
"Sekali lagi?" tanya Dira pada puluhan ribu penonton konsernya malam itu di Heren Arena. Konser tunggal Dira diantara serangkaian konsernya tahun ini berakhir di Kota Heren.
"Lagi ... lagi ...," jawab para penonton yang terlihat antusias hingga menggerak-gerakkan lightstick dengan gerakan kencang.
Dira siap mengambil gitar yang diberikan oleh staffnya. Tali gitar itu ia selempangkan di bahu. Teriakan juga tepukan tangan membahana memanggil namanya. Lampu panggung mulai dimatikan dan hanya ada lampu sorot yang menyala ke arah Dira.
Dimulai dengan intro hingga masuk ke dalam badan lagu, penonton bergerak ke kanan dan kiri. Mereka ikut bernyanyi juga memberikan fanchant.
Semua yang ada malam itu nampak tak terlalu spesial. Tetap ada Dira di atas sebuah panggung juga para fansnya. Namun, ada sesuatu spesial yang tersebunyi dan tidak disadari para fans juga Dira sendiri. Di antara kursi penonton, ada seorang penonton yang membeli tiket secara ilegal. Ia berani membayar dua kali lipat hanya untuk menonton konser itu. Bagian paling parah, pelakunya adalah istri Dira sendiri.
Bia duduk di antara penonton sambil memakai kaos fandom dan membawa papan kertas berisi tulisan "Dira, I Love You!". Sengaja ia mengenakan topi agar tak dikenali.
Divan? Bia tak khawatir karena hari ini Divan menginap di rumah Kakak Dira. Anak itu sedang dekat dengan kakak sepupunya, Emelie. Bahkan mengatur jadwal menginap setiap minggu.
"Wah, kalian bersemangat sekali," ucap Dira setelah lagu berakhir. Penonton berteriak. "Apa kalian tidak mengantuk?"
"Tidak!" Bia ikut menjawab.
"Mengantuk sajalah, aku ingin pulang," keluh Dira bercanda. Mendengar itu para penonton tertawa.
Dira membetulkan kancing tangan kemejanya. "Apa kalian cinta padaku?" tanya Dira.
"Iya!" jawab penonton lebih keras dari sebelumnya. Dira terkekeh. Ia menggaruk bagian belakang telinganya meski tak gatal. Tiba-tiba ia tertawa. "Pacar kalian akan membunuhku jika begitu."
Lagi-lagi ucapan Dira membuat penontonnya tertawa terbahak-bahak. Dira memberikan gitar pada staffnya. Tak lama staff membawa dua dus berisi boneka beruang. Dira mengambil salah satu.
Ia melihat boneka itu kemudian tertawa lalu berpaling pada para fansnya. "Boneka beruang. Kalau ingat ini aku jadi ingat seseorang. Dia suka makan sampai badannya persis seperti boneka ini."
Ucapan Dira jelas terasa seperti petir di telinga Bia. Ia tahu siapa yang dimaksud Dira. "Tapi lucunya juga seperti boneka ini," lanjut Dira membuat penontonnya baper sendiri.
Bia memegang pipinya yang memerah. "Boneka ini tentu bukan punyaku, karena aku sudah lama tidak main boneka," celetuk Dira lagi-lagi membuat penonton tertawa. "Aku akan memberikan pada fansku yang senang main boneka. Yang senang main hati tidak perlu ikut."
Bia menunduk kecewa. "Aku juga mau, tapi kalau Dira tahu aku di sini pasti marah," batinnya.
Dira mulai mengacak nomor kursi fansnya. Ada sekitar sepuluh orang yang terpilih dan orang ke sembilan sudah naik ke panggung. Sisa satu nomor lagi yang akan terpilih diantara puluhan ribu.
Dira mengucapkan satu per satu nomor kursi terakhir. Hingga nomor terakhir disebutkan terdengar suara kekecewaan dari fans yang tak terpilih. Sementara Bia bingung sendiri, ia baru sadar jika nomor yang disebut adalah kursi yang ia duduki.
"Aku tak mungkin ke atas sana!" pekik Bia. Ia tarik lengan seorang fans di sampingnya. "Kak, gantiin aku, kak!" pinta Bia. Mereka langsung bertukar tempat dan orang itu menggantikan Bia ke atas panggung.
Lampu sempat menyorot bagian kursi yang tadi Bia duduki. Sengaja Bia menutup wajahnya dengan telapak tangan agar tak kelihatan di kamera.
...🍁🍁🍁...
Konser berakhir, secepatnya Bia meninggalkan kursi penonton dan keluar dari arena konser. Ia akan mencari taksi. Rupanya hampir semua taksi sudah dipesan sehingga Bia harus menunggu lumayan lama.
Ada penjual baling-baling di dekat arena. Lekas Bia membeli salah satu untuk Divan nanti. Ia berjalan kembali menuju sisi jalan untuk menunggu taksi.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar keributan. Bia sempat menoleh ke sumber suara. Rupanya mobil Dira lewat dan itu jelas membuat fansnya histeris. Lain dengan Bia yang langsung mengamankan diri takut ketahuan.
Dari sana Bia mulai panik. Ia bolak-balik kebingungan karena tak mendapat taksi. Terlebih lagi ia belum mengganti pakaiannya. "Mati aku kalau sampai Dira tahu."
Bia melihat bus berhenti dari kejauhan. Ia lekas berlari menghampiri dan menaiki bus itu. Syukur masih sempat. Bia memeriksa jalur bus takut salah. Syukurnya itu benar.
Meski sudah menemukan transportasi tetap saja ia masih panik. Seperempat jam perjalanan, akhirnya Bia sampai di rumah dengan menaiki bus lalu taksi dari ujung komplek hingga ke rumah.
Bia mengendap-endap ke pintu belakang. Ia melihat mobil Dira sudah menepi di depan rumah. Dira pasti akan melakukan evaluasi dulu dengan staffnya. Sementara itu Bia akan diam-diam naik ke kamar, mandi dan ganti baju.
Bia masuk lewat pintu dapur. Ia sempat bertemu para pelayan di rumah. Mereka tertawa melihat perilaku Bia. Terdengar suara Matteo dan Kalvis tengah berbincang dari tangga ketika Bia naik. Tebakan Bia benar, Dira pasti akan mengevaluasi dulu kinerja staffnya malam ini.
Senyum terkembang puas di wajah Bia. Ia membuka pintu kamar dengan lega lalu menutupnya kembali. Ia berbalik. "Bunda!" pekik Bia kaget melihat Dira tiba-tiba ada di depannya.
"Apa aku mirip Bunda kamu?" Lengan Dira terlipat di depan dada.
Bia menggeleng. Ia menunduk malu melihat kaos fandom berpadu dengan celana jeans pendek yang ia kenakan.
"Wah, baru dari mana ini?" tegur Dira.
Bia menggigit bagian bawah bibirnya. Ia bingung harus menjawab apa. Malam ini ia pasti habis diomeli.
"Apa kamu gak percaya sama suami kamu sampai sedang konser saja dibuntuti?"
Bia menggeleng. Niatnya hanya ingin menonton saja. Sejak Dira jadi artis, ia tak pernah menonton konser pria itu.
"Maaf, Dir. Aku cuman ingin nonton. Aku tahu kamu pasti gak izinin," alasan Bia.
"Aku gak masalah kalau kamu mau ke sana, tapi izin dulu. Kamu itu punya suami. Kamu tahu selama di jalan aku khawatir kamu celaka? Aku bingung, ingin minta kamu naik bisa ketahuan, kalau pulang sendiri kamu bisa celaka. Hal begitu saja kenapa gak kamu pikirkan, Bi?"
"Kamu tahu aku nonton dari tadi?" tanya Bia bingung. Dira mengangguk. "Bukannya kamu pergokin aku sekarang?"
"Aku tahu penonton yang bertukar tempat itu kamu," tegas Dira.
Mata Bia terbelalak. "Kok bisa? Kan aku nyamar, pakai topi sama masker." Bia jelas-jelas memastikan wajahnya tak terlihat.
Dira mengacak rambut Bia. "Kamu mau menutupi rambut pakai topi percuma kalau topi yang kamu pakai itu topiku."
Mulut Bia terbuka. "Masa karena topi. Kan kalau topi ada banyak? Semua orang juga bisa sama."
Dira menggeleng. "Maka dari itu, kamu kalau pilih topi yang biasa. Ini topi yang di desain khusus untukku tentu hanya ada satu," jelas Dira.
🍁🍁🍁
FYI
Wp dan IG author : elara_murako
kalau mw nanya2 boleh maen ke grup chatku. masih kosong kok kyk kuburan 😁