Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Menghibur Hati Yang Duka


Tak mudah bagi Dira untuk melupakan ketiadaan Neneknya. Tiga hari ia dan keluarga menginap di Emertown. Pagi itu Dira melihat ke luar kamar melalui jendela. Tatapannya kosong dan dalam angan, Dira ingat masa kecil saat Neneknya menemani Dira bermain bola di halaman itu. Nenek yang lembut dan penuh kasih juga bijaksana.


Sesekali Dira menghela napas. Musim gugur akan datang di Emertown dan udara semakin dingin. "Nenek mau Dira bawakan jaket?" tanya Dira.


Tak ada jawaban, hanya angin yang meniup rambutnya. Rumput di luar masih hijau dan mungkin akan menguning dalam waktu seminggu. Alam menyiapkan diri sebelum salju turun. Dira juga, ia mulai menyiapkan diri untuk menerima kepergian Neneknya.


"Kamu sudah bangun?" Bia menyingkap selimut dan duduk di atas tempat tidur. Dira mengangguk. Mata Bia melirik ke arah Divan yang masih tidur lelap. Bia menurunkan kaki ke lantai. "Aku mandi dulu, ya. Habis itu siapin sarapan."


Kaki Bia melangkah ke kamar mandi. Sementara itu Dira masih terduduk di jendela. Beberapa kali terdengar lenguhannya yang berat. Mendadak dalam hati, ia tak ingin kembali ke Heren. Ia ingin di sini, dengan Neneknya.


Ternyata Divan bangun dan melihat Papanya yang sedang sedih. Anak itu menggosok mata almondnya yang bulat. Divan turun dari tempat tidur, ia ingat punya sesuatu yang ia simpan di tasnya. Pelan-pelan Divan mengendap-endap untuk membawa sesuatu yang ia beli dengan Kakek dan Neneknya itu.


"Papah!" panggil Divan sambil menarik kemeja Dira. "Lihat!"


Dira berbalik dan melihat Divan meniup balon sampai pipinya lebih kembung daripada balonnya.


Kontan Dira tertawa melihat wajah Divan saat meniup gelembung sabun. Benar-benar lucu. Dira meraih tubuh Divan lalu memeluknya erat.


"Kamu itu memang paling pintar bikin Papah senang." Dengan gemas Dira mencium pipi Divan. "Papah sayang Divan sekali."


"Divan sayang Papah uga. Cegini," timpal Divan sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Bia yang baru mandi mengenakan kimono melihat pembicaraan ayah dan anak itu. Senyum terkembang di bibir Bia.


Selesai berpakaian, Bia keluar walking closet. Ia melihat Dira dan Divan sedang bermain. "Mandi dulu, ya?" ajak Bia. Divan mengangguk. Ia lari lebih dulu ke kamar mandi.


"Aku mandiin Divan. Kamu beresin mainnya," saran Dira.


"Gak, biar dia sendiri. Divan selalu aku didik agar membereskan mainan sendiri. Sebentar lagi dia harus bisa mengambil makanan sendiri."


Dira bertepuk tangan. "Benar-benar ibu yang otoriter," komentar Dira.


Bia menggeleng. "Aku meminta kesepakatan dan Divan setuju. Sebelah mana yang otoriter? Lagipula dia main atas keinginannya, kan?"


Dira mengangguk saja. Bia sekarang lebih mengerti masalah anak dibandingkan dirinya. Daripada itu, Dira lebih baik menyusul Divan ke kamar mandi.


Bia mengambil ponsel. Ia memeriksa berita tentang Dira. Menyebalkannya, tetap saja berita tentang kedekatan Cloe dengan Dira masih menjadi trending topik.


"Apa mereka gak punya hati, bukannya lebih baik berbelasungkawa dalam keadaan ini. Nenek Dira baru meninggal, mereka malah memberitakan yang macam-macam."


Bia menggeser layar ponselnya semakin ke bawah. Ia melihat sebuah artikel tentang bunga matahari yang musim berbunganya akan berakhir.


"Sayang sekali. Padahal piknik di taman bunga matahari sangat menyenangkan." Bia mengdengus. Karena banyak masalah ia sampai lupa liburan. Kalau dipikir-pikir, waktu liburannya hanya habis mengajak Divan ke arena permainan.


...🍁🍁🍁...


"Apa ini?" tanya Divan melihat Bia memasukan kotak makan ke dalam keranjang. "Ini buat dikasih ke orang lain. Divan tunggu di sini, ya? Kakek sama Nenek tadi ajak Divan lihat peternakan bebek."


Mata Divan berbinar. "Bebek? Ada bayinya? Mau bayi bebek," timpal Divan nampak semangat. Bia mengangguk.


"Kenapa gak main sama orang tuanya juga?" tanya Bia.


Bia mencubit pipi Divan. "Kamu itu kalau ngomong sama pedasnya sama Papah kamu. Akhirnya Bia selesai mengemasi makanan.


"Van, ayok kita ke rumah Nenek buyut. Kita mau pindahkan bebek peliharaannya Nenek buyut," ajak Maria. Divan mengangguk. Bia lekas memakaikan topi ke kepala Divan.


"Mah, kalau Divan rewel telpon Bia saja, ya?" saran Bia. Maria mengangguk meski ia yakin Divan tak pernah rewel. Kalau ngantuk dan lapar anak itu selalu bilang.


Nenek Benedith punya beberapa peliharaan. Ia memelihara binatang agar tak merasa bosan. Di rumah Nenek Benedith ada burung kakak tua, bebek juga kelinci.


"Divan ke mana?" tanya Dira yang baru datang ke ruang makan.


"Pergi sama Mamah ke rumah Nenek. Buat pindahin peliharaan Nenek ke peternakan." Bia mengelus rambut Dira. Pria itu masih saja terlihat merenung.


"Makanannya mana? Apa semua orang sudah sarapan?" tanya Dira bingung karena meja makan kosong.


Bia menunjuk keranjangnya. "Karena Divan pergi, aku mau ajak kamu jalan-jalan. Daripada kamu melamun terus kayak monyet kurang pisang, lebih baik kita piknik."


"Monyet?" tanya Dira dengan wajah kaget. Padahal sedang sedih, ia malah dikatai seperti itu.


"Sudah, sekarang kamu bangun terus kita ke depan. Motornya sudah aku siapin, kok." Bia menarik-narik lengan Dira.


Alis Dira terangkat sebelah. "Kok motor?" tanya Dira heran.


Ruang makan itu hanya ada Dira dan Bia di sana. Ruangannya luas dengan meja kayu dan kursi dari bahan sama berwarna coklat tua. Cahaya mentari membuat ruangan terang karena jendela-jendela besar memberi ruang cahaya untuk masuk.


Bia dan Dira berjalan melewati ruang keluarga ke ruang tamu kemudian menuju entrance rumah. Keduanya mengambil helm yang diberikan pelayan.


"Mau ke mana?" tanya Dira.


"Naik dulu, nanti aku tunjukan jalan. Kamu bawa motor saja dengan tenang."


"Kalau ada yang ngikutin kita gimana?" Dira khawatir karena masih banyak wartawan yang meminta keterangannya tentang kematian Nenek Benedith.


"Gak akan, lah. Kita gak akan ke tempat umum. Tempat ini jarang di datangi orang, lho. Pokoknya Bia mau ke sana sama Dira," tekan Bia tak sabaran.


Dira terkekeh. "Terus Divan kenapa gak diajak?"


"Dia lebih suka liat bebek. Pokoknya cuman Bia yang senang di sana."


"Terus aku?" Dira menunjuk hidungnya.


Bia berkacak pinggang. "Ayo, dong! Lama banget keburu sore terus keburu kita balik ke Heren." Bia nampak tak sabaran hingga menghentak-hentakan kaki ke lantai.


Dira mengalah saja. Ia naik ke motor merah sportnya lalu mengenakan helm. Dira mengulurkan tangan agar Bia memberikan keranjang makanan sebelum naik. Bia memberikanya lalu naik ke atas motor.


"Mana? Biar aku pegang keranjangnya." Bia meraih keranjang di tangan Dira. Lekas Dira memberikannya. Ia naikan standar motor lalu menyalakan mesin motor itu.


🍁🍁🍁