Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Marahnya Papah dan Mamah


Dira turun dari mobil. Mungkin karena ia terkenal, begitu ia turun langsung dikerubungi ibu-ibu. "Pak Dira, anaknya berantem tadi," ucap ibu itu. Tentu Dira bingung. Divan anak yang sangat pintar menahan emosi. Kalau sampai dia bertengkar pasti itu masalah yang besar.


"Sekarang Divannya di mana?" tanya Dira. Ibu-ibu itu menunjuk ruang kepala sekolah. Sepertinya pihak sekolah tak menghubungi karena sudah waktu pulang dan berpikir orang tua Divan pasti sedang dalam perjalanan menjemput.


Dira tak ingin membuang waktu. Ia berlari ke ruangan yang ditunjukkan ibu-ibu itu. Dira mengetuk pintu ruangan meski pintunya terbuka. Ia terbelalak melihat Zayn ada di sana juga.


Dira menarik napas. Sebaiknya ia tak emosi apalagi ini di sekolah, tempat terhormat jika harus dikotori hanya karena kecemburuan dua orang pria. Dira hanya fokus melihat Divan yang menangis di pelukan salah satu gurunya. "Boleh Divannya saya gendong saja?" izin Dira. Guru itu mengangguk lalu meraih Divan.


Melihat keberadaan Dira di sana, Divan langsung menangis lagi. "Ada apa? Bisa cerita? Kakak sedang sedih ... papah tahu, tapi kenapa?" tanya Dira.


Divan mengangkat wajahnya. Dira benar-benar tak tega melihat mata putranya memerah akibat menangis. Bahkan air mata Divan sampai mengering. "Katanya Divan harus bagi mamah sama Raya," adu Divan dengan suara serak.


Ayah mana yang tega mendengar suara putranya begitu lirih dan gemetar karena terlalu banyak menangis. Dira memeluk Divan. "Kita bicarakan ini nanti, saya panggil istri saya dulu," ucap Dira.


Lekas Dira keluar dan menelpon agar Bia datang. Divan harus bersama Bia dan Dira yang akan menyelesaikan ini semua tanpa harus Divan terlibat. Mendengar keadaan Divan, tentu Bia langsung datang diantar sopir. Diandre terpaksa ia bawa juga.


"Divan kenapa?" tanya Bia begitu tiba di sana. Divan masih terisak dan suaranya masih serak.


"Gendong dulu. Jangan dulu ditanya. Diandre ajak saja menenangkan kakaknya," saran Dira. Ia berikan Divan pada Bia yang masih ada dalam mobil di parkiran sekolah, lalu Dira pergi dan masuk ke dalam ruang kepala sekolah.


"Maaf lama, Bu. Saya pikir putra saya syok. Jadi sebaiknya dia ditenangkan dulu," saran Dira.


Kepala sekolahnya mengangguk. "Begini, Divan tadi membentak Raya, bahkan sampai melempar mainan. Raya ketakutan dan menangis," jelas kepala sekolah.


"Apa ibu sudah tanyakan alasannya kenapa?" tanya Dira. Ia sama sekali tak meninggikan suaranya. Ia mencoba tenang menghadapi masalah ini demi putranya.


"Raya hanya bercanda. Ia juga kaget, tak menyangka reaksi Divan akan seperti itu," Zayn memberikan penjelasan.


Dira menatap Raya yang juga terlihat sembab matanya akibat menangis. "Bu, saya tak akan menyalahkan siapa-siapa. Putra saya hanya anak-anak, emosinya timbul dan meledak karena ada sebabnya itu normal. Raya juga tak salah, apa yang ia ucapkan hanya bentuk ungkapan hati seorang anak kecil," ucap Dira.


"Iya, benar. Ucapan anda tepat sekali, pak," puji kepala sekolahnya.


"Bisa minta tolong Rayanya diajak main dulu biar dia tenang. Biar orang dewasa yang menyelesaikan masalah ini secara dewasa," tegas Dira.


"Kamu tahu apa yang anak aku bilang tadi? Katanya Divan harus membagi mamahnya dengan anakmu! Gak mungkin anakmu bisa bilang begitu kalau bukan ada orang dewasa yang memengaruhinya," bentak Dira.


Kepala sekolah di sini menjadi bingung karena mendadak ekspresi Dira berubah. Ia mulai khawatir ada sesuatu yang terjadi. "Raya hanya bercanda," alasan Zayn.


"Bercanda? Bagi kamu memang begitu! Untuk anakku tidak, dia masih empat tahun! Ibunya adalah segalanya, panutannya, kehidupannya. Bagi mainan saja dia sudah merasa sulit, apalagi seorang ibu! Pikir pakai otak!" Dira menunjuk kepala Zayn.


"Pak, tolong ditahan emosinya," pinta Kepala sekolah.


Dira mendengkus. Ia tersenyum sinis. "Apa kamu gak punya perasaan? Anakku ketakutan, saat dia dengar anak kamu bilang Bia akan menikah denganmu, Divan sudah membayangkan orang tuanya berpisah. Itu bikin dia trauma. Putraku sudah tahu rasanya kami berpisah dan ucapan putrimu membuat traumanya timbul. Kalau Divan sampai tantrum, itu bukan salah putrimu. Namun, kamu sebagai ayah tak bisa menjaga ucapan."


"Ini hanya masalah anak-anak nanti juga mereka main lagi," ucap Zayn dengan gampangnya.


"Orangtua kayak kamu yang membuat generasi bangsa hancur! Gak pantas kamu disebut seorang ayah. Apalagi mimpi jadi ayah anakku!" maki Dira.


"Tuan Dira mohon sabar sebentar. Masalah ini nanti berlanjut," saran kepala sekolah. "Kami akan bertanggung jawab atas kejadian ini. Psikolog sekolah akan mendampingi kedua putra dan putri anda. Sekarang lebih baik selesaikan secara kekeluargaan," saran kepala sekolah.


"Bu, saya pikir pihak sekolah tak salah apa-apa. Kalian sudah menyelesaikan masalahnya dengan baik. Yang jadi masalah itu kejiwaan pria ini," sindir Dira.


"Hei, jaga bicaramu!" bentak Zayn.


"Bicaramu yang harus dijaga, apalagi depan putrimu," timpal Dira.


Zayn berdiri. "Kamu itu terlalu ribet. Jadi orang tua jangan terlalu membela anak, nanti jadi manja," saran Zayn. Belum selesai ia bicara tamparan keras melayang di pipinya.


Zayn kaget, ia melirik ke samping dan melihat Bia yang sudah melotot dengan tajam.


🍁🍁🍁


Salah dia lawan beruang 😉