Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
dua puluh dua tahun


Aku ingetin kalau "istri sang pewaris tahta" sudah up ya? Jangan lupa votenya kasihin ke sana 😂 biar bisa sukses kayak ADA dan author juga semangat nulisnya.


kapan lagi baca kisah cowok bucin parah sama istrinya kalau bukan kisah hidupnya Biru Bamantara. tinggalin komen sama like yang banyak. Bantu Share juga.


Oke, ini dia extrapart untuk Ayah Dari Anakku. Scene endingnya aku tarik ke akhir tahun, ya?


🍁🍁🍁


Happy birthday Dira


Happy birthday Dira


Yang terkasih Dira Kenan


Happy birthday Dira


Keluarga itu ikut berkumpul untuk merayakan ulang tahun ayah Divan yang ke dua puluh dua tahun. Dira terkejut, banyaknya hadiah yang ia dapatkan. Ternyata hadiah itu kebanyakan dikirim oleh fansnya.


Dira membaca surat dari mereka satu per satu. Matanya hampir berkaca-kaca. Ternyata masih banyak yang suka padanya dibanding yang menuliskan rasa ketidak sukaan.


Jika tak ingin come back, berikan kamu konser terakhir.-


Menyanyi untuk kami lagi Dira.-


Kami sangat kehilanganmu.-


"Gimana? Sudah ada yang nagih nyanyi, loh!" goda Bia sambil memaksa menyuapi Dira potongan kue ulang tahun. Bukannya tak mau, ia masih banyak pekerjaan.


"Hanya sebuah konser perpisahan. Saat pergi dulu kamu belum memberikan mereka panggung terakhir, kan? Bagaimana pun mereka juga bagian dari hidupmu," nasehat Maria.


Dira tersenyum geli sendiri akibat dipeluk istri juga ibunya. Rasanya seperti jadi anak kecil dan dewasa di waktu yang bersamaan.


"Iya, Dir. Konser doank, ucapin selamat tinggal dengan damai. Habis itu biar aku yang tebar pesona," Dustin ikutan berkomentar.


Daren dan Dira tertawa mendengarnya. "Dira jadi artis karena suaranya bagus. Kamu apa? Terakhir kali nyanyi saja mamah sakit perut!" ledek Daren.


Dustin melirik tajam pada Daren. "Kak Daren lama-lama ngeselin kayak Dira," protesnya.


Dira membuka satu per satu kado dibantu ibunya juga Bia. Namun, yang paling dinanti adalah kado dari papahnya. "Tahun ini pasti buku lagi!" tebak Daren seolah tahu papahnya bukan orang kreatif dalam urusan hal itu.


Dustin tertawa. "Benar, papah itu bisa ketebak. Kak Daren pasti dikasih dasi, aku sepatu dan Dira pasti buku. Gak pernah berubah, gak asik!" ledek Dustin sampai kena getok papahnya sendiri.


Dira membuka kotak hadiah dari Ernesto. Ia tertegun karena isinya turntable. Wajah Dira berbinar. "Pah, ini beneran? Pantesan berat!" seru Dira bahagia.


"Kamu itu sukses dulu kayak kakakmu, baru banyak nuntut! Urusan kado saja ingat Papah, giliran di depan temanmu gak mau ngaku!" omel Ernesto.


Pertama kalinya Ernesto curhat pada Dira, tentang kelakuan Dustin. Adik Dira itu jika di sekolah selalu menepis fakta jika dia bagian keluarga Kenan. Alasannya karena malas sering diminta traktiran dan didekati banyak wanita. Jika ditanya kenapa nama belakangnya Kenan, Dustin hanya bilang jika itu kebetulan.


Sampai Ernesto datang ke sekolah dan mereka bertemu, ia kaget karena Dutin memanggilnya Oom. Bahkan memaksa agar papahnya itu pura-pura tak kenal. "Pantas saja pas kita foto keluarga untuk majalah bisnis, dia nolak!"


"Apalah, aku gak mau meredup diantara glowing kalian semua! Mamah dosen, papah chairman, Kak Daren dirut, Dira artis populer ... aku apa?" protesnya yang sejak kecil tak pernah mendapat prestasi selain dapat kejuaran hacker.


Dira dan Daren tertawa. "Kamu juara jomlo seumur hidup!" ledek kedua kakaknya.


Dustin merasa ingin menggangtung harga diri di pohon oak. "Dira! Ajarin deketin cewek, donk! Sudah PDKT pasti saja jadiannya sama cowok lain. Kata temenku harus ada cadangan, sudah chat sama empat cewek, masih saja gak jadi-jadi," keluhnya.


"Syaratnya satu, ganteng. Kamu gak punya itu, jadi nyerah saja!" Setelah berkata begitu, Dira lekas berlari dan Dustin benar mengejarnya. Hingga akhirnya dapat mereka saling balas memukul.


Sementara itu, Divan masih betah ikut membuka kado dengan Bia. Ia paling senang membuka kado meski itu punya orang lain. Bahkan saat Emelie ulang tahun saja, ia terus merayu agar Emelie mengizinkannnya membuka kado.


"Papah dapat kado banyak, ya?" komentar Divan. Bia mengangguk. "Papah sudah tua, dak malu masa ulang tahun, tiup lilin, balon uga."


"Ulang tahun bisa buat siapa saja. Gak perlu anak kecil atau orang tua," jelas Bia.


Divan tertegun. Diantara kado itu ada sebuah kado yang tertulis namanya. Ia mengenali tulisan nama Divan karena tulisan itu tergantung di pintu kamarnya. "Buat Divan!" serunya senang.


Lekas Divan buka kado itu. Ia dapat tas pororo juga tempat minumnya. Ada surat juga disematkan di sana. "Mamah, baca!" pinta Divan sambil memberikan Divan surat itu.


Divan Kenan, tante fans Divan loh. Divan lucu sekali sampai tante sering tertawa kalau lihat adegan Divan di YT. Divan sangat ganteng dan menggemaskan.


Kapan-kapan Divan main ke rumah tante, ya? Nanti kenalan sama anak Tante, Davina. Davina juga sering nonton video Divan.


Nanti kalau Divan masuk sekolah, pakai tasnya, ya? Semoga Divan suka. Semoga semakin pintar dan sukses Divan.


"Wouh, Itu Bu Dastel!" serunya mengambil surat dari Bia dan menatapnya senang.


Dira yang berhenti bertengkar dengan Dustin memeluk Divan dari belakang. "Divan fansnya lebih banyak dari papah, loh! Mau dikasih nama apa fans Divan itu?" tanya Dira.


"Ibu Dastel," jawabnya membuat ruangan itu penuh tawa.


Divan sering dibacakan komen di media sosial untuknya. Tentu komentar positif. Banyak dari ibu-ibu itu menuliskan komentar bahwa mereka ibu berdaster yang suka dengan Divan hingga Divan begitu akrab dengan panggilan itu.


🍁🍁🍁