Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Jarak Di Antara Mereka


"Dia makin ganteng, ya?" puji salah satu mahasiswi di kampus itu.


"Sudah itu cerdas lagi. Dia sudah S2, kan? Mana di Harvard lagi! Padahal dia masih seuisia kita, loh!" timpal mahasiswi lainnya.


Mereka selalu menjadikan Divan Kenan sebagai topik pembicaraan utama. Apalagi ketika Divan memasang foto baru di story dan feednya. Bayangkan saja, kemarin saat Divan tanpa sengaja foto di samping tempat sampah dengan bentuk dino, para wanita berbondong-bondong membelinya secara online.


"Aku mau jadi istrinya," mimpi salah satu diantara geng mahasiswa itu. Ia terlalu bersemangat sampai saus kentang gorengnya jatuh dan meninggalkan noda di sepatu.


"I-ih! Kotor," keluhnya dengan suara centil. Ia melihat ke belakang. Ada seorang gadis dengan rambut sedikit melebihi bahu. Anak perempuan itu tengah belajar. Meski tak bisa ikut program akselerasi, ia akan berusaha dapat IPK tinggi.


"Heh, Davina! Sini!" panggil mahasiswi itu. Davina mendongak. Ia tak menunggu lama. Takutnya membuat geng itu marah dan mengerjainya lagi. Davina tak bisa melawan karena ia hanya sendiri.


"Kenapa Raya?" tanya Davina.


Raya melempar tissue ke lantai. "Ambil itu! Bersihin sepatuku!" titahnya.


Lekas Davina mengangguk. Ia ambil kemasan tissue basah yang Raya jatuhkan ke lantai lalu mengelap sepatu gadis itu. Sementara Raya cekikikan membahas betapa tampannya Divan Kenan, Davina duduk berjongkok di bawah untuk membersihkan sepatunya.


Tak ada yang mau menolong, satu pun. Beberapa mahasiswi juga ada yang merasa kasihan, tapi mereka juga takut. Mahasiswa apalagi, keadilan hanya milik mereka yang cantik. Davina yang punya wajah biasa saja tak ada yang peduli.


Kenyataan pedih ini tak hanya terjadi di kelas. Saat istirahat, Davina diminta membelikan mereka makanan, baru mereka izinkan gadis itu pergi ke perpustakaan. Davina juga tak berani bicara pada orang tuanya. Orang tua Raya, atasan papahnya di kantor. Ia takut papah tirinya mendapat masalah hanya karena dia.


Getar ponsel terasa dari tasnya. Davina membuka sleting tas lalu mengeluarkan ponselnya. Tepat seperti perkiraan, itu video call dari sahabatnya.


"Divan," sapa Davina sambil berbisik. Ia tak mau ada yang tahu ia dekat dengan Divan. Mereka pasti akan memanfaatkannya.


"Kamu lagi di mana?" tanya Divan yang tengah duduk di halaman kampus. Terdengar suara obrolan para pria di sana. Lain dengan Davina yang hanya diam dalam kesunyian di halaman belakang kampus.


"Aku lagi belajar. Di sini sepi jadi nyaman," jawab Davina.


Meski tersenyum, Divan masih bisa melihat raut kesedihan dari gadis itu. "Ada apa? Ada yang jahatin kamu?" tanya Divan.


Davina menggeleng dengan cepat. "Gak, kok. Teman kuliah Davina semua baik. Mereka juga sering nolong aku. Kamu gak perlu khawatir," dusta Vina.


"Cie, lagi pacaran, broh!" ledek Ferico.


Divan mendengus. "Yang gak pernah punya jatah telponan sama cewek emang sirik saja!"


Marcell melirik ke arah layar ponsel, lekas Divan menutup layar dengan kedua telapak tangannya. "Asli kamu punya pacar. Eih, beneran itu cewek," ribut Marcell.


"Aku pikir selama ini kamu gak normal, Van. Sok ganteng, tapi jomlo!" Yuno ikut meledek.


"Heh, sebelum ngatain orang, ngaca dulu! Emang selama ini kalian punya pacar?" pertanyaannya membuat seluruh sahabatnya kalah telak.


"Kamu tahu sendiri, ada yang aku tunggu jauh di sana," timpal Yuno.


Divan mengedip-ngedipkan mata. "Itu hidup apa naskah drama," ledeknya sambil mengusap wajah Yuno.


Davina hanya cekikikan sendiri mendengar pembicaraan geng enam jojoba alias jomlo-jomlo bahagia itu. "Aku ingin kayak papah dan mamah, jodohnya dikenal dari kecil. Makanya aku mau jemput calon istri ke Heren dulu!"


ucapan Divan mengena langsung ke jantung Davina. Wajah gadis itu merona. Tak lama ia kaget karena wajah Divan kembali muncul di layar.  "Kayaknya aku harus cari tempat sepi dulu. Temanku itu menyebalkan," keluh Divan.


Davina mengangguk. Divan mengusap layar. "Kamu sakit?" tanya Divan.


"Gak kok."


"Kok wajah kamu merah gitu? Kalau demam istirahat, Vin. Jangan maksain diri kamu."


"Beneran Divan. Aku baik-baik saja. Mungkin karena musim gugur, dingin. Ini mana aku lagi di luar. Jadi terasa banget anginnya." Kembali Davina berdusta.


Ia tak ingin menggantungkan harapan terlalu tinggi. Hanya Divan selalu dengan mudah mambuat jantungnya berdebar. Bukan karena wajah tampannya dengan rahang tegas, tetapi kebaikan hati dan juga perhatiannya pada Davina. Divan selalu menepati janji. Meski sejak TK mereka tak pernah bertemu lagi, ia selalu menelpon Davina setiap hari.


"Kamu harus jaga kesehatan kalau udara dingin begini. Aku jadi kangen Heren. Seperti apa ya sekarang kota itu?" tanya Divan.


"Masih sama saja, banyak gedungnya. Divan kapan kembali ke sini?" tanya Davina.


Divan terkekeh. "Kalau sudah ada surat izin menikah dari papahku," jawabnya.


Kembali wajah Davina merona. "Memang kamu sudah mau nikah?"


"Kenapa gak? Papahku nikah usia dua puluh satu tahun. Malah lulus SMA mereka sudah punya aku. Mereka bahagia saja. Aku juga iri," jelas Divan. Davina mengangguk. "Memang kamu gak mau nikah muda?" tanya pria itu.


Davina tertegun. "Mau," jawabnya dengan wajah malu.


🍁🍁🍁