
"Davina, hati-hati! Ingat kalau mereka jahat lagi sama kamu, bilang kakak!" tegas Silvina.
Saat kecil dulu, Silvina memang agak sulit menerima adik tirinya itu. Namun, semakin lama perasaan mereka terbina sendiri. Apalagi sejak mereka punya adik laki-laki. Kini keduanya malah seperti layaknya adik dan kakak sedarah.
"Kakak juga, jangan terlalu capek," balas Davina.
Lekas Davina turun dari mobil. Tak lupa menutup pintu mobilnya. Silvina masih mengawasi adiknya dari mobil. Davina terlalu berperasaan hingga mudah kalah oleh orang-orang jahat. Manusiawi. Tak semua orang kuat. Kalau tak ada orang yang mengalah, dunia ini tak akan pernah damai.
Sejauh ini masih baik-baik saja. Silvina mengirim pesan pada salah satu kenalannya di kampus. Gara-gara beberapa hari lalu memergoki Raya dan gengnya mengerjai Davina, Silvina jadi protektif.
Kalau wanita gila itu mengerjai adikku lagi, pastikan rekam. Biar aku viralkan. Biar tahu rasa dia karena menyakiti adikku.
Yakin sudah menitipkan Davina pada orang yang bisa dipercaya, barulah Silvina pergi dari tempat itu.
Mahasiswa kampus Davina hari ini sedang ada kegiatan bersih-bersih taman. Ini sudah program pemerintah dan setiap tahun mahasiswa diberi giliran membersihkan fasilitas umum.
Itu alasan kenapa Davina hari ini berjalan sambil membawa polibag di tangan. Meski masih jauh dengan pusat taman kota, ia sudah kibarkan polibagnya.
"Aw!" pekik seseorang yang menabrak polibag Davina akibat tak melihat dengan baik ke jalanan. Davina kaget. Sementara orang yang menabrak polibagnya jatuh tersungkur ke jalan setapak yang mengelilingi taman.
"Maaf. Aku gak sengaja. Lagi pula kenapa naik skateboard di sini. Ini tempat pejalan kaki," nasehat Davina.
Pria yang menabraknya mendongak. Sejurus kemudian rambut Davina tertiup angin. Pipi yang sedikit tembam, kulit putih seperti salju dan bibir yang merah muda merona. Pemandangan wajah Davina membuat pria itu mematung.
"Kamu gak geger otak kan?" tanya Davina sambil melirik setiap sudut wajah pria itu. Ia lihat tangan dan sikutnya takut pria itu terluka. Sejauh ini baik-baik saja. Hanya .... "Skateboardnya!" pekik Davina kaget.
Skateboard pria itu patah akibat bertabrakan dengan tembok pembatas lahan taman. Pria itu bangkit, mengusap rambut agar tertata posisinya lalu mengulurkan tangan. "Diandre! Salam kenal!" ucap si buaya ompong dengan suara yang dibuat ngebass.
"Skateboard kamu gimana?" Sementara Davina masih terpaku dengan benda yang rusak yang menurutnya ia memiliki andil atas masalah itu.
"Gak apa-apa. Hanya skateboard bisa beli. Yang paling penting itu pertemuan kita terjadi karena ini. Jauh lebih berharga daripada benda ini." Diandre melempar papan skateboardnya ke tempat sampah.
Davina memutar bola matanya. "Kamu itu!" bentak Davina. Ia berjalan ke tempat sampah dan memindahkan skateboard patah itu ke tempat sampah merah. "Ini tempat sampah organik. Apa kamu gak diajari hal kayak gini?" omel Davina.
Diandre melipat tangan di depan dada. "Benar-benar mamah Bia dari sisi manapun. Imut, ngambeknya lucu dan taat aturan. Aku suka!" pujinya.
Jelas sikap Diandre justru membuat Davina merasa tak nyaman. "Kalau kamu baik-baik saja dan gak butuh diganti mainannya, aku pamit!"
Lekas Davina mengambil polibagnya lagi. Namun, plastik itu malah terbang tertiup angin. "Polibag!" teriak Davina sambil mengejar polibagnya.
Diandre tersenyum mendapat kesempatan emas. Ia berlari lebih kencang dari Davina dan menangkap polibagnya. "Ini. Bilang makasih dulu, donk!" Diandre melipat poligag dan memberikannya pada Davina.
"Makasih," ucap Davina dengan judesnya.
"Gak terima ucapan terima kasih tanpa senyum cantik di wajah imut itu," tegas Diandre. Ia sengaja mengangkat polibag hingga ke udara. Davina melompat berusaha mengambil plastik hitam itu. Hanya tubuh Diandre masih jauh lebih tinggi darinya.
Lelah menghadapi anak itu, Davina mendengus. Ia tersenyum. "Terima kasih," ucapnya manis. Diandre baru memberikan polibag pada Davina.
🍁🍁🍁
"Sil!" Emelie melihat Silvina di pintu butik tempat Emelie membeli baju pengantin. Silvina tersenyum dan lekas menghampiri sahabat satu kampusnya itu.
Butik itu terhitung yang paling bagus dan mahal di Heren dan khusus membuat pakaian pengantin. Perancangnya yang dulu merancang gaun pengantin Sora dan Bia.
"Belum, donk. Masih nunggu kamu. Sepupu aku juga dateng hari ini. Dia baru datang dari New York," cerita Emelie.
"Sepupu? Yang selebgram itu?" tanya Silvina. Emelie mengangguk.
Tak butuh beberapa menit, terdengar pintu butik dibuka. Kedua gadis itu melirik ke arah pintu. Divan muncul dari sana. Ia tersenyum melihat ke arah Emelie.
"Ada yang kangen aku?" tegur Divan pada kakak sepupunya. Emelie jelas langsung berteriak histeris melihat Divan yang kini benar-benar dalam wujud nyata. Tak seperti ia yang hanya muncul di video call.
Silvina tertegun. Ia sering melihat postingan instagram Divan, tapi tak menyangka pria itu setampan ini.
"Kamu kenapa baru datang sekarang, sih? Gak kangen sama kakek dan nenek?" cerocos Emelie.
"Kan aku sering telpon. Lagipula tahu sendiri papah sering sibuk. Yang penting sekarang Divan di sini," alasan Divan.
Ia melirik Silvina. "Ini sahabatku, Silvina." Emelie menunjuk sahabatnya.
Divan mengangguk. "Halo salam kenal, aku Divan Kenan," sapa Divan sambil mengulurkan tangan.
Silvina membalas uluran tangan itu. Ingat, Sil. Dia lebih muda dari kamu! Silvina mencoba meyakinkan diri sendiri. Meski jantungnya sudah berdebar tidak karuan. "Hai, aku Silvina. Temannya Emelie," timpal Silvina.
Ketiganya langsung masuk ke ruangan VIP di mana Emelie akan mencoba gaun pengantinnya. Divan duduk di sofa, tak lupa mengambil foto untuk ia buat sebagai story IGnya. Kedatang Divan ke sini tentu disambut hangat pemilik butik. Apalagi Divan menyebut nama butik mereka dalam storynya secara cuma-cuma.
"Kami merasa senang sekali Tuan Muda Kenan berkunjung ke sini. Sungguh suatu kehormatan bagi kami." Beberapa pegawai sampai meminta foto bersama.
Silvina beberapa kali menarik napas. Meski sudah menahan diri, ia tetap melirik ke arah Divan. Tahan, Sil. Ini ujian.
"Mau minum?" tawar Divan. Silvina terkaget-kaget sampai melotot matanya menatap pria itu. Divan malah tertawa. "Tenang, ini gak ada racunnya," canda Divan.
Silvina mengangguk. Ia terima jus jeruk dalam botol dari Divan. Tanganya masih memegang botol itu sambil memperhatikan saat Divan meneguk jus jeruk dari botol lain. Berdebar sudah jantung Silvina.
"Vi!" panggil Emelie. Silvina yang masih memandang Divan tak mendengar panggilan itu. Divan yang merasa ada yang salah kontan berhenti minum dan melirik ke arah Silvi.
"Kak, dipanggil Kak Emelie itu." Divan lekas mengguncang pelan lengan Silvina hingga gadis itu lagi-lagi salah tingkah.
"Ouh iya, maaf!" ucap Silvina lalu bangkit dan menghampiri emelie ke ruang ganti.
Divan terkekeh melihat tingkah Silvina. Kemudian ia menarik napas. Tanpa sengaja matanya melirik ke arah baju pengantin pria dan wanita yang masih tertata pada manekin.
Divan tersenyum dengan wajah malu. "Aku gak sabar lihat Davina pakai baju itu," pikirnya.
🍁🍁 🍁
Hai, aku elara. Ini aku share bonchap MKS yah sampai tanggal 31 nanti. 🙏 Jangan lupa sumbangin vote biar el betah di NT. makasih...
Kalau nanyain Biru, aku tepatin janji. Makanya tolong dukungannya. baca novel terbaru el nanti. satu lagi.
JANGAN NABUNG BAB
terdengar sepele, tapi akibat NABUNG BAB LEVEL penulis jadi rendah. Bukannya el banyak maunya. Hanya minta kerja sama. Biru gak aku bawa ke apk berkoin. Bisa dibaca gratis paling gak baca dengan gak NABUNG alias BACA LANGSUNG.
MAKASIH BANYAK