Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Bia dan Dira


Flashback


Ayunan di taman itu bergerak maju dan mundur. Angin bertiup menjadi kesegaran. Rambut Bia yang ujungnya hanya sampai menyentuh bahu turut bergerak. Waktu itu ia masih duduk di bangku kelas satu SMP.


Dira duduk di sampingnya, sama-sama di atas ayunan. Ini adalah tempat keduanya biasa berkumpul dan main hingga sore hari tiba. Namun, kali ini mereka saling diam. Tak tahulah, hubungan di antara mereka semakin rumit ketika keduanya beranjak semakin besar.


"Ini maksud kamu apa?" Bia menunjukan selembar kertas yang ia dapatkan terlipat di bukunya. Kertas itu berisi surat yang Dira berikan untuk Bia. Kaget tentu. Apalagi ketika dibaca, isinya ungkapan perasaan Dira untuk Bia. Ia takut surat itu palsu. Hanya Bia tahu itu benar tulisan Dira. Bia hanya ingin memastikan, sekali lagi dan meminta penjelasan.


"Aku suka kamu. Aku tahu ini mungkin bisa mengganggu persahabatan kita. Hanya saja kalau kamu nggak suka aku, anggap aku masih sama. Maksudkua, aku masih sahabat kamu. Jangan jauhi aku," jelas Dira sambil terbata-bata.


"Aku baru putus dengan Sunny," ucap Bia. Sepatah kalimat yang sama sekali tak memberi kejelasan. Di sana Dira mulai panik. Bia sendiri menatap dalam ke permukaan tanah. Ada garis yang dibuat oleh kakinya saat berayun.


Hatinya masih belum pulih. Ia masih takut berpacaran, takut dikhianati lagi oleh pria. Karena ternyata, putus sesakit itu. Hingga Bia tak mau makan, tak enak tidur. Lebih parah, Bia tak bisa menahan rasa ingin menangis terus. 


Dira diam. Ia berpikir bagaimana cara ia menjelaskan perasaan yang selalu berkecamuk dalam hatinya. Bia bukan wanita yang mudah mengerti. Lebih dari itu, selama ini mereka salah paham. "Aku suka kamu bahkan sebelum kamu bilang suka pada Sunny," ungkap Dira membuat Bia tertegun.


Kaget? Memang. Bukan hanya karena Bia tahu dia dan Dira hanya sebatas sahabat. Dira tak pernah menyatakan ini sebelumnya, karena itu Bia pikir hanya Sunny pria yang menyukainya. Selain itu, Dira juga punya sempat punya pacar.


"Kamu juga baru putus dengan Mei," ucap Bia lagi.


Mei, seorang gadis berwajah Asia pindah ke Emertown dan sekolah di SMP yang sama dengan Bia dan Dira. Ia duduk di kelas lain. Kebetulan Mei dan Dira kelasnya bersebelahan. Mei sendiri terkenal cantik. Wajahnya manis dan rambutnya panjang terurai sering dihiasi jepitan rambut.


"Aku pacaran dengannya karena dia yang minta. Aku terima karena, aku cemburu lihat kamu dan Sunny," jujur Dira. Memang itu kenyataannya.


Hari itu ketika Bia tiba-tiba datang menghampiri Dira yang sedang duduk santai dan mengobrol dengan Ezra juga Kelvin, gadis itu mengungkap hal yang menyakiti perasaan Dira. "Dir, aku dan Sunny sudah pacaran. Dia menyatakan cintanya padaku. Kupikir, aku juga suka dengannya."


Marah? Kesal? Sudah pasti. Pria mana yang tak kesal mendengar pujaan hatinya bersama pria lain. Padahal Dira sudah berencana mengungkapkan perasaan pada Bia. Dia terlambat.


Intinya, melihat Bia dan Sunny berpegangan tangan hampir setiap hari, Dira akhirnya nekat sendiri. Kebetulan Mei menyatakan cinta pada Dira tak lama setelah itu. Ia menerima cinta gadis itu dengan harapan membuat Bia cemburu.


Putusnya Bia dan Sunny membuat Dira kembali dekat dengan sabahatnya itu. Kedekatan yang membuat Mei cemburu dan berakhir memutuskan Dira.


"Aku nggak enak sama Mei." Bia mengusap kain celananya yang kotor akibat terkena debu yang tertiup oleh angin. Ia menelan ludah.


Sebenarnya sedari tadi, Bia tak kuasa menahan gejolak batin. Ia ingin Dira, maksudnya seperti Dira, Bia juga suka pada pria itu. Ia selalu menanti saat Dira menyatakan cinta padanya. Hanya karena Dira selalu diam, Bia pikir mereka hanya sahabat.


Dira turun dari ayunan. Ia berpindah, duduk saling berhadapan dengan Bia. "Apa kamu nggak suka sama aku?" tanya Dira.


"Aku suka. Sejak kecil kita sama-sama karena aku suka," jawab Bia.


"Suka saja?" Kali ini tatapan mata Dira meringsak dalam sanubari Bia.


Lekas Bia menunduk. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa tubuhnya gemetaran. "Aku cinta sama kamu juga. Hanya aku takut orang akan bilang apa."


"Kamu lebih peduli orang lain daripada aku?"


Bia mendongak. Kini tatapan Dira begitu lirih dan putus asa. "Aku sayang kamu," jawab Bia.


"Aku juga. Sayang sekali. Karena itu jangan tolak aku. Aku sudah sangat lama bersabar menunggu waktu kamu jadi milikku." Dira memegang tangan Bia.


Perlahan semua diam. Bia terkejut merasakan sentuhan bibir hangat Dira di pipinya. "Mau kamu jadi pacarku, Drabia Azura Louis?" pinta Dira.


Tak tahu kenapa, Bia mengangguk begitu saja.


🍁🍁🍁