Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Tugas Seorang Ayah


"Aku mana bisa tidur lagi. Kamu sudah makan?" tanya Bia. Dira mengangguk. Ia memang sempat makan malam dengan rekan bisnisnya.


Bia mendekati suaminya. IaΒ  kemudian berdiri di samping kursi kerja Dira. Tadinya meja dan kursi itu ada di ruang kerja. Hanya setelah Diandre lahir, Dira memindahkan ke kamar agar bisa kerja sambil mengawasi bayinya.


"Kamu buka IG kamu lagi?" tanya Bia. Dira meraih tubuh istrinya dan mendudukan Bia di atas pangkuan. Dira memperlihatkan video yang ia buat dari gabungan foto-foto mereka dulu. Melihat itu, Bia tersenyum senang karena bisa mengingat masa lalu. Apalagi Dira masih menyimpan foto Bia dengan keluarganya dulu.


"Lihat ini rasanya baru kemarin aku belajar berpetualang sendiri. Kadang aku mikir, kenapa sih aku harus nyoba hidup sendiri sambil mengurus Divan. Kalau ingat aku sangat manja, baru sadar ... mungkin Tuhan ingin aku lebih mandiri," ucap Bia bijak.


"Tapi aku kangen manjain kamu tahu," protes Dira.


Bia terkekeh. "Kurang manjain apalagi, Pah? Kamu bawain sarapan, suapin aku, gantiin jagain Diandre sama Divan. Suami orang belum tentu pergi sama pulang kerja mau begitu."


"Tiga tahun kamu jagain Divan sendiri mana bisa kebayar sama itu. Dulu juga kamu jagain Divan sendiri sambil kerja. Apa bedanya?"


Bia mengangguk. Benar juga apa kata suaminya. Dulu ia juga pergi kerja menjaga Divan dan pulang jaga Divan lagi tak terasa lelahnya. "Kan aku orang tuanya," celetuk Bia.


Kali ini giliran Dira yang terkekeh. "Aku juga orang tua Divan dan Diandre, suami kamu juga," ucap Dira. Mereka saling bertatapan. Sudah sangat lama mereka tak bisa bermesraan. Pertama karena Bia hamil dan selama itu Dira selalu sakit pinggang. Boro-boro ingin memuaskan panggilan batin, setiap gerak saja nyerinya seperti diinjak gajah.


Setelah Bia melahirkan, Diandre dan Divan selalu mengambil jatah waktu. Paling gak malam ini Dira bisa mendapat satu saja kecupan. Bibir Dira sudah siap maju. Bia merespon kode suaminya. Ia ikut memajukan wajah mendekati Dira. Detik demi detik mereka semakin dekat hingga napas terasa suhunya di kulit wajah. Tinggal maju sedikit lagi.


"Uang Divan itu!" pekik Divan melantur, tapi berhasil membuat kedua orang tuanya mencelat dari posisi masing-masing. Dira sampai mengusap dada saking kagetnya.


Tak lama mereka sama-sama tertawa setelah sadar ternyata Divan hanya melantur. "Lagi tidur saja dia masih ingat uangnya. Dia sudah besar jangan-jangan mau nimbun harta kayaknya," komentar Dira sambil tertawa geli. Putra pertamanya itu sangat terobsesi jadi kaya raya.


"Salah kamu juga, sering ajakin dia buang-buang uang di mall. Jadinya dia keenakan, jadi mikirnya uang bisa beli kebahagiaan," komentar Bia.


Dira mengangguk. Habis kalau sudah jalan-jalan sama anak pasti lupa segalanya. Apalagi melihat mereka jika sudah dibelikan sesuatu nampak senang dan tertawa lucu.


Bia berpaling ke layar laptop Dira. Ia melihat notifikasi DM IG Dira yang sudah memiliki angka hingga deretan delapan angka plus. Iseng, Bia membuka DM itu. Dira hanya memperhatikan apa yang istrinya lakukan.


"Kamu kenapa jarang buka DMnya? Mungkin mereka fans kamu." Ia scroll ke pesan paling bawah. Banyak makian yang Dira terima, tapi semakin waktu berlalu pesan-pesan itu berisi ungkapan rindu.


Aku rindu suaramu-


Kapan konser lagi, kak?-


Kembalilah, tak ada yang bisa menggantikanmu.-


Bia meneguk ludah. Betapa banyak yang menyukai suara suaminya. "Kamu gak ada niatan nyanyi lagi?" tanya Bia.


Dira menyandarkan punggung ke kursi lalu menggeleng. "Tak tahulah! Mungkin karena sudah terbiasa dengan kehidupan sekarang, aku lupa kalau pernah jadi artis," jawabnya datar seperti sudah ikhlas dengan jalan yang ia ambil kini.


Bia menunduk. Ia merasa bersalah karena menjauhkan Dira dengan cita-citanya. Padahal, Bia yang paling mendukung Dira dulu. Tanpa sadar, Bia juga rindu melihat betapa bersinarnya Dira di atas panggung.


"Kalau kamu mau kembali jadi penyanyi juga gak apa-apa. Aku dukung kok," seru Bia.


Dira menggeleng. "Sudah punya anak dua, rasanya malu kalau masih disorakin gadis-gadis. Lebih dari itu, Bi. Takut oleng. Kamu gak tahu sih gimana dunia itu. Banyak yang ujung-ujungnya ninggalin anak istri karena cinta lokasi."


"Itu bagaimana niat kamu, Pah. Kalau niatnya hanya untuk berkarya ya gak apa-apa. Jangankan dunia artis, kalau niat selingkuh bahkan di kantor saja banyak yang cinta lokasi. Guru kita waktu SMA juga ada yang selingkuh, ingat kan?"


Dira mengangguk. Lucunya ia dan Bia memergoki gurunya bersama wanita lain di saat mereka juga dipergoki guru itu tengah mojok berduaan di tempat karoke.


Apa yang Bia katakan ada benarnya juga. Hanya saja Dira sudah malas dengan jadwal yang berjibun. "Kalau kembali nyanyi, aku gak mau masuk label. Sayangnya kalau gak masuk agensi, artinya aku gak bisa nyanyiin lagu yang hak patennya sudah milik mereka. Artinya harus nulis lagu baru dan itu akan lama sekali. Memikirkannya aku sudah malas sendiri."


Dira melingkarkan lengan di perut Bia. Kepalanya ia sandarkan di bahu istrinya itu. Bia mengusap-usap rambut Dira. "Aku dengar kamu mau keluarin produksi pakaian?" tanya Bia.


Dira tertegun. "Kamu tahu dari mana?" tanya Dira bingung karena seingatnya belum memberi tahu masalah itu.


"Ezra yang bilang. Katanya kamu punya ide bikin brand pakaian sendiri karena lebih membawa untung untuk Kenan Manufacture."


Dira mengangguk. Kenan Manufacture selama ini hanya memproduksi kain. Harga kain kadang dibeli murah oleh tempat produksi pakaian. Karena itu, Dira ingin menggunakan namanya agar nilai jual kain Kenan Manufacture jauh lebih tinggi. Hanya saja ia belum menemukan brand pakaian seperti apa yang akan ia kenalkan pada publik.


🍁🍁🍁