
"Diandre! Lihat itu pantai!" seru Divan. Mata Diandre berbinar. Dengan dituntun Divan, Diandre berlari ke sisi pantai.
"Divan! Diandre!" panggil Bia khawatir. Dira lekas mengejar kedua putranya ke sisi pantai. Bia mengikuti dari belakang.
Bukannya takut, kedua anak itu malah tertawa-tawa senang melihat ombak. Pantai itu memang memiliki ombak yang tenang. Tidak heran banyak anak-anak berenang di sini. Hanya tetap saja Dira khawatir. Meski kedua putranya bisa berenang, tak ada batas di lautan.
"Sini, pegang papah," saran Dira. Ia ajak kedua putranya turun ke pantai dan menikmati gelombang ombak yang pelan.
"Papan, uya-uya," ucap Diandre. Tak mengerti apa yang diucapkan bayi itu. Ia berenang ke belakang Divan dan naik ke punggung kakaknya.
"Dinadre, berat," keluh Divan yang hampir tenggelam karena tak bisa menahan tubuh Diandre.
Dira lekas mengambil Diandre di sana dan menahannya dalam gendongan. "Di sini saja." Ia memegang tangan Diandre. Anak itu tertawa merasakan tubuhnya bergoyang-goyang akibat digerakkan gelombang.
Bia masih duduk di pinggir pantai. Sesekali ombak menyentuh kakinya. Ia merasa sedih, sampai sekarang belum juga berani main air yang banyak seperti itu. Merendam kepala dalam air saja, Bia kembali terbayang kisah di masa lalu.
"Mama! Ni!" panggil Diandre. Ia berusaha berenang ke bibir pantai. Dengan agak kesulitan, akhirnya Diandre berhasil berpijak di atas pasir lalu berlari ke arah Bia. Kembali ia cekikikan akibat telapak kaki tanpa alasnya menyentuh pasir dan terasa geli. "Itik-itik," ucapnya.
Diandre mengangkat telapak kakinya. Memperlihatkan pasir yang menempel di sana. "Geli, ya?" tanya Bia. Anak itu menepuk telapak kaki dengan tangan. Meski masih kaku dan pasir tetap banyak yang menempel di sana.
Bia membiarkan saja. Pasir sangat bagus melatih motorik Diandre dan membuat saraf di indra perabanya lebih peka. Kepekaan indra peraba membuat anak lebih mudah konsentrasi dan tentu daya hafalnya tinggi. "Pasir," ucap Bia mengajari Diandre nama benda yang menempel di kakinya.
"Cil," Diandre mengulang ucapan Bia.
"Mamah sini!" panggil Divan. Bia melirik ke arah pantai. Dira mengangguk.
Benar, Bia harus belajar lagi melawan traumanya. Ia tuntun Diandre dan mulai berjalan ke sisi pantai. Dira sudah menunggu di pinggir laut. Ia ulurkan tangan untuk memegangi Bia.
Sedikit demi sedikit Bia menenggelamkan tubuhnya hingga hanya tersisa setangah. Diandre dengan mudah mengambang dan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya seperti itik kecil.
"Kamu senang?" tanya Bia melihat putranya tertawa. Sesekali Diandre memegang bahu Bia.
"Diandre, gini bisa?" tantang Divan. Ia berenang dengan kepala di bawah dan kaki di atas.
"Tuh, kak. Kata adik itu bahaya," nasehat Dira.
Divan nyengir kuda. Ia sejak bisa berenang sering mencoba banyak gaya. "Papah, Divan mau selam-selam ke dalam. Ada ikan itu, warna-warni," pinta Divan.
"Anginnya sebentar lagi makin kencang. Gerakan lautnya semakin cepat. Apa kira-kira aman?" tanya Dira.
Divan berpikir sejenak. "Bahaya, kata Diandre benar," timpal Divan.
Sedang Diandre masih berenang menjauh dari Bia lalu memutar kembali. Sambil memegangi Diandre, Bia melihat lurus ke arah lautan. Terlihat burung-burung beterbangan melintasi udara, turun ke laut, mengambil ikan lalu terbang lagi.
"Hidup juga begitu, ya. Kita bahagia, jatuh dalam kesedihan, mengambil pelajaran hidup, lalu berusaha bahagia lagi," komentar Bia.
"Hah?" tanya Dira bingung karena tak mengerti maksud dari istrinya.
Bia menggeleng. Wanita itu memeluk Diandre dalam dekapan. "Divan mau juga," pinta Divan. Ia memeluk Bia dan lekas Bia peluk.
Dira terkekeh. Ia belai lembut rambut kedua putranya. "Mereka akan semakin dewasa suatu hari nanti. Tak tahu Divan mau jadi apa, Diandre juga. Hanya satu yang papah minta pada kalian. Selalu sayang sama ibumu dan hormati papah, ya?" nasehat Dira.
Divan mengangguk karena mengerti. Sedang Diandre malah menguap sambil menepuk-nepuk mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya.
"Diandre ngantuk, kayaknya." Bia menggedong Diandre dan kembali ke bibir pantai. Divan dan Dira mengikuti dari belakang. Angin bertiup mulai kencang dan matahari semakin terik.
Pasangan itu berjalan kembali ke hotel di mana barang mereka disimpan. "Kalau mereka sudah besar nanti, kira-kira masih main dengan kita begini gak, ya?" tanya Bia sambil berjalan dituntun Dira.
Divan kini digendong Dira akibat tak mau kalah seperti Diandre. "Mereka pasti akan punya kehidupan sendiri. Punya pasangan, menikah dan punya anak," timpal Dira.
"Pasti aku kesepian karena itu," keluh Bia. Begitulah orang tua. Tak selamanya anak akan ada dalam naungan mereka. "Sebelum itu terjadi, aku tak mau sibuk dengan hal lain. Ingin dengan mereka dulu saja."
"Tak perlu takut kesepian. Kita akan menua bersama, kan?" tanya Dira.
🍁🍁🍁