Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Surat Undangan


"Ah, hidupku memang sempurna," batin Bia sambil tersenyum hingga matanya menyipit.


Wanita mana yang tidak iri dengannya. Ketika bangun menyapa matahari pagi itu, tangannya sudah memeluk dada bidang juga menyentuh enam kotak di perut suaminya. Meski mata sudah terbuka, Bia akan pura-pura tidur sampai beberapa lama hanya demi menyentuh-nyentuh otot kekar itu.


"Kasian banget wanita-wanita di luar sana yang cuman bisa lihat beginian di video," pikirnya jahil. Ia sampai tak kuat menahan tawa. Meski begitu, Bia masih tetap berusaha pura-pura tertidur sambil semakin erat memeluk tubuh Dira.


Dira masih tertidur lelap. Sudah bukan hal yang aneh pria itu akan bangun kesiangan. Berpegangan teguh pada hal itu, Bia dengan nakal menyelusuri roti sobek dengan jari-jari lentiknya. Sesekali ia tersenyum geli. Tak lama matanya mulai berpindah pada wajah Dira.


Telunjuk Bia menyentuh-nyentuh pipi Dira yang memiliki dimple di sisi kanan dan kiri. Kalau sedang tersenyum pasti lekukannya terlihat jelas dan itu bagian manis dari prianya. Kulit Dira juga begitu bersih laksana gorden putih baru dicuci.


Sayangnya, ketampanan itu membuat Bia hilang kendali. Ia raih pipi Dira kemudian ia cium dengan gemas. Jelas Dira langsung terperanjat kaget. Bahkan pria itu sampai berteriak minta dilepaskan.


"Bi, apaan sih, Bi!" pekik Dira. Ia mengusap pipinya yang sakit akibat diremas istrinya.


Di luar mentari masih bersembunyi di balik awan. Udara yang dingin membuat bergumul dengan selimut begitu menyenangkan. "Abis kamu lucu kalau lagi tidur," jawab Bia sambil mencubit gemas pipi Dira lagi.


Dengan mata setengah terbuka, Dira mematung di atas tempat tidur. Beberapa kali ia menggosok mata agar seluruh nyawanya terkumpul.


"Aku mau bangun, ah." Bia menyibak selimut lalu berjalan ke kamar mandi. Sementara Dira kembali berbaring kemudian menutup mata lagi.


Selesai mandi, Bia berjalan keluar kamar. Mrs. Carol sudah bangun dan duduk di ruang makan. Bia memperlihatkan susunan gigi putihnya.


"Maaf, aku kesiangan." Bia duduk di kursi yang terhalang meja dengan Mrs. Carol.


"Tak apa. Semalam kamu nemenin Divan main, kan?" Mrs. Carol memahami keadaan Bia. Divan sedang aktifnya dan mulai susah diminta tidur. Saran dari psikolog, Divan harus mengurangi makanan manis. Oleh orang tuanya dikurangi, dia malah rajin sendiri mengambil makanan manis di kulkas.


"Divan bangun?" tanya Bia penasaran. Semakin lama, dia semakin mirip Dira - tidur malam dan bangun siang.


Baru beberapa detik berkata, Bia langsung terperanjat akibat mendengar suara pintu yang dibuka secara paksa. Pintu ruang makan memang langsung menghadap ke halaman belakang rumah.


"Salaju, Mah. Cepetan ental kebulu ilang," seru Divan yang muncul dari pintu kaca itu. Bia mengusap dada. "Yok, buat olaf!" ajaknya.


Bia menggeleng. "Makan dulu, Divan. Saljunya masih tipis, gak bisa dibuat olaf," timpal Divan. Terlihat Divan menunduk kecewa mendengarnya. Ia berjalan malas masuk ke ruang makan. "Sepatunya lepas," tegas Bia. Divan mengangguk dan melepas sepatunya.


Anak itu naik ke kursi di samping Bia. Pelayan membawakan makanan khusus untuk Divan yang memang potongannya dibuat kecil agar mudah anak itu sendok dan kunyah.


"Makan sendili, ya?" tanya Divan. Bia menimpali dengan anggukan. Kursi kayu yang Divan naiki terdengar mendecit akibat Divan duduknya tak mau diam. Ia mulai mengaduk-aduk mangkuk dengan sendok akibat kesulitan mengambil makan.


Meski gregetan melihatnya, Bia tetap membiarkan Divan. Dengan latihan makan sendiri, tangannya bisa lebih terlatih. Memang seperti tega, tapi itu demi kebaikan Divan.


"Suami kamu gak makan?" tanya Mrs. Carol.


"Nanti kalau bangun, dia pasti makan sendiri." Bia menusuk buah apel yang jadi sarapannya. Dia sedang diet akibat naik dua kilo. Mau tidak mau habis nikah daripada suami ditikung orang, Bia jadi jaga penampilan. Sekarang.


Ternyata yang sedang dibicarakan malah muncul dari pintu ruang tengah. Dira mengenakan kaos dan celana pendek hitam seperti sedang berkabung.


"Pagi, Bu," sapa Dira. Mrs. Carol membalasnya dengan senyuman. Dira menuangkan susu ke dalam gelas. Ia berjalan ke jendela dan minum susu di sana sambil berkacak pinggang dengan lengan kiri.


Cahaya lembut dari jendela menyinari wajahnya. "Mau minum susu saja perlu action dulu. Lagi shooting iklan, Pak?" protes Bia.


Dira berbalik sambil mengusap rambutnya ke belakang. Meski begitu, rambut lembut Dira tetap kembali ke depan dan jatuh dengan rapi. "Resiko orang ganteng emang gitu. Padahal gak ngapa-ngapain malah disangka iklan," ucapnya kepedean.


Bia sampai melepar Dira dengan potongan apel. Bukannya langsung makan, Dira malah menyimpan gelas susu yang masih tersisa setengahnya di meja lalu berjalan ke pintu depan.


"Ih, nakal, ya?" Divan terdengar kesal karena makanannya sulit masuk ke dalam sendok. Lama-lama dia mulai tak sabaran hingga menyendok makanan dengan tangan kanan dan tangan kiri ikut mendorong makanan ke sendok.


"Jorok, ih. Makannya pakai satu tangan saja," nasehat Bia. Ia mengambil tissue dan membersihkan tangan kiri Divan.


Sayang, putranya itu banyak akal. "Oke, satu tangan ja." Lucunya Divan menggunakan tangan kanan untuk merauk makanan dan memasukannya ke dalam mulut.


"Aduh, Divan. Kok malah makan pakai tangan?" keluh Bia. Kembali Bia membersihkan tangan Divan dengan tissue.


Terdengar langkah Dira masuk ke ruang makan. Ia melihat-lihat surat yang baru ia dapatkan dari kotak surat di depan.


"Ciee ... yang nunggu surat cinta," ledek Bia.


Dira duduk di kursi utama di meja makan. Ia bariskan surat berisi tagihan juga promosi langganan ini dan itu. Hanya dua surat yang menarik perhatiannya. Keduanya memiliki bentuk yang sama, hanya penerimanya beda. "Dira Gavin Kenan. Drabia Azura Louis," Dira membaca kepada siapa surat itu ditunjukkan.


Tak lama Dira manyun. "Apa orang yang ngirim kurang update? Sudah jelas kamu sudah nikah, masih saja cantumin nama keluarga yang dulu," protes Dira. Tidak mungkin juga jika surat ini dikirim sebelum mereka menikah. Pasti sampainya bukan ke rumah ini.


Dira membuka plastik pelindung surat dengan sembarang. "Undangan reuni SMA State Comunity." Ia langsung sadar jika itu SMA tempat ia menempuh pendidikan dulu.


"Reuni?" tanya Bia dengan wajah malas. Ia masih merasa kesal pada perilaku siswi SMA itu dulu padanya.


"Datang saja, Mah. Tunjukan kalau beruang bisa berubah jadi kuda," ledek Dira. Sekali lagi ia kena lemparan apel dari Bia.


"Senang banget ngeledek istri sendiri, ya! Awas saja nanti!" ancam Bia.


🍁🍁🍁


Bu Kasian Bu .... poinnya bu ... kasiin vote bu ... 🤕