Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Menuju Dunia Yang Baru


Perjalan satu jam menembus Emertown dari satu sisi ke sisi lain. Sebelum itu, Bia berpamitan pada Mrs. Carol. Ia juga janji akan sering berkunjung bersama Divan. Keputusan itu mendapat dukungan dari Mrs. Carol, meski sangat berat bagi wanita itu harus kehilangan anak yang diasuhnya selama hampir tiga tahun.


Divan melihat ke luar jendela. Seperti biasa ia selalu mengabsen apa yang ia lihat di luar. "Papah da mobin bagus, Divan dak da," protes Divan mengundang tawa diantara perasaan orangtuanya yang sedang kalut.


"Divan punya, mobil mainan," jawab Dira yang langsung dibalas dengan bibir manyun Divan.


"Divan mau mobin tuk, ya?" pintanya. Tawa terdengar dari mulut Bia dan Dira. Keadaan tegang ini mendadak memeleh karena celotehan putranya.


Bia membuka sedikit jendela mobil Dira. Ia ingin mengambil udara agar pikirannya lebih tenang. Tangan Bia mengusap rambut Divan.


"Kita mau ke mana? Jangan bilang kalau kamu juga gak tahu," Bia rasanya sudah mulai kesal karena Dira seperti berkeliling di tempat yang sama. Ia melihat kedai mie yang sama hingga beberapa kali. Pikirnya mungkin karena mereka dari brand yang sama, nyatanya memang itu toko yang sama.


"Kita ke rumah Bu Suli. Kamu tinggal di sana dulu. Cloe gak tahu rumah Bu Suli," jelas Dira.


Bia mengangguk. "Kalau tahu kenapa muter-muter?" tanya Bia. Bukannya aneh meninggalkan jejak dengan memutari jalan yang sama berkali-kali?


Dira menggigit bagian bawah bibirnya. "Aku lupa jalan," celetuk Dira membuat Bia tertegun. Saat ke Emertown dia tidak mengunjungi rumah gurunya karena Bu Suli yang datang ke rumah Sayu.


Dengan kesal Bia menoyor jidat Dira. "Kenapa gak tanya dari tadi? Kasian Divan sudah ngantuk!" omelnya.


Dira nyengir kuda. "Habis sudah tiga tahun gak balik ke sini. Jadi lupa," jawab Dira polosnya.


"Di depan jalan sekolah itu kamu belok kanan, nanti lihat dipersimpangan ada toko yang jual es krim belok kanan lagi lurus sampai kamu lihat ada yang jualan koran baru ke kiri dan rumah ke lima," jelas Bia.


"Kok kamu inget, sih?" tanya Dira bingung.


Bia tertawa. "Kan ingatan wanita itu lebih kuat. Termasuk ingatan waktu kamu nyakitin dia," sindir Bia.


Dira balas menoyor kepala Bia. "Gak usah bahas itu di depan anak kita?" Terlihat sekali ucapan Bia langsung menusuk bagian terdalam hatinya.


"Kenapa? Takut Divan tahu ayahnya itu pria macam apa?" Bia memeletkan lidah.


Divan sendiri menepuk jidatnya. "Belantem aja. Gak baik! Nakal semua!" omel Divan sambil menunjuk wajah papahnya.


Mendadak semua kembali sepi. Bia melirik sikutnya yang luka. "Mantan kamu itu memang sekasar itu?" Mata Bia beralih pada Dira.


"Dan kamu biarin saja sikapnya begitu? Kamu pernah sama dia, harusnya nasehatin dia," omel Bia.


Dira menggeleng. "Emang kamu pikir dia itu bagaimana? Tuhan saja sepertinya sudah malas ngasih dia hidayah. Banyak artis yang sikapnya seperti dia. Aku sudah gak aneh."


Bia bergidik. Ia sendiri juga tak terlalu kaget. Teman SMAnya dulu yang populer di kalangan siswa lain, sikapnya sombong dan galak. Anehnya selalu banyak pendukungnya.


"Aku takut, tapi kesal juga. Belum balas perbuatannya. Cuman tenaganya besar juga. Melvi sama aku abis dia lawan," keluh Bia.


Dira tertawa. "Percuma lawan dia. Kalau sampai kamu menang, dia akan jadiin alat buat ambil hati fansnya. Nanti kamu yang akan dihujad. Cukup hindari dulu sampai kita dapat cara yang tepat," nasehat Dira.


Bia mengangguk-angguk. Dira mengambil napas, tangannya sempat sedikit gemetaran. Cloena tidak hanya jahat, tapi juga pintar. Ia bisa mengirim pesan dari nomor Bia dan membuat Dira tertipu.


"Aku yakin, Cloena gak sendiri. Ada orang dibalik dia yang harus kita waspadai juga," ucap Dira.


Bia memandang wajah pria itu. "Maksud kamu?" tanya Bia bingung.


Dira menggeleng. "Nanti juga kamu tahu sendiri," jawabnya.


"Itu rumah Bu Suli!" tunjuk Bia pada rumah dengan pagar dari tembok tinggi berwarna putih. Hanya gerbangnya saja dari besi dicat hitam. Dira menepikan mobil.


"Aku bel dulu rumahnya. Nanti balik lagi," sarannya. Bia mengangguk. Dira membuka pintu mobil dan turun menuju gerbang. Bia masih melihat pria itu berjalan ke sana.


"Papah kamu pasti melindungi kita, kan? Dia pria yang kuat. Doain mamah juga bisa, ya?" ucap Bia sambil melihat Divan yang ternyata sudah terlelap dalam pangkuannya.


🌿🌿🌿


Yo maaf author remahan rengginang ini ngeluarin daun lagi. Ini memang libur tapi kok upnya tiga? Gak ada kata libur dalam kerjaanku di RL kakak, maaf ya. 😭😭 aku juga sedih bgt krn kdg hari mingu aj aku hrs masuk. Bagianku ini emang gak boleh libur πŸ˜‘


Chapternya kenapa dikit? Nanti klo dibuat panjang malah ngawur, dan aku juga harus bagi-bagi waktu dengan novelku yang lain. πŸ™


Ouh ya yg mw liat visual, kalian bisa intip di IGku ya : digi8saikai_nha