Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Pisah


"Divan pamit. Maaf Divan nakal, tapi Divan juga suka baik. Nanti teman pasti kangen, Divan sama juga," pamit Divan di depan kelas. Bia memperhatikan dari pintu. Divan menunduk. Ia mendongak dan melihat wajah gurunya.


"Ibu guru, Divan nanti kangen," ucap Divan. Ia mengulurkan kedua tangannya minta dipeluk. Guru mengangguk lalu menunduk untuk mememeluk Divan. "Ibu guru sehat selalu, ya?" ucap Divan.


Gurunya mengangguk. "Divan di sekolah yang baru semakin pintar, ya? Rajin sekolah juga sayang pada semua orang," pesan gurunya. Air mata Divan mengalir. Ia berat jika harus pindah sekolah, tapi dia juga tak mau menyakiti temannya jika terus berada di sini.


Setelah pamitan pada gurunya, Divan berjalan memeluk teman-temannya. Anak-anak itu menangis. Mereka terlalu betah main dengan Divan. "Divan nanti gak ke sini lagi?" tanya Leo.


Divan mengangguk meski menyesal. "Leo main ke rumah Divan saja. Ada di 5th year lakeside Estate," Divan memberi tahu alamatnya. Leo mengangguk meski ia tak menghafal apa yang Divan katakan.


"Raya, Divan maafin. Maaf Divan kasar," ucap Divan dengan besar hati. Raya mengangguk. Ia balas uluran tangan Divan.


Terakhir kali, Divan melambaikan tangan. Ia berjalan ke pintu sambil sesekali melihat teman-temannya yang menangis melihatnya. "Divan!" panggil anak-anak itu dengan suara lirih.


Divan mengusap air mata. Ia berlari memeluk Bia untuk menyembunyikan kesedihan. "Ibu guru, saya pamit. Terima kasih sudah menjaga Divan selama ini. Ini ada kado buat ibu juga teman satu sekolah Divan sebagai ucapan rasa maaf dan terima kasih kami."


Beberapa pelayan masuk ke dalam kelas memberikan banyak kantong kertas berisi mainan. Bia menggendong Divan keluar kelas menuju parkiran. Dio tengah berjalan-jalan di samping mobil sambil diawasi pengasuhnya.


Sementara Dira berada di ruang kepala sekolah untuk mengurus dokumen kepindahan Divan. Bia menyusulnya ke sana sambil membawa Divan sekalian berpamitan.


Dira duduk berhadapan dengan kepala sekolah. Hanya terhalang sebuah meja panjang. Divan turun dari gendongan Bia lalu berjalan menuju ayahnya.


"Halo, Divan mau pindah sekolah, ya?" tanya kepala sekolah. Divan mengangguk. "Semoga di sana juga menyenangkan, ya? Rajin sekolahnya," pesan kepala sekolahnya.


Bia duduk di samping Dira. Pria itu tengah menandatangani beberapa dokumen. "Maaf ya, Bu. Ini terlalu terburu-buru. Hanya keputusan ini kami ambil karena kami pikir ini yang terbaik. Divan juga bukannya tak nyaman sekolah di sini. Dia hanya menghindari masalah serupa terjadi," ucap Bia.


Dira mengangguk-angguk. Ia tatap Divan yang duduk di antara Bia dan Dira. Anak itu melihat sekeliling ruangan. Sepertinya ia masih mengingat betul kejadian di ruangan ini.


"Kami pernah berpisah sebelumnya. Saya dan Divan pernah tinggal berjauhan. Karena itu dia punya trauma jika mendengar aku dan ibunya berpisah. Seperti saya bilang, Bu. Kami tak menyalahkan Raya atas apa yang diucapkan anak itu. Dia hanya anak kecil yang tak mengerti apa-apa," Dira menjelaskan kembali duduk permasalahnya.


"Hanya yang buat kami kecewa, bagaimana orang tuanya secara tidak bertanggung jawab mendoktrin anak dengan kalimat tak pantas seperti itu. Baik ibu juga saya sama-sama dewasa. Kita sama-sama berumah tangga tentu mengerti apa yang saya maksud. Apa baik mengatakan pada anak bahwa dia akan menikahi wanita yang sudah punya suami?" tegas Dira.


"Itulah, Pak. Saya juga agak kecewa dengan kejadian ini. Jujur ini mencoreng nama sekolah juga. Kami sudah mencoba memberi pengertian kepada Tuan Zayn dan neneknya Raya untuk mengucapkan permintaan maaf. Tetapi hingga hari ini masih belum mengindahkan. Saya cukup merasa tidak enak karena di sini malah anda yang datang ke sekolah dan dengan lapang dada justru mengucapkan maaf."


Dira mengusap rambut Divan. "Tak apa, Bu. Tentang ucapan maaf dari mereka, kami sendiri tak terlalu mengharapkannya. Prioritas kami hanya keadaan psikologis Divan. Saya juga tekankan, kami tak ada satu pun rasa benci atau marah pada sekolah. Justru kami berterima kasih ibu sudah mau mendidik Divan dengan baik," tambah Dira.


Bia memberikan sebuah tas kertas. "Ini sebagai permintaan maaf juga rasa terima kasih kami. Mohon diterima, bu."


Setelah berpamitan, pasangan itu meninggalkan ruang kepala sekolah. Divan berjalan di depan Dira juga Bia. Diandre yang melihat kakaknya lekas berlari menghampiri dengan wajah senang.


"Papan!" panggil Diandre. Matanya berbinar. Ia peluk Divan erat-erat. "Puang?" tanya Diandre.


"Iya, Diande. Pulang sekarang loh, kakak besok ke sekolah Kakak Emelie."


"Divan! Dadah!" panggil teman-teman Divan dari teras gedung sekolah. Mereka semua melambai pada Divan. Anak itu menarik napas panjang lalu mengembuskan dengan berat. "Dadah teman semua!" pamit Divan.


🍁🍁🍁


Kadang kita yang dewasa tak pernah sadar, hanya ucapan kecil, tapi menyakiti hati seorang anak. Karena banyak diantara kita sering lupa jika anak kecil punya perasaan juga. Mereka bisa merasa, hanya tak tahu kalimat apa yang pas untuk mengatakannya. Salah satu pendidikan paling penting untuk balita adalah mengajarkan mereka nama dari emosinya.