Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Mancing Buaya


Bia masih menjinjing tas kertas di tangannya. Dira sempat meminta istrinya untuk menitipkan benda itu. Bia menggeleng. Ia tetap teguh pendirian akibat malu.


Akhirnya tas kertas itu disimpan di bawah meja makan mereka selama mereka makan malam. "Kamu ini nekat memang," keluh Dira.


"Kalau orang lihat gimana?" protes Bia.


"Ya masa mereka bongkar isinya di atas meja penitipan. Paling cuman diperiksa metal detektor." Dira membuka kancing lengan kemejanya lalu menariknya ke atas.


Mereka makan di restoran mahal, hanya bukan meja VIP. Terlalu lama memesan meja VIP sementara keduanya sudah lapar dan lemas. Mereka duduk di tengah ruangan beralaskan karpet coklat tua yang memiliki corak bunga berwarna keemasan. Kursi-kursi terbuat dari kayu dengan desain geometris dan meja yang dialasi taplak emas.


"Sayang, aku ke toilet dulu. Karena dingin jadi setoran terus," protesnya. Sejak tadi Dira duduk memang sudah seperti tak nyaman. Ternyata dia kebelet ke toilet.


Bia mengangguk. Ia tatap kepergian Dira yang meninggalkannya di meja sendirian. Ruangan itu memang sedikit sepi. Hanya beberapa yang meja yang terisi, tapi kata pelayan ruang VIP penuh.


"Kenapa orang sekarang lebih senang makan di tempat VIP. Padahal di meja begini enak, bisa sambil membicarakan orang yang kita lihat," ucapnya jahil. Tak lama pikiran Bia travelling. "Apa jangan-jangan mereka makan sambil .... Ah, ini gara-gara Dira tadi!"


Bia melihat-lihat ke sekeliling. Ia terpaku pada bunga lili yang ada dalam vas di atas meja kecil yang ditata di tengah ruangan. Terlihat indah meski warnanya putih sendiri di antara warna coklat tua dan keemasan.


"Drabia?" panggil seseorang. Bia berbalik, kaget ia melihat ada Zayn di sana. Pria itu sepertinya tak kapok Bia omeli tadi siang. Buktinya ia duduk di kursi Dira tanpa izin terlebih dahulu. Di meja itu memang hanya ada dua kursi. "Kamu lagi ngapain di sini? Senang bisa ketemu kamu selain di sekolah," ucap Zayn.


Ia memperhatikan pakaian Bia. Tak seperti dua kali bertemu saat Bia hanya memakai kaos dan celana jeans, Zayn terlihat terpukau melihat Bia berdandan dan memakai dress. "Kamu selalu cantik, ya sejak dulu," puji Zayn.


Bia mendengus. "Makasih, tapi itu kursi suamiku. Kalau mau duduk tolong ambil kursi lagi," ketus Bia.


Zayn terkekeh. Ia sama sekali tak memandang serius ucapan Bia. "Aku dengar dia pernah bersama wanita lain. Ibuku yang cerita, sih. Banyak yang bahas dia ninggalin kamu saat hamil dan selingkuh dengan wanita lain."


Bia terbelalak lalu mendengkus. "Apa perlu kamu bahas itu?" tegur Bia.


Zayn mengangkat kedua bahunya. "Menurutku kamu terlalu polos memaafkan kesalah dia seperti itu. Kalau menurutku, lebih baik mencari pria lain yang bisa menjaga anakmu, kan? Pria yang berselingkuh kemungkinan akan mengulang kebiasaan sama," nasehat Zayn.


Zayn menarik lengan Bia. Ia agak kaget melihat reaksi Bia. "Maaf, Bi. Aku gak maksud begitu," ucapnya sambil memperlihatkan wajah menyesal. "Aku cuman kasihan saja lihat masa lalu kamu yang miris disia-siakan Dira," jelas Zayn.


Bia menepis tangan Zayn. "Dari dulu kamu gak berubah, ya. Kamu selalu pandai menjelekkan orang agar mendapat simpati. Sayangnya, aku gak peduli," tekan Bia.


Baru Zayn akan menjelaskan posisinya, tiba-tiba seseorang menarik kemejanya dan mengangkatnya. Dengan sekali dorong, Zayn tersungkur. "Pergi kamu! Ini tempatku," tegas Dira.


Semua orang di sana menatap ke arah meja mereka. Zayn bangkit sambil menepuk pakaiannya. Ia berdiri di depan Dira sambil berkacak pinggang.  Dira sendiri dengan santai duduk di kursinya. Sementara Bia terbelalak sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Bisa tidak memintanya dengan baik-baik," tegur Zayn.


Dira mendongak dan menetap Zayn dengan santai. "Maaf, gak sengaja. Kupikir aku gak sekuat itu dan kamu gak selemah itu," ledek Dira. Ia tersenyum jahil.


Zayn memalingkan wajah sejenak lalu menatap Dira dengan kesal. "Aku bisa laporin kamu atas tindak kekerasan," ancam Zayn.


Mendengar itu, Bia mendadak khawatir. Sementara Dira terlihat santai. "Aku juga bisa laporin kamu atas tindak pencemaran nama baik. Satu lagi, menggoda istri orang termasuk tindakan kriminal juga," balas Dira.


Dira berdiri dan menatap Zayn dengan tajam. "Dengar! Istriku terlalu sibuk mengurus dua anaknya. Dia gak punya waktu ngurus anak kamu. Satu lagi, kalau istriku tergoda sama kamu, bukannya itu namanya selingkuh? Kata kamu, orang selingkuh selamanya akan selingkuh. Emang kamu mau?" sindir Dira.


Zayn bergetar ia sama sekali tak mampu melawan ucapan Dira. Sejak dulu Zayn memang begitu, ia hanya berani menggertak jika pada Bia karena Bia dulu lemah. Lain kalau Dira yang maju.


"Satu lagi. Punyaku terlalu besar. Kamu gak akan bisa muasin dia dengan milik kamu itu." Dira menurunkan pandangannya pada benda di antara kedua kaki Zayn. Pria itu mendengkus sambil menatap Dira dengan kesal.


"Sekarang aku cuman akan mendorong ke lantai. Lain kali aku dorong kamu ke jurang!" ancam Dira. Zayn tak mau buat masalah lagi. Ia langsung pergi meninggalkan pasangan itu.


🍁🍁🍁