Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Bicara Malam


"Divan gimana?" tanya Dira melihat Bia tengah duduk di samping dua putranya yang tengah tertidur. Bia bergeser lalu turun dari tempat tidur dan menyimpan buku dongeng yang ia pegang di rak.


Dira berjalan masuk. Ia hampiri kedua putranya. Divan terlihat lelap tertidur seakan kesulitannya hilang lenyap dan yang tersisa hanya tubuh lelah yang ingin istirahat. "Kasihan sekali kamu, sayang. Maafkan papah, ya. Tak ada orang tua yang bisa menghentikan anaknya bersedih, tapi mereka bisa buat kamu bahagia lagi," ucapnya lalu mengecup kening Divan.


Bia menyentuh bahu Dira. "Mandi dulu, pah. Ganti pakaian sana. Debu dari luar kan gak baik buat anak-anak," saran Bia. Suaminya mengangguk.


Berdiri Dira dari posisi duduknya. Ia ikuti Bia ke kamar. Tak lupa pintu kamar Divan ditutup dengan pelan agar kedua anak itu tak terbangun karena bunyinya.


Tiba di kamar, Bia bantu melepas kemeja Dira. Ia menyiapkan alat mandi suaminya sementara Dira bersiap mandi di kamar mandi. Bak mandi sedikit demi sedikit terisi air. Dira merendam tubuhnya dalam air hangat. Sementara itu, Bia memijiti tubuh Dira.


"Otot kamu tegang sekali," komentar Bia. Dira meraih tangan Bia. "Banyak pikiran, ya? Sudah perusahaan terus juga masalah Divan," absen Bia.


Dira tersenyum kecut. "Gosokin punggungku, ya?" pinta Dira. Bia mengangguk. Ingin Dira mengubah pikirannya pada hal lain. Hanya setiap kali ia tutup mata, ia akan mengingat ibunya. Mungkin ini yang membuat Divan histeris.


"Bi, aku gak akan macam-macam sama kamu," curhat Dira. Bia mengangkat alisnya. "Kaget aku, kamu galaknya gak kira-kira. Kalau tadi gak dipisahin, Zayn mungkin sudah dikubur. Terus kamu kumpul sama Cloena," ledek Dira.


Bia mendengus. "Ketawa saja terus. Aku emosi tahu mendengar Divan cerita apa yang dibilang anaknya Zayn. Dari mana lagi anak seusia itu bisa bilang hal menjijikan seperti itu kalau bukan dari orang tuanya. Apa lagi lihat Divan nangis sesegukan."


Dira tertawa. "Belajar bar-bar begitu dari siapa?" tegur Dira.


"Suamiku lah," jawab Bia dengan bangganya. Dira yang merasa tertuduh langsung manyun.


Selesai mandi, Dira memakai piyama yang sudah Bia siapkan. Ia sempat menatap piyama itu beberapa detik sebelum memakainya. Belakangan selalu Bia yang menyiapkan pakaian. Tanpa sadar Dira mulai meninggalkan fashion. Ia lebih tertarik dengan pakaian yang nyaman.


Dira menatap Bia yang tengah menyiapkan tempat tidur. "Mah, bicara dulu, yuk?" ajak Dira. Bia mengangguk. Ia ikuti suaminya duduk di balkon kamar.


"Mau teh?" tawar Bia. Dira menggeleng. Ia menepuk pundak agar Bia bersandar di sana. "Kalau kamu mau ngajak bicara, pasti lagi ada beban pikiran," tebak Bia.


Dira terkekeh. "Tahu saja kamu," ucapnya sambil mencolek hidung istrinya.


"Kamu mikir Divan lebih baik pindah sekolah?" terka Bia. Meski berat, Dira mengangguk. "Aku setuju. Meski selama ini setiap dia ada masalah, aku selalu beri dia motivasi untuk menghadapi. Ini lain. Ini bukan masalah yang bisa ia hadapi sendiri," tambah Bia.


Lengan Bia memeluk tubuh suaminya. Dira balas memeluk dan mencium bagian atas kepala Bia. Angin malam berembus. Dari sini terlihat jelas pemandangan taman di halaman rumah juga barisan rumah-rumah di depannya.


Setiap rumah tangga memiliki masalahnya sendiri. Mereka juga mengambil solusi dengan cara mereka sendiri. Hanya bagi Bia dan Dira, solusi itu harus disepakati bersama.


"Besok aku tanya pendapat Divan. Takutnya ia tak mau," ide Bia.


Dira menganggguk. "Ada sekolah TK dekat dengan kantor. Emelie sekolah di sana juga. Kupikir Divan akan betah. Gedung sekolah SD dan TKnya berdekatan."


Bia mengangguk-angguk. "Kalau ada Emelie sudah pasti dia mau. Kamu tahu sendiri Emelie itu idolanya. Tadi sore saja, Emelie menelpon dan Divan langsung kembali tertawa."


"Hu-uh. Kamu tanyakan dulu saja. Divan juga punya hak memutuskan masa depannya," saran Dira.


Ada jeda diantara mereka. Mata Bia menatap lurus pada vas bunga yang berjajar di railing balkon. "Dir, ada hal lain yang ingin kamu bilang, kan? Aku tahu, kok," terka Bia.


Dira agak terkejut mendengarnya. Bia mendongak melihat wajah suaminya yang kaget. "Kamu gak bisa bohong. Mungkin kamu memang sedang membicarakan Divan, tapi di satu sisi ada hal lain," goda Bia.


"Memang ada, Bi. Hanya saja menurutku ini tak bisa aku bagi dulu dengan kamu sekarang. Buktinya belum kuat dan aku gak mau salah sangka dulu," ucap Dira.


Bia mengangguk. "Itu hak kamu kalau tak mau bercerita. Hanya jangan sampai menyimpan sendiri kalau memang sekiranya berat," saran Bia.


Dira mengangguk. "Aku masih menyelesaikannya dengan Daren. Hanya saja, aku mau minta kamu rajin kunjungi mamah apa bisa?" pinta Dira.


Bia mengangguk. "Tentu. Mamah itu orang tua aku juga, kan?"


🍁🍁🍁