Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Bicara Dengan Bia


"Enak?" tanya Bia saat Dira tengah makan di meja balkon. Balkon kamar Dira memang luas. Di sisi kanan ada sofa dan ayunan rotan. Sementara di sisi kiri ada meja kaca dan dua kursi. Di tengah sana ada kolam renang meski tak sebesar yang ada di halaman.


"Enak banget. Kamu yang masak?" tanya Dira. Bia mengangguk.


"Kenapa baru pulang dan kenapa Divan datang dijemput Kak Daren?" tanya Bia langsung pada masalah.


"Karena masalahnya besar, selesainya malam. Karena tahu akan pulang malam, jadi aku tak jemput Divan. Maaf," ucap Dira enteng.


Bia mengangguk-angguk. Tadinya ingin marah, mendengar penjelasan itu membuat marahnya hilang. "Makan yang banyak suamiku. Sekarang gendut jadi makin gendut. Kan bagus," ucap Bia.


"Kenapa?" tanya Dira basa basi.


"Biar tukeran kamu yang gendut dan aku yang langsing," jawab Bia sambil menepuk perutnya.


Tawa mereka terdengar memecah heningnya malam di balkon. Bulan mengintip dari awan yang menghiasi malam dan putihnya tersembunyi oleh kegelapan.


"Aku mau bicara," ucap Dira. Ia menyimpan sendok dan minum air putih yang sudah Bia siapkan. Makanan di piring sudah habis. Dira menutup dengan melap mulutnya menggunakan serbet.


"Apa?" tanya Bia penasaran. Ia menyimpan dagu di atas kedua telapak tangannya.


"Ini sedih loh buat kamu. Gak apa?" tanya Dira.


Bia manyun. Padahal ia pikir Dira sudah bisa membeli rumah masa kecilnya. "Aku siap," tegas Bia. Kali ini Bia duduk dengan tegak sambil mendengarkan Dira.


Dira mengatur napas. Kalimat yang ia sudah susun selama mandi akan ia gunakan untuk membuka masalah ini. "Dengan ini mungkin kamu akan membenci orang tuaku. Kamu akan membenci orang tuamu. Mungkin juga kamu akan benci dirimu sendiri. Hanya saja, ingat apa yang sudah kamu lalui hingga di sini. Kamu kehilangan orang tua, kamu dibully, kamu hamil diluar nikah, kamu membesarkan anak sendiri, disembunyikan dari publik, suami kamu dihujat, kamu menolong Cloena dan menyadarkannya. Menurut kamu untuk apa?"


"Biar aku kuat," jawab Bia.


Dira mengangguk. "Iya, kamu harus kuat. Karena kamu sudah sampai di sini. Hanya ingat, aku sudah bilang padamu. Aku tak akan pernah meninggalkanmu," tekan Dira.


Mendengar ucapan Dira, tak tahu kenapa Bia langsung merasakan firasat buruk. "Lanjutkan saja, aku siap."


"Kamu sayang bunda?" tanya Dira.


Bia mengangguk dengan tegas. "Iyalah, bunda itu ibuku. Dia yang melahirkan Bia, menjaga Bia dan mengasuh juga."


"Kak David bukan anak ayah?" tanya Bia.


"Dan kamu bukan putrinya bunda."


Bia menarik napas panjang. "Lalu aku anak siapa?" tanya Bia. Akta kelahiran Bia yang sebenarnya sudah ada di tangan Dira. Kini akta itu ditunjukan Dira pada Bia. "Ini papah yang simpan. Andriana Saphira Louis, nama kamu yang sebenarnya. Kamu gak lahir di Emertown, tapi di Heren," ungkap Dira.


Lebih dari itu, Bia kaget melihat nama Mayen dalam akta itu. "Mayen Regi?" tanya Bia masih bingung.


"Ibunya Ceril, wanita yang kita temui di mall waktu itu," tambah Dira.


Sempat terdiam Bia beberapa saat. Air matanya mengalir, tak lama ia menghapus itu. "Ayah pasti punya alasan melakukan ini?" Setiap manusia punya alasan mengapa melakukan kesalahan. Dira ada alasan kenapa meninggalkan Bia, Bia juga punya alasan menyebunyikan Divan. Marah tanpa tahu alasannya hanya akan menimbulkan amarah yang salah. Seperti amarah Bia yang menyembunyikan Divan dari Dira dan Dira yang pergi dari hidup Bia.


"Ibu kamu jatuh cinta pada seorang pria. Dia atasan ayah di kantor. Hanya, karena orangtua pria itu tak merestui, mereka tak bisa bersama. Ibu kamu menikah dengan ayah atas keinginan kakek dan nenek dari ibumu. Menikah dengan pria tak dicintai, kamu tahu sendiri ujungnya bagaimana."


"Dia mengkhianati ayah?"


Dira mengangguk. Wajah Bia sudah terlihat pucat. "Ibumu bertemu lagi dengan pria itu sebulan setelah kamu lahir. Mereka mulai berhubungan lagi hingga dia meninggalkan kamu juga ayah," ungkap Dira semakin dalam.


Bia harus mendengar semuanya. Bagaimana ia dibawa ke Emertown untuk menyembunyikan diri agar Mayen tak memberikan pengaruh buruk pada Bia. Bagaimana bunda datang dalam hidup Ana lalu menjadi pasangan sehidup semati dengan Louis. Juga bagaimana Ernesto demi memenuhi permintaan sahabatnya yang sudah tiada, melindungi Bia dari Mayen.


"Kamu marah?" tanya Dira.


Bia memang meneteskan air mata. Ia menatap suaminya dengan dalam. "Gak. Aku malah senang. Lihat aku sekarang. Aku punya kamu, punya Divan dan Diandre. Keluargamu sayang padaku. Apa yang harus buat aku sedih dan marah? Bandingkan apa yang terjadi dengan Ceril. Kami punya ibu yang sama, tapi nasib kami beda. Sikap juga. Karena lingkungan kami tinggal berbeda."


Dira tersenyum. Ia tak salah menilai. Bia semakin dewasa. "Aku juga seorang ibu. Jika ia pilih pria itu dibanding denganku, itu haknya. Namun, bagaimana dengan kewajibannya? Jika kewajiban padaku tak bisa ia penuhi, ia tak punya hak atas diriku."


"Kamu tak akan menerimanya sebagai ibumu?" tanya Dira.


Bia menggeleng. "Dia tetap ibuku seperti bunda. Hanya tak memiliki hak layaknya ibu atas anaknya. Aku bisa sayang padanya seperti layaknya anak harus sayang pada seorang ibu. Hanya saja, aku tak akan memaafkan jalan yang ia tempuh. Apalagi kalau harus merugikan papah dan mamah. Aku gak akan biarkan dia terus hidup dalam kesalahan," tegas Bia.


🍁🍁🍁


yang masih punga sisa poin, bantu vote yak? biar ADA msh ada di 20 besar 😓 paling gak terakhir kalinya sblm tamat. 🙏