Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Pria Keras Kepala


"Jadi bagaimana?" tanya Bia penasaran. Ia belum mendengar cerita lengkap dari Dira tentang persoalan yang dialami. Beberapa hari ini Dira juga sering merenung kalau sendiri.


"Sudah kutanyakan pada papah. Kecurigaanku salah, hanya dia tetap tak ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," jawab Dira.


"Memang ada apa, sih?" tanya Bia penasaran.


Dira mengambil napas. Ia memang janji akan menceritakan semuanya pada Bia jika sudah mendapat kejelasan. "Waktu mengantar Matteo ke rumah, tanpa sengaja aku melihat papah bersama wanita. Ia memberikan sesuatu yang aku pikir uang," cerita Dira.


"Papah selingkuh?" tebak Bia kaget.


Dira menggeleng. "Aku tanya sendiri pada mamah dan mamah sendiri tahu siapa wanita itu. Dia ibunya mantan trainee yang bermasalah dengan agensiku. Papah juga yang diam-diam menuntaskan masalah trainee itu. Alasannya balas budi karena suaminya pernah menolong papah dulu," jelas Dira.


"Menolong bagaimana?" Bia semakin penasaran.


"Kamu tahu sendiri bagaimana perebutan kekuasaan dalam perusahaan keluarga. Papah pernah kehilangan sebuah dokumen. Jika sampai bocor ke publik, itu bisa menjadi masalah besar dan membuat otoritas papah di KG terancam. Suami Mayen itu yang mencari sekuat tenaga dan menemukannya. Sehingga posisi papah aman," cerita Dira.


Bia mengangguk-angguk. Maria juga sempat bercerita jika saat itu Ernesto masih menjabat sebagai direktur di sana dan posisinya masih labil meski sudah dicalonkan sebagai chairman. Masih banyak saingannya dan kebanyakan berada di jabatan CEO.


"Kejadiannya sudah lama?" tanya Bia penasaran.


Dira mengangguk. "Katanya waktu itu aku saja belum lahir dan Daren masih belajar jalan. Lama sekali. Kalau dihitung-hitung teknologi juga belum terlalu maju dan masih sulit menggandakan apalagi mencari dokumen resmi yang hilang," jelas Dira.


Sekitar tahun 96an. Laptop saja waktu itu tebalnya masih melebihi tebal skripsi juga novel Harry Potter. "Jadi masalahnya hanya selesai sampai situ?"


Dira menggeleng. "Bagi Daren iya, bagiku tidak. Mungkin memang pantas jika papah sampai membiayai hidup mereka berdua karena hutang budi. Hanya hutang budi ada batasnya. Mereka terlalu tamak. Uang yang papah berikan setiap bulan cukup besar, tapi ia masih membiarkan putrinya menjual diri demi menjadi artis."


"Seperti apa gaya hidup mereka?" tanya Bia semakin penasaran.


"Dia tinggal di rumah mewah. Uang yang papah berikan juga dibelikan barang-barang mahal dibanding memenuhi kebutuhan hidup. Papah juga sudah mengeluh akan hal itu. Aku sudah nasehati agar berhenti saja karena urusan hutang budi juga ada batasnya jika yang dibalas sudah mulai tak tahu diri. Hanya papah bilang, dia harus membungkam mereka untuk sebuah alasan yang akan ia tutupi hingga papah meninggal," jelas Dira.


Bia menggeser tubuhnya agar duduk menghadap Dira. Terdengar suara sofa yang bergesekan dengan celana jeans Bia. Pasangan itu memang sedang santai karena kedua putranya sudah tidur meski baru pukul tujuh malam.


"Terus kamu dapat petunjuk?" Bia penasaran sampai seberapa nekatnya suaminya itu untuk masalah ini.


"Hanya satu. Papah bilang dia punya hutang budi pada suami ibu itu, tapi dalam akta kelahiran ... anaknya tak punya ayah. Hanya terdaftar atas nama ibu," ungkap Dira.


"Artinya dia bukan lahir dari pernikahan yang sah. Seperti Divan dulu. Gak punya suami."


Dira mengangguk. Ia matikan lampu kamar dengan remote di atas nakas. Hanya lampu tidur yang menyala. Lumayan membuat rileks otak. "Itulah, apa ayah anak itu meninggal sebelum menikahi ibunya? Maksudku, anggap saja seperti kita. Mereka hidup bersama sebelum menikah."


"Bisa begitu. Lalu anehnya apa?" tanya Bia yang tak mengerti hal aneh apa yang harus Dira cari.


"Kenapa pria itu meninggal?" tekan Dira. Ia menatap lurus ke depan diantara remangnya lampu kamar. Satu hal, ia lebih takut papahnya terlibat dalam hal itu atau mungkin, penyebab pria itu meninggal karena menolong Ernesto.


"Ah, kepalaku pusing," keluh Dira sambil menyandarkan tengkuk di sandaran kursi.


Bia memijiti kening Dira. "Makanya kamu itu jangan kelewat penasaran dengan sesuatu. Detektif juga bukan," omel Bia. Dira menarik tangan Bia lalu merebahkan kepala di bahu istrinya.


"Mah, bikin anak lagi mau?" tawar Dira.


Bia menggeleng. Ia cubit pipi suaminya. "Mana ada! Diandre saja bikin aku pusing setiap hari. Kamu tahu gak anak kamu tadi gimana?" tanya Bia.


Dira menggeleng. "Dia terjun ke kolam renang. Aku sampai menjerit dan nangis. Mana aku gak bisa renang. Eh, dia malah ketawa-ketawa sambil ngambang dan berenang ke pinggir," curhat Bia.


Dira tertawa. "Emang Diandre bisa berenang. Kamu gak tahu memang? Ibu macam apa kamu itu," ledek Dira.


Mungkin karena sejak bayi sering Dira ajak baby spa hingga berenang di kolam, Diandre bisa berenang sendiri. Divan malah baru bisa berenang di usia tiga tahun. "Tinggal ibunya saja yang payah masih takut air," ledek Dira lagi.


"Aku bukan takut, tapi trauma," tekan Bia.


🍁🍁🍁