Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kita Lalui Bersama, karena ada kamu sekarang di sini


Jared berjaga di depan pintu toilet wanita. Ia juga meminta bantuan satpam untuk membantu karena banyak orang yang semakin penasaran karena Divan. Banyak yang mengerti permintaan Bia dan sisanya masih membandel.


Bia sampai diikuti ke toilet padahal Divan sudah menangis karena ketakutan melihat kilatan lampu kamera yang bersahutan dan orang-orang yang berkerumun.


"Gimana ini, Mel?" tanya Bia bingung.


Melvi sama saja. Seumur hidup boro-boro viral, dipanggil pake nama oleh pelanggan toko roti saja sudah langka.


"Kamu telpon Dira. Minta bantuannya."


Bia menepuk jidat. Ia juga masih sibuk menenangkan Divan di pangkuannya. "Aku sama Dira lagi diem-dieman gimana nelponnya?"


"Ini buat Divan. Kalian orang tuanya. Tentu kalian harus kerjasama," saran Melvi.


Bia melihat Divan yang terisak-isak. "Mah, takut," ucap Divan. Tangannya erat memegang bahu Bia.


Sungguh ia tak tega melihat putranya begitu. Bia lekas mengambil ponsel di tas lalu menelpon suaminya. Sayang, sudah tiga kali menelpon, Dira tak juga mengangkat telponnya.


"Kamu di mana, sih? Anak kamu lagi butuh kamu," batin Bia.


Divan menyembunyikan wajah di lekukan leher Bia. Tangisnya masih pecah. "Papah! Papah!" panggilnya dengan suara yang sama seperti dulu ia memanggil Dira dalam tidurnya.


"Gimana?" tanya Melvi.


"Gak diangkat, Mel. Ini gimana?" Bia kebingungan. Sekarang ia malah semakin panik karena melihat keadaan Divan.


"Asistennya?" ide Melvi.


Lekas Bia menelpon Matteo. Sempat lama diangkat hingga akhirnya terdengar suara Matteo. "Ada apa, Nyonya?" tanya Matteo ramah seperti biasa.


"Dira mana, Teo?" tanya Bia.


"Ada, lagi makan sore. Kenapa?"


Rasanya Bia naik pitam mendengar itu. Ia menelpon hingga tiga kali dan tak diangkat. Ia pikir Dira kerja, nyatanya sedang santai.


"Bilang aku sama Divan sembunyi di toilet dekat taman kota Heren. Kita dikejar-kejar orang. Divan sampai ketakutan dan gemetaran," jelas Bia panjang lebar.


"Apa? Kok bisa begitu? Ah, nanti saja yang penting kalian keluar dari situ. Aku bilang pada Dira dulu."


Matteo mematikan ponselnya. Bia menggigit bagian bawah bibirnya. Sementara itu Divan masih memanggil Dira sambil memeluk Bia erat. Terasa jelas bagaimana berat napasnya disela tangisan yang tak mereda. "Anakku," panggil Bia.


Bia merasakan getaran di ponselnya. Telpon dari Dira. Lekas Bia mengangkatnya.


"Kamu di mana?" tanya Dira langsung to the point.


"Di taman kota. Aku sembunyi sama Divan di toilet," jawab Bia sambil terisak. Nada suaranya terdengar berat.


"Ambil napas dulu. Keluarkan pelan. Tenangin diri kamu dulu. Kalau kamu panik, Divan juga," nasehat Dira. Bia mengangguk. Ia menuruti saran Dira. "Divan gimana?" tanya Dira lagi.


"Itu, Divan ketakutan sampai gemetaran. Wajahnya juga pucat. Aku takut dia sakit. Cepat tolong kami. Aku gak tahu harus bagaimana."


Dira mengembuskan napas panjang. "Aku ke sana sekarang. Ini lagi jalan ke parkiran. Kalian tunggu di sana, ya?"


"Jangan kamu. Nanti ketahuan," saran Bia.


Dira menggeleng. "Aku gak peduli. Sekarang prioritasku kalian berdua."


"Jaga anak kita sampai aku datang, ya?" Mobil dipacu dengan kencang. Kepanikan Dira semakin meningkat tat kala ketika ia menelpon Bia mendengar Divan memanggil Papah. Hatinya merasa tersayat-sayat. Ingin ia lekas tiba di sana.


...🍁🍁🍁...


"Mah, Papah mana?" tanya Divan. Bia mengusap pipi Divan. "Divan, mau Papah. Divan takut."


Bia mengusap rambut Divan dan mengusap punggungnya. Sementara itu mobil Dira berhasil tiba di parkiran taman. Ia keluar dari mobil bersama Matteo.


Dira menelpon Bia dan menanyakan letak toilet tempat mereka bersembunyi. Setelah yakin, Dira berjalan ke sana dengan Matteo.


"Kamu yakin gak minta bantuan siapapun?" tanya Matteo. Ia mencoba menelpon body guard Dira untuk berjaga-jaga siapa tahu hal menakutkan terjadi.


Dira melihat kerumunan. Ia menggeleng. "Ini yang aku takutkan. Divan masih anak-anak. Melihat orang berkumpul begini, ia pasti ketakutan."


Ketika Dira tiba di sana, perhatian orang-orang teralihkan. Mereka heran dan takjub melihat Dira ada di sana dan dekat dengan mereka.


"Bia mana?" tanya Dira pada Jared yang sedang berjaga di pintu. Ia menunjuk pintu dan membukanya agar Dira bisa masuk. Sementara Matteo berjaga di luar.


"Papah!" panggil Divan ketika melihat Dira muncul di sana. Lekas Dira menggendong putranya dan mengecup kening Divan.


"Jangan takut, sekarang ada Papah di sini," ucap Dira menenangkan. Divan menelusup dalam pelukannya mencari perlindungan.


"Ayo bawa Divan pulang," Bia ikut mengadu.


Dira mengangguk. Ia gendong Divan dan menuntun Bia keluar dari toilet. Ketika pintu terbuka, pemandangan keluarga kecil itu jelas membuat orang-orang terdiam heran. Mereka sebelumnya melihat anak itu digendong Hugo. Kini, Divan digendong Dira. Bagian paling aneh, ibu anak itu dituntun oleh Dira.


Syukur bodyguard Dira sudah datang. Mereka membuat tameng hingga Dira dan keluarganya tiba di mobil dengan selamat meski kesulitan dan memakan waktu lama.


"Papah! Takut!" Divan sempat histeris ketika mereka menembus kerumuman. Sampai di dalam mobil, Dira membuka jaket dan menutupi kepala Divan dengan jaketnya lalu memeluk erat putranya.


"Tak apa, sayang. Papah di sini."


Matteo masuk ke dalam mobil lalu mulai menyalakan mesinnya. Mobil itu mulai meninggalkan parkiran.


"Kenapa bisa begini? Biasanya juga tidak ada yang peduli dengan anakku. Kenapa sekarang mereka mengejar Divan?" tanya Bia bingung.


Dira menghela napas. "Karena postingan Hugo. Mereka penasaran siapa Divan. Sudah aku tebak ujungnya akan begini. Mulai sekarang jangan keluar rumah dan jangan menonton televisi juga sosial media. Kamu bisa syok."


Bia melihat Divan di gendongan Dira. Ia mengusap punggung putranya. "Apa mereka akan membenci anak kita kalau tahu dia anakmu?" tanya Bia khawatir.


Tangan Dira membelai rambut Bia. "Apapun itu hanya akan bertahan sebentar. Kamu tak perlu mendengarnya. Cukup diam dan tutup semua akses di mana kamu bisa baca dan dengar komentar mereka. Setelah ini, kehidupan kita akan lebih berat."


"Apa tak akan apa-apa?" tanya Bia. Ia gemetaran. Bukan dirinya, ia takut karena Divan.


Dira memegang tangan istrinya. "Saat kamu hamil dan dunia meninggalkanmu, apa kamu takut?" tanya Dira.


"Tentu saja," jawab Bia.


"Tapi kamu bisa melewatinya meski sendiri, kan?" tanya Dira. Bia mengangguk. "Kalau sendiri saja kamu bisa, apalagi sekarang. Ada aku di sini. Aku tidak akan biarkan siapapun menyakiti kalian berdua."


Matteo melihat dari kaca spion. Meski tahu ia juga akan menghadapi pertanyaan masyarakat, ia lega karena keadaan rumah tangga Bia dan Dira kembali membaik.


🍁🍁🍁


Yang Belum Baca Kisahnya Biru dan Langit, yuk baca kisah mereka di bride of the heir di wpnya : elara_murako