Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Pria di Lift


"Tunggu di sini, Nyonya Dira," pinta Matteo. Bia mengangguk. Ini pertama kalinya ia datang berkunjung ke apartemen yang dulu Dira tempati.


Bia memutar di ruangan tengah apartemen yang sudah kosong. Beberapa pekerja datang mengambil barang-barang dari sana untuk dipindahkan. Mulai bulan depan, ada orang lain yang akan menempati.


Bia berjalan ke samping gorden putih yang menutup jendela balkon. Tangannya sedikit menyeret gorden itu untuk melihat pemandangan di luar. Ia berdecak kagum. "Ouh, jadi begini rasanya melihat pemandangan di apartemen?"


Malam ini Bia akan pulang ke Emertown bersama Dira dan Divan. Karena itu untuk terakhir kali, Bia ingin jalan-jalan melihat kota ini. Kebetulan Matteo dan Kalvis bilang akan mengosongkan apartemen Dira. Penasaran, Bia ikut saja. Jangan ditanya Divan di mana, ia sedang pesta perpisahan dengan sepupunya.


"Kalau ingin pulang, biar saya antar Nyonya," tawar Kalvis. Bia berbalik lalu menggeleng.


Mendadak Bia ingat akan sesuatu. "Kal, di apartemen ini ada minimarketnya, kan? Aku belikan camilan untuk kalian berdua, ya?" tawar Bia.


"Jangan Nyonya Dira, lagi pula bahaya kalau ketemu Nenek sihir. Apartemennya ada di bawah. Kalian bisa ketemu di lift atau di lobi," Kalvis memberi peringatan.


Bia menggeleng. Ia menunjukkan topi dan maskernya. "Ini cukup buat sembunyi dari wanita sombong itu. Memang apartemennya di lantai berapa? Biar aku hati-hati."


"Lantai dua puluh. Kalau lift tiba-tiba berhenti di sana, waspada."


Setelah berkata demikian, Bia berjalan keluar apartemen Dira. Tak lupa ia kenakan topi juga masker. Apartemen Dira berada di lantai paling atas. Di lantai ini hanya ada dua apartemen milik Dira dan seorang pengusaha. Bia berjalan menuju lift. Ia tekan tombol benda itu hingga pintunya terbuka.


Liftnya kosong. Bahkan turun beberapa lantai masih Bia sendiri di sana. Memasuki lantai hampir menyentuh dua puluh, Bia mendadak berdegup. Bukan hal lucu juga kalau dia benar bertemu Cloena dan adu jambak di dalam lift.


Sayangnya, apa yang dia takuti terjadi. Lift berhenti di angka dua puluh. Bia sudah waspada. Ia siapkan seluruh energi di tubuhnya. Ting ... pintung lift terbuka dan ternyata itu bukan Cloena, tapi seorang pria berjas hitam. Pria itu masuk ke dalam lift sambil membetulkan jasnya lalu berdiri membelakangi Bia.


"Syukur itu penghuni apartemen lainnya." Bia mengusap dada. Hingga lantai terbawah, Bia selamat dari cengkraman Cloena. Lekas Bia berlari keluar menuju pintu kaca dimana langsung terhubung ke mini market dan cafe.


Bia sempat berbalik dan lagi melihat pria berjas yang satu lift dengannya sejak lantai dua puluh. "Wah, pria kaya sekarang lumayan tampan-tampan, tapi lebih tampan suamiku," pikirnya lalu tersenyum geli.


Bia membeli beberapa snack dari sana. Ia tahu benar camilan Kalvis dan Matteo akibat sering menyuguhkan mereka camilan kalau sedang berkerja dengan Dira di rumah. Ponsel Bia mendadak berdering. Ada telpon dari suaminya. Bia tersenyum senang dan lekas dia ngakat.


"Halo, nyari siapa?" tanya Bia bercanda. Terdengar kekehan Dira nan jauh di sana. "Jangan lupa passwordnya."


"Nyonya beruang ada?" tanya Dira ikut bercanda. Terdengar suara angin yang berhembus dari sana di telinga Bia. "Nyonya beruang sedang apa?"


"Kamu di mana, Yang? Kok ada suara angin kencang gitu? Gak niat bunuh diri, kan?" tanyanya seenak jidat.


"Hus, enak saja. Ini aku lagi jemput Divan di lapangan golf. Sekalian saja ikutan. Habis rencana ketemu Haley Alvonz gagal. Katanya dia ada janji di luar. Yah, namanya mau ketemu pengusaha. Salahku sendiri gak buat janji," jelas Dira.


Bia mengangguk-angguk. "Aku lagi di mini market beli camilan buat Kalvis dan Matteo. Di apartemen kamu," timpal Bia.


Dira mengangkat alis. "Ngapain kamu di situ?" tanya Dira kaget.


Bia tertawa puas. "Gak ketemu sama tante galak, kok. Santai saja," jawab Bia enteng.


Terdengar suara Dira mengembuskan napas dengan berat. "Cepat pulang, aku juga gak lama di sini. Masih maksa Divan pulang. Kita berangkat jam delapan malam ini, kan?"


"Iya, Pak Ganteng. Siapa laksanakan perintah darimu."


Setelah itu ia menutup telponnya. Bia kembali ke lantai atas untuk memberikan camilan dan izin pulang. Ia berencana naik taksi agar tak menganggu pekerjaan Kalvis dan Matteo.


"Makanan datang! Bapak-bapak yang bantu juga makan, ya?" ajak Bia pada pekerja yang mengangkut barang-barang Dira. Ia juga membelikan camilan untuk pelayan perempuan yang bantu membersihkan apartemen.


"Nyonya Bia baik sekali, ya?" bisik salah satu pelayan wanita pada temannya. Orang yang ia ajak bicara langsung mengangguk setuju.


"Lain sekali dengan Nona Cloena. Dia sangat baik dan lembut persis yang Tuan muda bilang di televisi. Pantas saja kalau akhirnya tuan muda milih nyonya," timpal pelayan lainnya.


Bia bahkan membantu melipat taplak juga mengemasi barang pecah belah. Pelayan di sana sampai merasa tidak enak akibat Bia memaksa melakukan pekerjaan rumah.


"Lha, dia sudah ketemu dengan Haley Alvonz? Kenapa cepat sekali?" tanya Matteo yang batu turun dari lantai atas di mana kamar Dira dulu berada.


Bia menggeleng. "Katanya karena gak janjian, Haley Alvonz tak ada di kantor. Mungkin pertemuan di luar," jawab Bia.


Ia menggaruk tengkuk. "Memang Haley Alvonz itu siapa? Kenapa Dira sering bertemu dengannya?" tanya Bia penasaran.


"Dia CEO muda yang punya perusahaan komunikasi. Dia juga yang bantu Dira mengendalikan media selama ini," jawab Matteo.


Bia mengangguk-angguk. Ia sering mendengar kata permainan media massa. Mungkin maksudnya yang sedang dilakukan Dira sekarang.


Akibat penasaran, Bia mengambil ponselnya. Ia mengetik pencarian atas nama Haley Alvonz. Beberapa pretasi, perusahaan serta foto terpampang di sana. Bia tertegun. "Ini 'kan," serunya.


Matteo dan Kalviz melirik ke arah Bia. Lekas Bia memperlihatkan layar ponselnya pada Matteo dan Kalvis. "Ini ... Haley Alvonz?" tanya Bia.


Matteo melihat layar ponsel Bia lebih dekat. Kemudian pria itu mengangguk. "Iya, itu. Dia memang masih muda," jawab Matteo.


Bia menggigit bagian bawah bibirnya. "Apa dia tinggal di apartemen ini?" tanya Bia memastikan.


Matteo berpikir sejenak. "Setahuku dia sudah menikah dan tinggal di rumah keluarganya. Dia naik jabatan karena kesehatan papahnya," jawab Matteo yakin.


Bia menggaruk rambut. "Apartemen di lantai dua puluh hanya milik Cloena, kan?" tanya Bia penasaran karena Haley yang fotonya ia lihat di mesin pencarian, yakin adalah pria yang bertemu dengannya di lift tadi.


"Ada tiga apartemen di sana. Satu milik Cloena, lalu Amber dan di sampingnya milik Hugo. Memang kenapa?"


🍁🍁🍁


😂😂 maaf ya yg kecewa krn up dkurangin. kasihanilah tanganku ini kena CTS dan sakit bgt rasanya 😭. Ouh iya aku mulai buka puzzle satu-satu sambil nambahin chapternya Aa Biru.


hmm ... BTW klo bride of the heir dibawa ke sini judulnya mau apa?




bride of the heir




terpaksa menikahi pelakor




pengantin sang pewaris tahta




pilih di komen, ya?