
Bia keluar dari kamar Divan. Ia turun ke dapur. Beberapa pelayan kaget melihat Bia datang ke tempat itu. "Aku hanya mau masak. Divan itu kalau sarapan harus makan masakanku," jelas Bia ketika beberapa pelayan melarangnya memasak. Akhirnya mereka menyerah juga karena Bia terus menerus mendesak.
Ada banyak bahan di kulkas. Ia bingung juga karena ukuran kulkasnya. Pintunya saja seukuran pintu rumah biasa dan ada empat pintu.
Ia memilih memasak daging ayam dan kentang. Lebih simple dengan dipotong dadu kemudian dibakar dan disiram saus buatan sendiri.
"Kamu masak?" Dira muncul dari pintu dapur. Pagi sekali ia bangun ke kamar Divan dan tak menemukan Bia. Pelayannya menunjuk dapur saat Dira menanyakan istrinya itu.
Bia berbalik dan melihat Dira berjalan mendekatinya. Pria itu berdiri di samping Bia yang masih membolak-balikan daging ayam di panggangan. Aromanya begitu menggoda hingga Dira merasa lapar.
"Beneran bisa masak sekarang," puji Dira. Bibir Bia melengkung. "Ada yang aku bisa bantu?"
"Kamu masih bisa masak?" Bia takut jika selama tiga tahun ini sibuk dengan kegiatan manggung, Dira tidak memasak lagi.
"Bercanda? Aku selalu masak untukku sendiri kalau libur," timpalnya. Ia melihat bahan-bahan yang Bia sediakan. Tenyata semua sudah siap. Tinggal daging matang dipanggang lalu disajikan di atas piring.
Dira mengambil piring dari kabinet. Ia bawa dan taruh di atas meja. Setelah daging matang, Bia menyimpan di atas piring yang Dira ambil. Piring putih itu kini berisi potongan-potongan daging ayam yang mengeluarkan aroma dari rosemarry.
"Waw, sekalian buat punyaku?" tanya Dira saat melihat tiga piring potongan ayam panggang. Bia mengangguk. Mana mungkin ia lupakan pemilik rumah ini.
"Aku menumpang tinggal di rumahmu, masa tidak tahu diri," timpal Bia.
Dira yang hendak menusuk potongan daging di piringnya dengan garpu kontan terdiam. "Menumpang? Kamu pikir kamu ini pengungsi?" Dira tidak terima dengan ucapan Bia.
Bahu Bia terangkat. Ia mulai menikmati hasil masakannya semetara Dira menatapnya tajam. "Kau sedang kesal padaku?" tegur Dira. Bia menggeleng. Meski dalam hatinya ingin berkata iya. "Karena apa?"
"Aku tidak kesal," tegas Bia.
Sengaja Dira mencolek pipi Bia. Jelas Bia tertegun. Wajahnya sampai merona dan mata menunduk malu. "Kalau tidak kesal kenapa ketus banget?" sindir Dira.
"Sudah makan sana!" Bia memotong percakapan mereka. Ia langsung menikmati makananya.
Dira memainkan garpu di atas piringnya. Ia masih berpikir bagaimana cara menjelaskan pada Bia agar wanita itu tidak marah. "Bi, tentang pernikahan kita ...."
"Aku tahu, kita menikah hanya agar Divan punya status. Kan aku bilang, aku cukup tahu diri," potong Bia.
Dira mendengus. "Makanya dengerin dulu! Jangan main ngomel." Dengan gemas Dira mencubit pipi Bia. Bia mengusap pipinya.
"Kontrakku dengan agensi berakhir November ini. Jadi sebelum itu, kemungkinan kita harus menyembunyikan dulu pernikahan. Sambil menunggu, kita persiapkan resepsi bulan Desember, ya?"
"Aku gak banyak berharap. Keadaannya memang begini."
"Aku lakukan demi kamu. Aku takut kamu dihujat orang banyak. Biar mereka tahu dulu sesungguhnya jadi bisa menerima kamu," jelas Dira.
Mendengar kata dihujat, tangan Bia bergetar. Rasanya ia ingat lagi masa-masa ia terkena rundungan teman sekelas. "Mau bagaimanapun mereka gak akan menerimaku," ucap Bia tak semangat.
Dira mengusap rambutnya. "Mau tahu sesuatu?" tanya Dira.
"Apa?"
"Kalaupun mereka membencimu, aku lebih memilih meninggalkan mereka."
"Kenapa?"
"Aku suamimu, kan? Kamu pikir aku sopir taksi yang tahu cara mengantar, tapi tak menjaga di tempat tujuan?"
"Makasih," timpal Dira sambil tertawa.
Tak ingin menelan malu terlalu lama, Bia nyengir kuda. "Sama-sama," jawab Bia sambil tertawa.
Sejenak suasana mulai mencair di antara mereka. Sempat ada jeda lumayan lama karena keduanya fokus makan. Di samping ruang makan dindingnya adalah kaca tebal dan ada pintu geser dari kaca menghadap ke kolam ikan juga taman. Pemandangan yang indah.
Dira melihat mata Bia yang berbinar melihat pemandangan itu. "Kamu suka rumahnya?" tanya Dira.
Bia mengangguk. "Bagus, halamannya indah."
Kali ini tangan Dira memutar garpu di atas piring. Ia menelan makanannya. "Entah kapan, ada wanita yang bilang padaku begini, rumah itu harus punya halaman luas. Biar anak-anak bisa main dengan puas dan ibunya menanam bunga. Ayahnya menikmati oksigen sambil baca koran. Rumah yang segar dan terasa damai jika di pagi hari dan indah terhias lampu di malam hari jadi tempat melihat langit luas dan bintang-bintang," ungkap Dira. Ia meraih gelas air putihnya lalu minum.
Lagi-lagi ucapan pria itu membuat Bia tersentak kaget. Setiap detail kalimatnya pas tak kurang juga tak lebih. Ia ingat. "Maksud kamu saat kita kelas tiga SMP?" tanya Bia.
Seringai terlihat di bibir Dira. "Aku lupa, hanya ingat yang mengatakannya teman sekelasku."
Tawa Bia terkembang lagi. Kelas tiga SMP ia dan Dira masih duduk satu kelas. Seperti keharusan tersendiri mereka duduk harus satu kelas, jika tidak Dira akan bolos. Orangtua Dira sudah tahu itu dan meminta sekolah agar mengatur keduanya di kelas yang sama.
Tepat di hari wisuda kelas tiga, Dira mengajak Bia melakukan hal kurang ajar. Ada pohon ceri di sisi halaman sebuah rumah yang berbuah. Merah dan terlihat segar. Padahal Dira juga punya pohon yang sama, tapi ia lebih senang memetik secara ilegal di rumah orang.
"Nanti ketahuan gimana?" tanya Bia ketakutan.
"Kita ketahuan karena kamu berisik. Jadi diam saja," tegas Dira.
Tubuh tinggi Dira membuat ia lebih mudah memetik buah ceri itu. Namun, sialnya mereka tertangkap basah. Larilah keduanya seperti orang dikejar anjing. Sampai-sampai sebelah sepatu Dira tertinggal. Syukur tidak tertangkap. Mereka lari hingga ke luar komplek perumahan di mana sekolah mereka berada dengan seragam wisuda yang masih melekat di tubuh.
"Tuh ketangkap, kamu sih berisik!" protes Dira.
"Lagian kamu itu kalau mau nyuri buah harusnya bawa teman laki-laki bukan malah ajak pacar sendiri!" protes Bia.
Dira mengacak rambut Bia dengan gemas. "Kan kita itu harus sama dalam senang juga duka."
"Alasan saja kamu itu! Di rumah juga banyak, kenapa malah ambil ceri di rumah orang sembarangan?" omel Bia.
"Rasanya beda, Bi. Gak ada tantangannya. Lagian yang punya rumah pelit. Halaman luas penuh ceri begitu, tapi diambil beberapa marah."
"Dia menanamnya susah, Dira. Kamu pikir pohon ceri itu ditanam terus berbuah dalam sehari?" Bia lama-lama kesal juga dengan sikap jahil pacarnya itu. "Lagi pula halamannya bagus, luas!" puji Bia.
Dira mendengus. "Susah ngurusnya! Rumputnya harus dipotong, disiram setiap hari. Belum lagi kalau hujan becek!"
Bia berkacak pinggang. "Rumah itu harus punya halaman luas. Biar anak-anak bisa main dengan puas dan ibunya menanam bunga. Ayahnya menikmati oksigen sambil baca koran. Rumah yang segar dan terasa damai jika di pagi hari dan indah terhias lampu di malam hari jadi tempat melihat langit luas dan bintang-bintang," jelas Bia.
Dira mengangguk-angguk. "Sepatu kamu gimana? Masa jalan gak pake sepatu sebelah gitu?" tanya Bia kebingungan. Akhirnya hari itu Dira harus menunggu Bia membeli sepatu baru untuknya di halte.
Mengingat hari itu, Bia tak hentinya tertawa. Banyak kenangan keanehan Dira yang terekam di otaknya.
"Kenapa?" tanya Dira sambil mengangkat sebelah alisnya. Piring Dira sudah kosong.
"Ingat kalau suamiku ini dulu hobinya maling ceri di halaman orang," jawab Bia
🍁🍁🍁