
"Jadi ambulan sudah datang? Dira langsung ke rumah sakit," ucap Dira dengan kepanikan yang sudah terasa menjalar hingga ubun-ubun. Ia banting stir dan merubah jalur jalan menuju rumah sakit yang Mrs. Carol sebutkan. Divan lahir di rumah sakit yang sama dulu.
Ia sudah berusaha mengebut sebisa mungkin agar cepat sampai dan bersama Bia. Sayang, kemacetan Emertown di beberapa persimpangan membuat angan-angannya tertahan.
Dira berusaha mencari peluang dengan menyalip kendaraan-kendaraan yang lebih lambat. Tujuannya hanya satu, ia tak ingin ketinggalan moment kelahiran anak keduanya, moment yang ia lewatkan untuk Divan dulu.
Keringat sudah menganak sungai. Tangan Dira gemetar dan lebih dari itu jantungnya berdebar hingga terasa sesak. "Tunggu aku ya istriku. Tahu kamu akan melahirkan lebih cepat, aku lebih memilih libur," keluhnya.
Dalam pikiran Dira hanya ada Bia kini. Ia tak hentinya berdoa agar istrinya diberi kemudahan dalam perjalanan ke rumah sakit. Dira selalu dihantui luka membayangkan dulu Bia berjalan sendirian naik bus menuju rumah sakit.
"Aduh, jangan macet donk!" keluh Dira sambil menekan klakson akibat terjadi antrian kendaraan. Rasanya kepala Dira seperti meledak saking kesalnya dengan jalanan Emertown setiap akhir minggu. Truk-truk pembawa bahan produksi berpadu dengan kendaraan menuju tempat wisata.
Syukur, lima belas menit semuanya kembali normal. Rupanya dipersimpangan sempat ada adu mulut antara pengendara motor dan mobil akibat hampir terjadi kecelakaan setelah pengendara motor melanggar lampu merah.
Dira tak mau ikut terlibat, ia punya hal yang jauh lebih besar untuk ia urus dibanding ikut terlibat dengan keegoisan orang lain. Kakinya menginjak gas dengan kuat. Ia sudah terbiasa kebut-kebutan saat muda dulu - sekarang juga masih muda. Itu mungkin berguna sampai ... ia harus menginjak rem dengan kuat akibat salah perhitungan yang membuat mobilnya hampir menabrak pembatas jalan.
Tinggal beberapa senti lagi, mungkin bukan hanya mobil yang hancur, Dira juga bisa berakhir di rumah sakit bahkan kuburan. Dira mengusap dada. Ia menarik napas dan mengeluarkannya pelan. "Kali ini saja Tuhan, beri kelancaran. Kali ini saja biarkan aku bersama Bia. Dia butuh aku. Jangan biarkan dia kesakitan sendiri lagi. Aku mohon," doa Dira sambil meneteskan air mata.
Tangannya bergetar hebat hingga memegang kemudi mobil saja hampir seperti tak ada tenaga. Pandangan matanya juga terlihat remang-remang. Telapak kaki dan tangan terasa dingin.
Dira menutup mata sejenak. Setelah matanya terbuka, ia ingat Bia. "Kuat Dira, kamu pasti bisa. Bia nunggu kamu," tekadnya.
Saat itu juga, Dira memundurkan mobil lalu membelokkan kemudian ke arah kanan hingga kembali ke jalur jalan. Kini ia belajar untuk membawa mobilnya dengan lebih tenang. Pelan, tapi pasti ... empat puluh lima menit kemudian ia tiba di rumah sakit.
Dira lekas turun dari mobil dan mengunci kendaraannya. Ia berlari sekuat tenaga. Lekas ia telpon Mrs. Carol untuk memandunya menuju ruang bersalin.
"Bia mana, bu?" tanya Dira begitu mereka bertemu di lantai dua rumah sakit.
"Belum melahirkan. Dokter bilang masih pembukaan delapan. Dia nanyain Tuan Muda terus," jawab Mrs. Carol.
Bia masih berbaring di atas ranjang pasien sambil memegang perutnya yang terasa ngilu. Dira tak mau buang waktu. Ia berjalan mendekati Bia dan memegang tangannya dengan erat.
"Aku di sini, Bia. Jangan takut, ya?" ucap Dira memberi kekuatan. Ia belai rambut istrinya dan mengecup kening Bia.
"Di sini saja, ya? Jangan ke mana-mana," pinta Bia. Dira mengangguk.
Beberapa menit menahan rasa sakit akibat pembukaannya belum sempurna, akhirnya saat mendebarkan dimulai. Kepala bayinya sudah mulai terlihat.
"Dorong yang kuat, Nyonya Bia," saran dokter. Dira memegang tangan istrinya. Sementara Bia masih mencoba mengatur napas lalu mendorong bayinya agar keluar.
"Ayo, Bi. Kamu pasti bisa. Kamu hebat. Kamu juga bisa berjuang sama Divan, kan?" ucap Dira. Lekas pria itu mencondongkan tubuhnya. Ia simpan tangan Bia di bahunya. Lalu tangan Bia satunya ia pegang dengan kuat. "Pegangan sama aku, kita berjuang sama-sama."
Bia menatap wajah Dira. Tatapan mereka bertautan. Dira mengangguk seakan memberi kekuatan dan itu bisa Bia rasakan. "Ayo, kamu bisa," ucap Dira.
Bia tersenyum. "Iya, aku bisa. Ada suamiku di sini. Ada ayah dari anakku di sini," batinnya.
Bia mencoba mendorong lagi sekuat tenaga. Bagian kepala bayi memang bagian paling sulit dikeluarkan, tapi setelah itu keluar sempurna maka bagian tubuh yang lain akan lebih mudah keluar.
Bia rasakan itu, ketika bayi kecilnya meluncur kepangkuan dokter yang membantunya melahirkan. Bayi itu langsung menangis dan seperti Divan dulu, tangan kecilnya menggenggam, tanda haus meminta kelembutan dan kehangatan sentuhan ibunya untuk pertama kali.
Dira melihat banyaknya darah yang keluar. Belum lagi tubuh Bia yang terlihat lemas dan dokter masih dalam tahap mengeluarkan plasenta. Dira jadi ngeri sendiri. Mendadak rasa nyeri seakan hadir ditubuhnya hingga kakinya gemetaran.
"Kenapa, Pak? Makanya yang baik sama istrinya. Melahirkan itu ngeri," ucap dokter sembari tertawa melihat Dira duduk lemas di lantai akibat melihat keadaan istrinya dan darah yang keluar banyak.
🍁🍁🍁