
Aroma desinfektan yang kuat, berbaur dengan obat-obatan. Lily terbaring di ranjang rumah sakit dengan di temani Helena, Adam juga terbaring di ranjang yang tak jauh darinya.
"Umg ...," Lily melenguh pelan, perlahan matanya terbuka.
"Kau sudah sadar?" suara seorang wanita menyapanya.
Lily menoleh, seorang wanita cantik duduk di samping brankar Lily. Lily memicingkan matanya, berusaha mengenali sosok cantik itu.
"Kau teman Aric?" tanya Lily memastikan. Wanita itu menjawabnya dengan anggukan.
"Aric! di mana dia sekarang? bawa aku menemaninya, di mana dia!" Lily berteriak histeris.
Masih lekat dalam ingatan Lily, bagaimana benda tajam itu menghujam punggung suaminya.
Helena segera bangkit dari duduknya, ia memegangi bahu Lily. Sedikit menekan, agar Lily kembali ke posisi semula.
"Sst ... tenanglah, kalau tidak aku tidak akan membawamu menemui A!" tegas Helena.
"Tapi dia ... berdarah, pisau itu menusuknya!"
"Dia pernah mengalami hal yang lebih buruk dari ini, dia akan baik-baik saja. A, memintaku untuk menjagamu dan Adam, jadi berkerja samalah," ucap Helena datar.
Adam, mata Lily melebar. Dia baru saja akan membuka mulutnya untuk bertanya.
"Anakmu ada di sana," tukas Helena sambil melirik kearah kanan ranjang Lily.
Lily segera menoleh, ia bisa melihat Adam terbaring dengan mata terpejam. Lily kembali menoleh pada Helena.
"Dia baik-baik saja, hanya butuh istirahat. Dosis obat bius yang diberikan padanya sangat kuat, kemungkinan nanti malam dia akan siuman."
Lily mengambil nafas dalam, ia kembali menatap lekat pada putranya kecilnya itu.
"Bagaimana dengan Aric?" tanya Lily dengan lebih tenang.
"Dua jam yang lalu, dia selesai menjalani operasi. Luka di punggungnya cukup dalam, kau bisa melihat nanti," jawab Helena.
Hati Lily terasa diremas mendengarnya, demi dirinya Aric menahan semua pukulan dari orang-orang itu. Tubuhnya penuh luka dan darah, meskipun akhirnya Ariclah yang menghabisi mereka.
Lily menatap Helena, ada sejuta pertanyaan yang berkecamuk di otaknya. Namun, Lily merasa ragu untuk bicara.
Helena, wanita itu tampak acuh. Tetapi, Lily bisa melihat dia adalah wanita yang baik, dia bahkan beberapa kali memeriksa selimut dan infus Adam.
Helena meletakkan ponsel,l di nakas setelah membaca pesan dari Marquis, Helena kembali duduk disamping Lily.
"Aku tahu kau pasti ingin menanyakan sesuatu padaku, tapi aku sarankan agar kau bertanya sendiri pada suamimu. Dia yang lebih berhak menjawabnya," ujar Helena.
"Iya."
"Ngomong-ngomong apa kau ingin menemuinya, kata Marquis dia baru saja sadar."
"Bawa aku ke sana, aku harus bertemu dengan Aric." Lily berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
Helena membantu Lily untuk turun dari ranjang, kemudian duduk di kursi roda. Tubuhnya masih lemah, Lily belum diperbolehkan untuk banyak bergerak.
Setelah memindahkan kantong infus ke tiang yang ada di kursi roda. Helena mulai mendorongnya meninggalkan ruangan itu, sebelum pergi Helena menyuruh seorang anak buahnya untuk menjaga Adam.
Dalam ruang rawat, Aric tengah duduk dengan bantal yang menyangga tubuhnya. Sebagian dada Aric tertutup oleh perban, lebam dan luka goresan terlihat jelas ditubuh Aric yang tidak memakai atasan.
"Bagaimana keadaan Lily?" tanya Aric, ia menengadah wajahnya menatap langit-langit kamar.
"Dia baik, hanya butuh istirahat saja. Kejadian ini benar-benar membuatku shock, sebaiknya kau tidak membuat hal lain yang bisa mengejutkan istrimu," jawab Marquis.
Aric tersenyum getir. Lily mungkin sudah tahu sisi gelap Aric, dunia yang ia coba sembunyikan dari istrinya. Aric takut, Lily akan meninggalkannya setelah mengetahui sisi lain Aric.
"Apa aku harus melepaskannya?" Marquis menautkan alisnya mendengar pertanyaan Aric.
"Kau apa? Kau ingin melepaskan istrimu?" beo Marquis.
Deg
Lily yang mendengar ucapan Aric dari celah pintu merasa tak percaya, kenapa? Kenapa Aric ingin meninggalkan dia? Apa karena dia menyusahkan, atau karena Lily bukan wanita tangguh seperti Helena?
"Apa kau ingin masuk?" tanya Helena berbisik.
"Tunggu di sini sebentar." Helena mengangguk.
Marquis menatap tidak percaya pada Aric. Sementara Aric, laki-laki itu terlihat sendu, seolah ia telah kehilangan sebagian hidupnya.
"Apa kau waras?"
"Aku waras sepenuhnya,. Marquis!" tegas Aric dengan tatapan tajamnya.
"Lalu apa maksudmu melepaskan kakak ipar? Bukankah kau sangat mencintainya, bahkan kau rela sampai seperti ini untuk seorang wanita A!" geram Marquis yang mulai tidak sabar.
Aric mengambil nafasnya dalam.
"Aku sangat mencintainya, karena itu aku ingin melepaskannya. Sekarang dia sudah tahu siapa aku, sisi lain dari duniaku. Aku tidak ingin dia masuk ke dalam kegelapan ini, aku ingin dia bebas, dan kebebasan itu hanya akan bisa dia dapatkan jika jauh dariku," setiap kata yang Aric ucapkan melukai dirinya sendiri, tetapi itulah kebenaran.
Bagaimanapun Aric lari, dia tidak akan pernah bisa lepas dari pekatnya dunia hitam itu, musuh akan terus mengejarnya.
Marquis terdiam, ia tahu maksud A dengan jelas. Akan sulit bagi Lily sebagai orang biasa untuk mengerti dunianya dan Aric, di mana nyawa bisa melayang tanpa bisa diduga.
Brak
Lily mendorong pintu dengan keras, ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Siapa yang mau pergi? siapa yang mau kau lepas? Apa aku hanya barang yang bisa kau buang setelah kau pakai. Aric?!"
Aric terkejut, Lily menatapnya dengan sangat marah.
"Jawab Aric! kenapa kau diam?! tanya Lily dengan berteriak.
"Bukan seperti itu, Sayang." Aric mencoba turun dari ranjang, tetapi selang infus itu menahan langkahnya.
"Diam! aku muak dengan panggilan sayang mu, kau tidak pernah benar-benar menyayangiku kan!"
Aric melepaskan jarum infus yang tertancap di punggung tangan dengan paksa, darah mengalir deras dari sana, tetapi Aric tidak perduli. Ia bergegas turun kemudian mendekati Lily.
"Sayang, tenanglah." Aric berusaha meraih tangan Lily, tetapi wanita itu terus saja menepisnya.
"Kau pembohong Aric, kau pembohong. Kau tidak mencintaiku." Lily menunduk, suaranya terdengar serak seiring air matanya yang jatuh.
"Hey ... Jangan menangis, aku mohon." Aric bersimpuh didepannya, dengan tangan Aric yang masih meneteskan darah, Aric menakup wajah Lily dan sedikit mengangkatnya.
"Aku mendengar semuanya, ingin meninggalkanku," ucap Lily dengan menatap sendu.
Aric hanya diam, dia menundukkan matanya. Aric tidak sanggup menatap mata Lily.
"Kenapa kau tidak bertanya padaku? apa mau ku? Kenapa kau memutuskan semuanya sendiri?"
Aric masih bungkam.
"Bagiku kamu adalah kamu, kamu suamiku Artama Aric Mahadev, ayah dari anak-anakku. Siapapun dirimu, aku ingin tetap di sampingmu, bolehkan?"
Lily menyatukan kening mereka. Aric diam, hanya air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Aric, maukah kau mengabulkan satu saja permintaanku?"
"Apa?" tanya Aric dengan suara serak yang tertahan.
"Aku mohon biarkan aku bersamamu, sampai aku tidak bisa lagi membuka mataku."
Aric mendongak wajahnya, kedua mata bening mereka beradu. Aric mengangguk, kedua tangannya segera merengkuh Lily dalam dekapannya.
Marquis dan Helena hanya diam, menyaksikan dua insan itu.
"Itu sangat manis kan Honey," bisik Marquis sambil bersandar manja di bahu Helena.
"Hem, sebaiknya kita pergi dari tempat ini." Marquis mengangguk setuju.
Keduanya berjalan secara diam-diam, meninggalkan sepasang suami-isteri yang belajar untuk saling memahami.