Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kecewa


Veronica menangis histeris saat dokter menyatakan bahwa anaknya tidak bisa tertolong, Hadid berusaha untuk menenangkan menantunya itu. Hatinya tersayat, ia sangat sedih. Cucunya yang belum lahir, tidak dapat diselamatkan.


"Kenapa Ayah? Kenapa harus anakku? Kenapa Kak Lily begitu jahat?!"


Hadid memeluk erat Veronica, hanya dia yang ada di sana untuk membantunya. Ayah dan ibu Veronica masih dalam perjalanan, mereka berada di luar negeri. Sementara Ahnan, anaknya itu juga tidak ada di rumah. Entah kemana dia sekarang. Namun, Hadid sudah menelepon anaknya dan mengabarkan berita buruk ini.


Ahnan berjanji akan segera ke rumah sakit setelah urusannya selesai.


"Kakak iparmu tidak sengaja, ini hanya sebuah kecelakaan," ujar Hadid.


"Kecelakaan? Tidak sengaja? Ayah bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Apa Ayah tahu? dia sangat membenciku! hanya karena aku masa lalu suaminya, dia cemburu dan tidak terima dengan hal itu. Dia wanita gila Ayah, dia tidak waras. Dia terus mengancam akan membunuhku! Apa salahku? semua hanya masa lalu, kenapa dia seperti itu Ayah?"


Hadid melepaskan pelukannya dari Veronica, ia menatap menantunya itu dengan iba. Selama ini ia tahu Ahnan tidak memperlakukannya dengan baik, tetapi Veronica selalu berusaha menjadi menantu yang baik.


"Tenanglah Nak." Tak ada lagi yang bisa Hadid katakan, ia hanya bisa membelai lembut rambut Veronica.


Wanita itu menutup wajah dengan kedua tangan, suara tangisnya terdengar memilukan. Siapa yang tidak bersedih saat seperti ini? Hadid juga pernah mengalaminya, bukan meninggal tetapi saat ia harus jauh dari Zahra dan Aric. Jiwanya juga terasa hilang waktu itu, ia sangat mengerti perasaan Veronica sekarang.


"Istirahatlah, sebentar lagi Ahnan akan datang, begitu juga orang tuamu." Veronica menggeleng.


"Bagaimana aku bisa istirahat Ayah? Anakku baru saja meninggal, dia pergi selamanya ... Hu ..hu ... anakku yang malang," ujar Veronica sambil menangis sesenggukan.


Hadid hanya bisa membiarkan menantunya itu menangis melepaskan kesedihannya, mungkin ini dengan ini dia bisa merasa lebih baik.


Setelah cukup lama, akhirnya Veronica tertidur. Mungkin ia kelelahan menangis, Hadid membenarkan selimut Veronica. Kemudian ia keluar dari ruangan itu.


Hati Hadid berkecamuk, di satu sisi ia percaya pada Lily, wanita itu cukup baik meskipun mereka baru dua kali bertemu. Rasanya tidak mungkin Lily melakukan hal seperti itu. Namun, tidak ada saksi dan bukti yang menyatakan Lily tidak bersalah. Bahkan di cctv juga terlihat kalau Lily yang mendorong Veronica.


Posisi Lily membelakangi cctv yang mengarah ke taman, yang terlihat hanya Veronica jatuh kebelakang setelah Lily seperti menyentuhnya.


Di sisi lain, Veronica keguguran karena kejadian itu. Ini menunjukkan betapa kerasnya saat ia jatuh, dan Hadid yakin Veronica tidak akan segila itu untuk membuat bayinya sendiri terluka , apalagi sampai meninggal dunia.


Veronica sering bercerita dengan Hadid, bagaimana ia merencanakan masa depan untuk buah hatinya. Semua itu menunjukkan bahwa Veronica sangat menginginkan anaknya.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa kau memberikan cobaan seperti ini pada menantuku." Hadid mengusap wajahnya kasar.


Sementara di ruangan lain, Lily terlelap dalam dekapan suaminya. Aric perlahan melepaskan pelukannya dari sang istri, bukan karena ia tidak mau seranjang bersama Lily.


Namun, ia sadar ini rumah sakit. Sewaktu waktu bisa saj dokter datang untuk memeriksa istrinya. Dengan gerakan perlahan Aric turun, ia berusaha tidak menimbulkan bunyi yang menganggu tidur permaisurinya.


"Selamat tidur, Sayang." Aric mengecup kening istrinya dengan lembut.


Ia menatap lekat wajah cantik wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Dia bersumpah, untuk tidak akan membiarkan seorang pun untuk menyakiti istrinya.


Suara derit pintu membuat Aric menoleh, seorang laki-laki paruh baya masuk ruangan itu. Raut wajahnya tampak bingung, bercampur rasa bersalah, dia juga terlihat takut.


Aric membalikan tubuhnya agar lebih leluasa menatap laki-laki itu. Jika saja, ia tidak terikat dengan sumpahnya, Aric tidak akan pernah sudi untuk bertemu dengan pria ini.


"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Aric datar.


"Bagaimana keadaan Istrimu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Hadid.


"Nak, dia menantuku. Aku mengkhawatirkannya," ujar Hadid dengan sungguh-sungguh.


Hadid sungguh merasa khawatir dengan keadaan menantunya. Apapun yang terjadi, dia juga adalah menantunya.


Aric menatap marah pada Pria paruh baya itu, ia melangkah mendekat sampai berjarak hanya selangkah di hadapan Hadid.


"Nak? Menantu? berhentilah Hadid Gulfaam, aku bukan anakmu lagi, dan wanita itu. Dia Lily Mahadev bukan menantu keluarga Gulfaam!" tegas Aric, dengan penuh penekanan di setiap perkataannya.


Kata-kata itu begitu tajam menusuk hati Hadid.


"Kau anakku."


"Jika memang anakmu, apa yang sudah kau lakukan pada istriku? kau memintanya untuk menginap di rumahmu, sehari hanya sehari dan kau membuat dia terbaring rumah sakit. Katakan apa mau mu sebenarnya?"


Wajah Hadid pias, Aric begitu marah padanya. Hal yang paling Hadid takutkan selama ini.


"Semua itu kecelakaan, Nak. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya? Veronica juga keguguran dan terbaring lemah sekarang," ujar Hadid mencoba menjelaskan.


"Berhenti panggil aku Nak! Aku bukan anakmu!" tegas Aric dengan marah.


Bagi Aric, sudah tidak bisa memaafkan Hadid. Sepertinya ia harus melanggar sumpah yang ia buat pada mendiang ibunya.


"Kau percaya dengan wanita itu!" Aric menoleh sejenak pada Lily, ia takut suaranya membangunkan Lily.


Syukurlah Lily masih tertidur pulas. Aric kembali menatap tajam pada Hadid.


"Tuan Hadid yang terhormat, apa kau terlalu pintar sampai tidak memikirkan ini. Ah ... aku lupa, kau terlalu patuh dan hanya mengandalkan matamu, bukan otakmu." Hadid mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan apa yang Aric ucapan.


"Aric jaga bicaramu! Aku ini orang taumu!" hardik Hadid.


"Kau hanya laki-laki yang kebetulan di cintai ibuku!"


"Kau-." Hadid tidak melanjutkan ucapannya, ia melihat rasa kecewa yang teramat dalam di mata Aric.


"Apa kenapa diam? kau tahu kau melakukan kesalahan-kesalahan yang sama Tuan Hadid. Semua yang terjadi sangat kebetulan, aku ingin bertanya padamu. Di mana semua asisten rumah tangga dan para pengawal yang ada di rumah besar mu saat kejadian? Kenapa Lily bisa berdiri tepat di mana cctv dapat melihat dengan jelas keberadaannya?"


"Kebetulan? itu yang ingin kau katakan? Apa kau tidak merasa ini sebuah kebetulan yang terlalu sempurna Tuan Hadid. Pikirkan semuanya. Sekarang saya harap Anda keluar, istri saya butuh istirahat." Aric menunjukkan pintu pada Hadid.


Hadid terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa dengan semua yang dikatakan Aric. Apa benar semuanya itu?


Dengan langkah gontai, Hadid terpaksa pergi dari ruangan itu.


"Tuan Hadid," panggil Aric.


Hadid menghentikan langkahnya, ia menoleh pada Aric yang sedang memunggunginya.


"Saya harap selanjutnya kita bertemu sebagai orang asing, dan saya akan melepaskan tanggung jawab pada Gulfaam corporation."


Mata Hadid terbelalak mendengar penuturan Aric.