Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Trio Ernesto


Iya, setiap orang memang punya pilihan. Bia juga begitu. Mayen akan selalu memilih jalan yang sama seperti dulu, Ceril juga. Bia tak ingin ikut campur. Pilihannya sekarang adalah ingin hidup dengan Dira dan kedua anaknya.


"Amerika?" tanya hampir seluruh keluarga Kenan kecuali Daren. Dira menganggap masalah Mayen sudah selesai dan tak perlu dibahas lagi antara mereka.


Di tengah padang rumput dekat rumah kecil di mana kakek Dira dulu sering menyepi, keluarga itu tengah piknik. Mereka pulang Emertown untuk beberapa hari. Sekadar liburan karena Divan merayakan follower IGnya yang mencapai 10 juta.


Rumput pendek berwarna hijau tampak menyejukkan pemandangan. Di sisi lain ada barisan bunga matahari yang tengah berbunga lebat. Sebentar lagi bunga itu akan menguning tanda musim gugur akan datang.


"Kamu ini bagaimana? Kemarin sudah janji sama papah akan masuk ke dalam Kenan Grup!" protes Ernesto.


Dira memeluk papahnya. Ia sandarkan kepala di bahu Ernesto dengan manja. "Papah tahu gak, setiap Dira sukses dengan bisnis. Banyak yang bilang Dira akan menggulingkan Daren. Jujur Dira gak enak, apalagi Daren itu cengeng," ledeknya.


Daren tak terima. Ia ambil sandal lalu ia lemparkan pada adiknya itu. Syukur Dira dengan sigap dapat menangkap sandal Daren hingga tak kena bagian tubuhnya yang lain. Kecewa Daren akibat serangannya yang gagal.


"Lagipula papah yang salah. Dulu Dira gak mau masuk dalam dunia bisnis, malah papah paksa. Sekarang Dira mulai nyaman. Dira ingin kembangkan kemampuan sampai tingkat internasional. KY Holding tempat paling menjanjikan," cerita Dira.


Ernesto mengangguk. "Benar juga, Tuan Darwin pria yang sangat hebat. Di usia semuda itu dia bisa menggabungkan dua perusahaan dan menjadikannya salah satu perusahaan raksasa. Jadi kamu akan bekerja padanya?" tanya Ernesto.


Dira mengangguk-angguk. "Kebetulan putranya juga sebesar Divan. Dia tak punya teman main. Mungkin mereka bisa jadi teman dekat."


"Dia duda, kan?" tanya Daren. Dira mengangguk. "Empat tahun jadi duda dan belum nikah lagi. Padahal hartanya saja sampai ratusan juta dollar. Kalau aku jadi dia, istriku sudah jadi seratus," celetuk Daren. Ia langsung mendapat cubitan di lengan dari Sora.


"Anak kamu lihat tuh, masih gadis kecil. Kamu mau dia dapat karma hanya gara-gara ayahnya tukang selingkuh?" omel Sora.


Dustin mengambil semangka sambil tertawa. "Makan, tuh! Sudah tua makin gak tahu diri," ledeknya.


Bia penasaran dengan apa yang Dira ucapkan. Ia lekas membuka ponsel dan mencari nama Tuan Darwin di sana. "Ya ampun, ganteng banget!" tanpa sadar Bia berucap lumayan kencang.


Daren berniat menoyor jidat istrinya. Baru mengangkat tangan, ia mendapat pelototan tajam dari istrinya. Daren langsung mengundurkan niat.


Dustin menggeleng-geleng. Ia sering melihat pemandangan bagaimana para suami takut dengan istrinya. Apalagi Ernesto. Di depan orang saja tampangnya berwibawa. Begitu Maria marah dan menutup pintu kamar, ia akan memelas dan merengek.


"Kenapa aku jadi malas nikah, ya?" keluh Dustin. Ia melihat ke belakang. Divan, Diandre dan Emelie tengah bermain gelembung di sana. Dustin bangun. Dengan langkah pelan, ia dekati ketiga anak itu.


Wadah air sabun yang disimpan di tanah, lekas Dustin ambil. Jelas ketiga keponakannya langsung menjerit minta di kembalikan. "Oom! Gelembung mana!" protes anak-anak itu sambil mengejar Dustin.


"Oom! Gelembung!" Emelie merengek. Suara anak-anak itu terdengar hingga ke telinga orang tuanya.


"Dustin! Kurang kerjaan kamu. Anak lagi tenang main malah diganggu!" omel Daren, tapi adiknya itu sama sekali tak menyerah. Ia terus berlari membawa wadah gelembung. Divan dan Emelie tak mau kalah, kedua anak itu berjuang mempertahankan haknya.


Diandre lain. Karena masih sangat kecil dan larinya tak kencang, ia lebih memilih duduk di rumput sambil menangis. Bia langsung meraih putranya itu dan ia tenangkan dalam gedongan.


Melihat anaknya menangis, singa jantan dalam diri Dira langsung keluar. Ia berdiri mengejar Dustin. Daren juga tak mau kalah. Lain saat dikejar Emelie dan Divan di mana Dustin bisa santai, pria itu kini lari sekuat tenaga.


"Getok saja Oomnya, pah!" seru Divan sambil berhenti berlari dan melihat ketiga putra Ernesto saling kejar di kejauhan.


Maria geleng-geleng kepala. "Kapan sih anak-anakku akan dewasa," keluhnya.


Dira berhasil menangkap Dustin. Lekas ia dekap adiknya itu lalu menggetok kepalanya. Dustin berusaha melarikan diri. Ia dorong tubuh Dira dengan sekuat tenaga. Dira hampir tersungkur, ia ditahan Daren. Karena saking kuatnya, ketiga pria itu sama-sama terjungkal dan berguling di perbukitan.


Ernesto tersenyum. Kini dalam pandangannya sedang melihat ketiga putranya masih sekecil dulu. Saat yang dulu dia lewatkan akibat lebih sibuk berkerja di kantor. Dira, Daren dan Dustin berhenti berguling. Mereka merebahkan tubuh di atas rumput sambil menatap langit luas. Tawa mereka membahana.


🍁🍁🍁