
"Divan pucing, banak uang dak tahu beli apa," keluh Divan. Di matanya berputar-putar banyak sepatu yang ada di toko itu. Maria mengusap rambut cucunya. "Divan cuka smua, tapi dak ada tepat cimpenna."
"Kan kamar kamu itu luas." Dengan gemas Ernesto mencubit pipi Divan.
Mata Divan melirik ke sisi kiri. "Oke, deh. Kakek suluh, ya? Dak bilang mamah Divan buang uang banak." Ia melakukan kesepakatan. Bia selalu melarangnya buang-buang uang. Namun, bersama keluarga papahnya ia menjelajah seisi mall untuk belanja.
"Divan emat, lho. Kakek, nenek maksa." Tangannya dilipat di depan dada. Maria hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan cucunya. Dulu, ia tak pernah kebagian mengasuh Dira. Perkembangan putranya hanya ia dengar dari cerita Nenek Benedith. Padahal dibanding kakak dan adiknya, kelakukan Dira saat kecil paling menggemaskan.
Saat nenek dan kakek itu mengajak main cucu laki-laki pertamanya, pengamanan dibuat dengan ketat. Meski begitu mereka membiarkan Divan menjadi perhatian publik dari kejauhan.
"Dia anak yang bersama Dira?" Banyak orang mengeluarkan pertanyaan yang sama ketika melihat Divan bersama orang tua Dira.
"Beneran anak Dira?" timpal yang lainnya. Syukur karena jarak yang dibuat petugas keamanan, Divan tak menyadari jika dirinya sedang jadi perhatian. Ia justru lebih terpusat pada berbagai macam mainan dan pakaian juga jajanan manis.
"Nek, naik keleta!" pinta Divan menarik lengan neneknya. Ernesto sampai tertawa.
"Kenapa saat muda dulu aku malah tak ada waktu main dengan anak-anak. Sudah tua begini baru pusing mengejar-ngejar cucu." Meski terlihat lelah, Ernesto masih semangat bermain dengan Divan.
Bibir Maria melengkung. "Benar kata orang. Cucu itu lebih disayang daripada anak sendiri," komentarnya.
Sudah berada dekat dengan kereta mainan, Divan harus menelan kecewa karena ia tak bisa naik wahana itu. Sengaja ia memunggungi kakek dan neneknya sebagai tanda protes.
"Bagaimana lagi, kan tadi kakaknya bilang Divan belum cukup umur. Harus empat tahun," jelas Maria.
Divan merengut. Tanganya mengepal dan matanya tak mau lepas memandangi lantai. "Lama. Empat tahun Divan kebulu punya petawat," protesnya. Ernesto lagi-lagi nyengir. Anak itu masih saja berharap punya mainan pesawat yang terbang dan bisa dinaiki. "Kemalin cama mamah bica, boleh!" tambah Divan.
Maria mengelus beberapa kali punggung Divan. "Mungkin kereta yang lebih kecil."
Divan menggeleng. "Dak, cama itu!" tegasnya. Divan tidak salah, keretanya memang sama. Hanya saja di Emertown, Bia sering memalsukan usia Divan untuk main kereta itu.
Lain dengan Ernesto yang tidak tahu menahu kenakalan menantunya, ia tak percaya ucapan Divan. "Pulang dari sini kita naik kereta beneran, ya?" ajaknya.
Maria menyenggol sikut Ernesto. "Pah, ingat kata Bia. Jangan terlalu memanjakan Divan, meski kita sayang."
Ernesto mencolek lengan Maria. "Bia juga gak ada, Mah. Lagipula dia dua tahun lebih mungkin harus sering merasa sedih akibat keinginanya tak terpenuhi. Sekarang khusus karena dia sama kita."
Ernesto dan Maria menuntun Divan keluar pusat perbelanjaan. Kamera mengikuti mereka dari kejauhan. Terdengar beberapa wartawan yang menanyakan siapa anak yang mereka tuntun, tapi baik Ernesto dan Maria tak menjawab. Mereka lebih banyak menunjukkan senyuman.
"Kek, napa Divan foto-foto telus?" tanya Divan bingung. Ia ingat sempat ketakutan karena dikejar-kejar banyak orang. Sekarang ia merasa aman karena mereka tak bisa mendekati. Divan berbalik ke arah wartawan lalu tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata.
"Lucunya!" puji semua orang yang memperhatikan Divan. Ernesto mengusap rambut cucunya.
"Ouh, meleka suka Divan banget banget," ucapnya.
...🍁🍁🍁...
"Hati-hati," pesan Bia saat mengantar Dira ke depan pintu. Dira mengecup pipi Bia lalu mereka berpelukan. "Pulangnya jangan malam. Kalau sempat kasih kabar."
Ponsel Bia mulai diaktifkan lagi meski ia sering memantapkan diri tak melihat berita juga komentar tentang dia dan keluarganya.
"Aku gak ke mana-mana, kok. Hanya makan malam bisnis dengan keluarga Alvonz. Kamu tahu mereka sedang membutuhkan investasi karena guncangan pada bisnis komunikasi beberapa bulan lalu," jelas Dira.
Meski sering fokus pada dunia keartisan, Dira juga sering kepo dengan berita ekonomi dan bisnis. Awalnya untuk mengukur seberapa jauh perkembangan Kenan Grouph agar bisa mengalahkan papahnya sendiri. Setelah baikan dengan papahnya, Dira justru lebih tertantang ingin memajukan pabrik milik keluarga Kenan.
Dira menggeleng. "Tak ada skandal dalam bisnis. Paling penting adalah berapa banyak uang yang kita alirkan dan berapa banyak orang yang bergantung. Sadar hidup sehari-hari mereka bergantung pada uang Kenan Grouph, mereka tak akan peduli meksi aku yang menjalankan bisnis."
Bia mengangguk-angguk. "Pantas saja banyak pengusaha yang masih wara-wiri setelah terkena banyak kasus," komentarnya.
Akhirnya Dira pergi dan Bia lagi-lagi sendiri di rumah. Hanya sekitar sepuluh menit dari rumah Dira menuju kediaman keluarga Alvonz karena berada dalam satu lingkungan perumahan yang sama. Dia akan bertemu putra pertama keluarga itu, Haley Alvonz.
Sebelum mobil Dira menepi di depan teras keluarga itu, Haley sudah berdiri di teras untuk menyambutnya. Dira langsung memberi hormat. Meski di sini Dira yang merupakan perwakilan dari perusahaan induk, tetap Haley lebih tua darinya.
"Benar kata orang, Dira Kenan sangat rendah hati," pujinya sambil mengulurkan tangan sebagai salam penyambutan.
"Ini bukan rendah hati, tapi simbol orang yang sedang belajar menjadi lebih beradab," ralatnya.
"Selamat datang Tuan Dira Kenan," sambut Gwen Alvonz, istri dari Haley. Dira menunduk tanda hormat. Wanita yang mengenakan dress warna ungu itu tersenyum. "Aku sangat suka mendengar lagumu. Sungguh suatu kehormatan anda bisa datang kemari untuk memenuhi undangan kami."
"Terima kasih banyak Nyonya. Saya sangat menghargai pujian anda."
Pertemuan itu diadakan di ruang makan khusus tamu di rumah keluarga itu. Dira sungguh merasa terhormat karena ia disambut oleh seluruh keluarga.
"Aku ucapkan selama atas pernikahanmu," ucap Tuan Collins, ayah Haley.
"Terima kasih banyak. Saya dan istri sangat merasa senang mendapat hadiah karangan bunga dari anda," timpal Dira.
"Nyonya muda Kenan kenapa tidak diajak kemari? Aku sangat ingin bertemu dan menyapanya." Ibu Haley ikut dalam perbincangan.
Dira tersenyum. "Kunjungan nanti saya berencana membawanya, Nyonya. Untuk saat ini keadaannya masih belum tenang."
"Saya mendengar keributan yang dibuat masyarakat tentang keluarga Kenan. Saya yakin anda pasti cukup kewalahan menghadapinya." Haley menatap Dira.
Dira terkekeh. "Bohong jika saya bilang tidak. Karena itu papah meminta saya datang ke sini. Selain masalah investasi, juga kita sama-sama tahu keluarga Alvonz terkenal dalam bidang informasi dan komunikasi," kode Dira.
Haley mengangguk. Seorang pelayan mendekati Dira dan memberikan sebuah kotak emas. Di dalamnya ada usb.
Senyum Haley melengkung. "Itu data milik Cloena Parviz yang niat ia berikan pada wartawan. Apa yang ada di dalamnya saya jamin tidak akan menyebar."
Barulah Dira bernapas lega. Apa yang menjadi saran papahnya memang benar. Kini giliran Dira meminta sekretarisnya memberikan sebuah amplop pada Haley. "Saya juga jamin dana investasi yang kalian butuhkan akan keluarga Kenan berikan secepatnya."
Setelah kesepakatan itu, kembali Haley mengantarnya ke teras sebelum meninggalkan rumah dengan arsitektur modern dan memiliki tiga lantai itu. Mata Dira sempat terpaku dengan foto-foto kelulusan Haley dan adik perempuannya.
"Wah, anda lulusan kampus yang sama dengan saya," ucap Dira. Haley mengangguk. Setelah itu Dira melihat foto kelulusan SMA Haley. Itu SMA Hailfield dan merupakan sekolah favorit di Heren.
"Jadi anda satu sekolah dengan Daren?" tanya Dira.
Haley menggeleng. "Tuan Daren berada dua angkatan di atasku."
Dira mengangguk. Ia dan Daren berbeda lima tahun, kalau Daren lebih tua dari Haley dua tahun artinya Haley lebih tua dari Dira tiga tahun.
"Apa anda punya teman juga dari SMA itu?" tanya Haley penasaran.
"Iya, ada seseorang yang aku kenal juga lulusan SMA itu," timpal Dira
🍁🍁🍁