa berjalan dalam waktu yang lama. Sementara kau masih bisa seperti ini, seharusnya kau bersyukur."
"Ck, itu karena dia lemah, tulangnya terlalu rapuh."
Lily terkekeh, ia tahu suaminya itu sedang cemburu pada Hakim. Laki-laki besar itu, apa dia tidak tahu kalau Lily telah kalah, wanita itu telah benar-benar kalah dan jatuh dalam cinta dan kelembutan Aric.
"Bau apa ini, kenapa seperti bau cuka?" Sindir Lily.
"Tidak ada cuka, jangan mengarang," kilah Aric, ia tahu istrinya itu sedang menyindir dirinya.
"Lihatlah, ayahmu sangat suka makan cuka. Jangan seperti itu saat kau sudah dewasa ya," ucap Lily sambil mengusap perutnya.
* Makan cuka atau bau cuka adalah istilah untuk orang cemburu.